Usai Beasiswa 1000 Doktor, SHM Bakal Cetak Ribuan Sarjana Baru di Tanah Bumbu Sederet Prestasi Niha, Hafizah Cilik Kotabaru dari MTQ Tingkat Kabupaten hingga Provinsi Polisi Anulir Pernyataan Status Tersangka Dua Mahasiswa Kalsel 2 Mahasiswa Tersangka, Rektor ULM Pasang Badan, Ada Dugaan Miskomunikasi di Kepolisian Paula Verhoeven Hamil, Kiano Bakal Punya Adik, Baim Wong Ingin Mak Beti Ucapkan Selamat ke Sang Istri

Datu Slam Pembawa Islam di Tanah Bayan

- Apahabar.com Kamis, 29 November 2018 - 16:41 WIB

Datu Slam Pembawa Islam di Tanah Bayan

Foto: Masjid Kuno Bayan Sumber: mongabay.co.id

apahabar.com, LOMBOK – Islam dipercaya masyarakat adat Bayan telah masuk sejak lama. Itu dibuktikan dengan adanya “Datu Slam” yang dalam Bahasa Indonesia, Raja Islam.

Islam yang dibawa masuk Datu Slam kemudian disempurnakan dengan kedatangan Syekh Abdul Razak di bumi Bayan pada abad ke-17. Makam Syekh Abdul Razak dimakamkan di Komplek Masjid Kuno Bayan Beleq.

Selain itu, terdapat juga makam tokoh-tokoh yang menyebarkan Islam, seperti Titi Mas Puluh, Sesait, Karem Saleh dan Pawelangan di dalam bangunan yang berdindingkan anyaman bambu serta beratapkan bilahan bambu yang disusun rapi.

Mereka juga memercayai bahwa turunnya Islam di Tanah Bayan itu berdasarkan wahyu, sehingga wali yang ada berasal dari sana kemudian menyebar seantero Tanah Air.

Kepercayaannya bahwa wali berasal dari Tanah Bayan yang tentunya kembali lagi ke Tanah Bayan. “Itu cerita dari leluhur kami,” kata tokoh pemuda masyarakat adat Bayan di Batu Grantung, Raden Kertamaji.

Raden Kertamaji menambahkan Syekh Abdul Razak menjabat sebagai penghulu masyarakat Adat Bayan.

 

“Sejarah orang Bayan itu ada di dalam lontar yang disimpan di Kampung Adat Bayan Timur yang menjadi tempat akhirat,” kata sesepuh Desa Batu Grantung, Raden Nyakrawasih.

Sedikit bercerita, Raden Kertamaji menyebutkan konsepsi Wetu Telu yang selalu dikaitkan terhadap masyarakat Adat Bayan itu, adalah tidak benar.

Islam di Bayan sempurna, yakni Wetu Lima seperti penganut Islam lainnya menjalankan salat lima waktu, bukannya tiga waktu. “Wetu telu yang benar adalah tumbuh, bertelur dan lahir, itu makna manusia selama ini bersama tumbuh-tumbuhan di sekitar kita dan binatang,” katanya.

Mungkin bisa dikatakan wetu telu itu sebagai filosofi atau tuntunan hidup masyarakat adat Bayan, sedangkan dalam beribadah agama Islam tetap menjalankan salat lima waktu.

 

Sumber: Antara

Editor: Muhammad Bulkini

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Sirah

Riwayat Kapten Kodok, Mertua Datuk Kelampayan yang Bisa Terbang
apahabar.com

Sirah

Ternyata Tradisi “Bagarakan Sahur” Sudah Ada di Zaman Rasulullah SAW
apahabar.com

Religi

Ateis Bertanya Tentang Tuhan, Imam Abu Hanifah Membungkamnya
apahabar.com

Religi

Muadzin di Zaman Rasulullah SAW Ternyata Bukan Hanya Bilal
apahabar.com

Sirah

Mengenang Dinasti Abbasiyah pada Masa Gemilang
apahabar.com

Sirah

Riwayat Rida Abah Guru dan Guru Ibad yang Bermakna Simbolis
apahabar.com

Sirah

Kisah Singkat Datu Dulung; Ketika ‘Si Macan Terbang’ Melawan Belanda
apahabar.com

Sirah

Islam Menyebut Gratifikasi Sama dengan Mengambil Ghulul
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com