Sederet Prestasi Niha, Hafizah Cilik Kotabaru dari MTQ Tingkat Kabupaten hingga Provinsi Polisi Anulir Pernyataan Status Tersangka Dua Mahasiswa Kalsel 2 Mahasiswa Tersangka, Rektor ULM Pasang Badan, Ada Dugaan Miskomunikasi di Kepolisian Paula Verhoeven Hamil, Kiano Bakal Punya Adik, Baim Wong Ingin Mak Beti Ucapkan Selamat ke Sang Istri Hasil Liga Champions, Tanpa Ronaldo Juventus Ditekuk Barcelona, Messi Cetak Gol, Skor Akhir 2-0

Baayun Maulid Tradisi Meninabobokan Anak dengan Shalawat

- Apahabar.com Selasa, 20 November 2018 - 13:23 WIB

Baayun Maulid Tradisi Meninabobokan Anak dengan Shalawat

seorang anak tengah diayun dalam acara baayun maulid Sumber foto: lensafakta

apahabar.com, BANJARMASIN– Meninabobokan anak dengan mengayunnya adalah tradisi lama yang tidak diketahui kapan muaranya. Namun, Islam kemudian mengisinya dengan mendengarkan asma Allah SWT dan shalawat kepada Baginda Rasulullah SAW pada anak yang ditidurkan.

Di Kalimantan Selatan khususnya, tradisi ini turun temurun digelar dari generasi ke generasi dengan nama Baayun Maulid. Namun masing-masing daerah di Kalimantan Selatan memiliki aturan masing-masing. Di Kabupaten Tapin dan Banjarmasin misalnya, acara Baayun Maulid digelar serentak dengan mengayun banyak orang. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa, hingga yang sudah renta juga ambil bagian dalam pagelaran akbar ini.

Jika warga Tapin mengambil tempat di kawasan masjid, tepatnya Masjid Almukarromah di Desa Banua Halat. Berbeda dengan di Banjarmasin yang digelar di kawasan Makam Sultan Suriansyah, Desa Kuin Kota Banjarmasin.

Dua acara ini biasanya diselenggarakan tepat di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awwal, bulan dalam penanggalan Hijriyah.

Berbeda dengan Baayun yang digelar di Tapin dan Banjarmasin, warga Astambul memiliki cara yang berbeda. Jika Tapin dan Banjarmasin menggunakan pembacaan maulid ketika mengayun anak, di Astambul didendangkan Asma Tuhan dan puji-pujian kepada Nabi dan Rasul dengan Bahasa Banjar bercampur dengan Bahasa Arab yang biasa disebut dengan zikir baturun. Acara ini biasanya digelar sebelum seseorang dikawinkan.

Adapun bentuk ayunan dan pernak-perniknya, warga Banjarmasin, Tapin, dan Astambul bentuknya sama saja. Kain yang digunakan sehelai sarung yang dilapis dengan kain kuning. Berbagai ukiran dibuat mereka sendiri dengan model-model yang menyimbolkan harapan dan doa.

Ayunannya biasanya dihiasi berbagai macam benda yang dalam tradisi orang Banjar memiliki makna-makna dan harapan tertentu bagi yang diayun.

Misalnya, menghias ayunan dengan janur yang diletakkan dibagian atas ayunan. Janur tersebut akan bermakna kebersihan dan diharapkan orang yang diayun akan selalu senang dengan kebersihan. Atau menghias ayunan dengan janur berbentuk bunga dan burung. Janur dengan bentuk ini menyimbolkan kebesaran kerajaan Banjar di masa lalu.

Orang yang diayun dalam ayunan tersebut diharapkan menjadi generasi yang memiliki kejayaan dan kebesaran seperti kerajaan Banjar di masa lalu.

Berbagai sumber

Editor: Muhammad Bulkini

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Borneo

Dua ‘Pak Ogah’ Melawan Saat Hendak Diamankan Petugas

Borneo

Polsek Banjarmasin Tengah Bekuk Pencuri Kotak Amal Masjid

Borneo

Mualim 1 Ditemukan, Operasi SAR TB Fortunesius Clear
apahabar.com

Borneo

Tertimpa Kontainer, Avanza Ringsek… Begini Kejadiannya

Borneo

South Borneo Art Festival: Menikmati Seni Budaya sekaligus Keindahan Alam

Borneo

Peserta BSAF Bali Terpukau, Majalengka Iri

Borneo

Mengintip Perayaan Maulid di Banua, Baayun Tradisi Turun-menurun
apahabar.com

Borneo

Polres Sintang Amankan 10 Pengedar Narkoba
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com