Tagihan Listrik di Kalsel-Teng Membengkak? PLN Ungkap Penyebabnya Jumatan Perdana di Banjar, 4 Masjid Dijaga Ketat TNI-Polri PSBB Berakhir, Duta Mall Segera Buka Bioskop dan Amazon? Jadi Contoh, Jemaah Masjid Miftahul Ihsan Malah Tak Disiplin Keseringan di Lapangan, Dua ASN di Banjarmasin Positif Covid-19




Home Borneo

Jumat, 23 November 2018 - 15:45 WIB

Fenomena Pembunuhan Sadis di Kalsel, Psikolog: Terjadi Degradasi Moral di Masyarakat

rifad - Apahabar.com

PSIKOLOG ULM - Sukma Noor Akbar. Foto/Zepi Al Ayubi

PSIKOLOG ULM - Sukma Noor Akbar. Foto/Zepi Al Ayubi

apahabar.com BANJARBARU – Maraknya kasus pembunuhan sadis di Kalsel dalam sepekan terakhir, membuat Psikolog Klinis, Sukma Noor Akbar angkat bicara. Menurutnya, sudah terjadi degradasi moral pada masyarakat kita.

Psikolog Klinis Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (FK ULM), Sukma Noor Akbar berpendapat, fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Kalsel saja.

Kasus serupa terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Seperti pembunuhan satu keluarga di Bekasi, pembunuhan sadis perempuan di Garut Jawa Barat dan mayat lemari di Jakarta. Sampai dengan  mayat Jurnalis yang disimpan di dalam drum plastik di Bogor.

Baca juga : Terkejut Mendengar Kasus Mutilasi, Begini Tanggapan Ketua MUI

“Mudahnya seseorang dalam menghilangkan nyawa orang lain atau melakukan tindakan kriminal saat ini. Tentunya sudah terjadi degradasi moral pada masyarakat kita,” ungkapnya.

Baca juga :  Tak Nyambung Saat Diperiksa, Pembakar Lahan di Banjar Bakal Tes Kejiwaan

Secara umum, lanjut Sukma, kenapa terjadi kriminalitas pada individu. Pengaruh yang paling besar adalah pelaku kekerasan, biasanya berasal dari rumah atau lingkungan yang tidak harmonis. Selain itu anak-anak yang terlantar, sosial ekonomi rendah dan kurangnya kontrol dari orangtua, dapat membuat individu rentan sebagai pelaku kekerasan.

“Selain itu traumatik dan pernah menjadi korban dalam kekerasan. Bisa menjadi anak menangkap perilaku yang keliru dari yang dilihatnya.

Dengan cara meniru, baik meniru dengan melihat langsung maupun dari media-media internet. Ini memiliki dampak besar dalam pembentukan perilaku agresivitas,” jelas Sukma.

Baca juga : Mayat di Suzuki Swift Hebohkan Warga Jalan Ahmad Yani

Hal yang paling alamiah, sambungnya,  pelaku awalnya belajar dari orang disekitarnya. Serta informasi yang didapat dari lingkungannya. Cara pandang yang tidak tepat dianggap benar, sehingga kekerasan-kerasan tetap dipertahankannya sebagai suatu perilaku.

Baca juga :  Balita Pintar Main HP, Begini Penjelasan Psikolog

“Apalagi pada masa remaja anak sudah mulai membentuk kelompok. Jika anak tanpa pengawasan, maka masa pencarian identitas dirinya bisa tidak sesuai dengan norma-norma.

Jika ia bergaul dengan orang yang melakukan kekerasan maka ia cenderung untuk mengikuti perilaku tersebut,” terangnya.

Faktor pendidikan, kepribadian, harga diri, dan kurang mampunyai seseorang dalam mencari pemecahan masalah. Menjadi faktor resiko lain yang juga perlu dilihat dalam menentukan motif-motif pelaku.

Gangguan-gangguan psikologi juga seringkali dikaitkan dengan kriminal seperti psikotik, antisosial dan gangguan-gangguan kepribadian.

“Perlu kajian dari psikolog ataupun psikiater dalam melakukan diagnosisnya kepada para pelaku. Sebab setiap kasus akan berbeda psikodinamika seseorang,” pangkas Sukma.

Penulis : Zepi Al Ayubi

Editor: Muhammad Bulkini

Share :

Baca Juga

Borneo

Nissa Sabyan Manggung di Tabalong Catat Tanggalnya
apahabar.com

Borneo

Peringatan Maulid Bersama Guru Zuhdi Digelar Subuh Esok

Borneo

Mengintip Perayaan Maulid di Banua, Baayun Tradisi Turun-menurun

Borneo

APBD Murni 2019 Naik 3,97 Persen, Gubernur: Pembangunan akan Berjalan Sesuai Rencana
apahabar.com

Borneo

Tuan Guru Bajang akan Hadiri Maulid di Batulicin Kalsel

Borneo

Ribuan Jemaah Hadiri Perayaan Maulid di Kota Citra Banjarbaru

Borneo

Lewat Pertunjukan Seni, Mahasiswa Unlam Ajak Save Meratus
apahabar.com

Borneo

KPU Serahkan APK 278 Lembar