ga('send', 'pageview');
Jelang Magrib, Api Gegerkan Blok Ikan Pasar Kandangan Peringatan 100 Hari Guru Zuhdi: Makam Ditutup, Streaming Jadi Andalan Covid-19 di Bappeda Kalsel: Puluhan Positif, Satu Meninggal Dunia Tragedi Ledakan Berantai di Beirut: Puluhan Tewas, Ribuan Luka-Luka, Satu WNI Isu Save Meratus Mencuat, Konsesi PT MCM Masih Ada di HST




Home Kalsel

Kamis, 29 November 2018 - 12:00 WIB

Baayun Maulid Museum Banjarbaru antara Nazar dan Tradisi Keluarga

Redaksi - apahabar.com

TRADISI- Aisya Humaira bayi 17 hari dari  Banjarbaru, Kamis (29/11) pagi dalam Baayun Maulid di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Ervira orangtua bayi mengaku, mengikuti Baayun Maulid ini merupakan tradisi keluarganya. Foto;apahabar/zay

TRADISI- Aisya Humaira bayi 17 hari dari Banjarbaru, Kamis (29/11) pagi dalam Baayun Maulid di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Ervira orangtua bayi mengaku, mengikuti Baayun Maulid ini merupakan tradisi keluarganya. Foto;apahabar/zay

apahabar.com BANJARBARU – Berbagai cerita menarik keluar dari mulut para peserta Baayun Maulid, di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kamis (29/11) pagi.

Mulai dari nazar kesembuhan penyakit, sampai dengan tradisi keluarga. Mewarnai cerita para peserta Baayun Maulid tahun 2018 ini.

Total ada 171 peserta, mulai dari anak-anak sampai dengan orangtua. Peserta termuda adalah Aisya Humaira, bayi yang berumur 17 hari. Peserta tertua adalah Siti Samsiah (71), warga Jalan Kaca Piring Loktabat Utara Banjarbaru.

“Saya sudah 20 tahun rutin mengikuti baayun Maulid di Museum Banjarbaru. Awalnya bernazar, jika kondisi kesehatan saya membaik setiap tahun akan terus mengikuti baayun Maulid,” ujar Samsiah (71) kepada apahabar.com

Baca juga :  Jelang Magrib, Api Gegerkan Blok Ikan Pasar Kandangan

Dia mengakui, dirinya sudah lama menderita stroke sebagian badan sebelah kanan. Samsiah bersyukur, sejak mengikuti Baayun Maulid kesehatannya mulai membaik.

Baca Juga : Korban Dioperasi Bedah Plastik 3 Kali, Polisi Bentuk Tim Gabungan

Beda halnya dengan Ervira, dia mengajak buah hatinya Aisya Humaira yang baru berumur 17 hari, karena tradisi keluarga.

“Baayun Maulid ini sudah menjadi tradisi keluarga kami. Mulai dari Datuk, Nenek, sampai anak saya semua harus pernah merasakan Baayun pada bulan Maulid. Walaupun dalam hidup hanya satu kali saja mengikutinya,” jelasnya.

Fungsional Pamong Budaya Museum Lambung Mangkurat, Slamet Hadi Triyanto mengaku, antusiasme masyarakat Banjarbaru dan sekitarnya sangat tinggi. Untuk mengikuti acara Baayun Maulid yang dilaksanakan Museum Lambung Mangkurat ini.

Baca juga :  Geger Temuan Mayat di Desa Terantang Batola, Polisi Buka Penyelidikan

“Total ada 171 peserta yang ikut, dari target kami yang hanya 160 saja. Itupun masih banyak yang mau daftar, karena keterbatasan tempat pelaksanaan, jadi kami batasi,” ujarnya.

Menurutnya, peserta saat ini masih didominasi dari Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar. Padahal tercatat di tahun sebelumnya, ada peserta dari Jawa dan Kalimantan Barat.

“Mungkin waktu itu orang dari luar Kalsel ini sedang ada acara juga, jadi sekalian ikut tradisi Baayun Maulid disini,” kisahnya.

Penulis: Zepi Al Ayubi
Editor: Fariz F

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

PSBB Banjarmasin Jilid II, Tempat Usaha Bandel Bakal Ditutup Paksa
apahabar.com

Kalsel

Dinsos Balangan Bantu Usaha Warga Miskin, Simak Perinciannya
apahabar.com

Kalsel

Menuju Mekah, Jemaah Haji HST Mulai Terserang Penyakit
apahabar.com

Kalsel

Prediksi BMKG: 9 Wilayah di Kalsel Hujan Lokal
apahabar.com

Kalsel

Gelar Razia, Polres Banjar Jaring Ratusan Pengendara  
apahabar.com

Kalsel

Lelang Proyek JPO Banjarmasin Ditunda
apahabar.com

Kalsel

Rp 224 Juta Anggaran Seragam Wakil Rakyat Baru HSS

Kalsel

Covid-19 di Kalsel Lampaui 6 Ribu Kasus
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com