Belasan Mahasiswa-Polisi Luka-Luka, Polres Ungkap Biang Ricuh #SaveKPK II di Banjarmasin #SAVEKPK Bergaung di Banjarmasin: Ratusan Mahasiswa Ultimatum Ketua DPRD Kalsel di Tengah Guyuran Hujan Tagih Janji Reklamasi, Dewan Tabalong Ngotot Panggil Bos Adaro UPDATE! Tunggu Supian HK, Massa #SaveKPK di Banjarmasin Ngotot Bertahan Jenderal Lapangan Aksi #SaveKPK di Banjarmasin Terluka, Tangan-Kepala Berdarah

Jasa Perkapalan Sumbang Defisit Terbesar

- Apahabar.com Kamis, 15 November 2018 - 11:14 WIB

Jasa Perkapalan Sumbang Defisit Terbesar

Sumber Foto : Kompas Ekonomi

apahabar.com, BANJARMASIN–Sektor jasa perkapalan ternyata menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap defisit transaksi berjalan.

”Jasa kapal ini salah satu penyumbang defisit terbesar di neraca jasa. Ketika kita melakukan ekspor, apa pun itu, dengan kapal asing, maka kita mendapat devisa hasil ekspor, namun di saat bersamaan kita juga membuang devisa,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di Kantor Bappenas, Jakarta, kemarin.

Menurutnya, problema dalam ekspor dan impor, yaitu membutuhkan kapal yang memiliki jalur pelayaran langsung masuk dan ke luar negeri. Dengan kata lain, kapal tersebut haruslah kapal dengan skala menengah besar. ”Ini yang belum banyak dimiliki perusahaan besar di Indonesia. Jadi, kita tergantung pada kapal maskapai asing yang memang sudah lama sekali menguasai bidang itu,” kata Bambang, sebagaimana dilansir antara yang dikutip koransindo.com.

Salah satu upaya mengatasi masalah tersebut, imbuh Bambang, adalah dengan memperkuat industri perkapalan di Tanah Air sehingga devisa yang dihasilkan bisa jauh lebih optimal. ”Selain itu, perlu diciptakan lebih banyak lagi rute langsung pelabuhan tujuan, apakah di Asia Timur, Eropa, maupun Amerika. Artinya pelabuhan ditingkatkan terus,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Eddy Kurniawan Logam mengatakan, saat ini industri galangan kapal sedang giat-giatnya mengembangkan industri turunan dari pabrikan kapal di dalam negeri.

Meski begitu, industri galangan kapal di dalam negeri harus mendapat sokongan pemerintah. ”Sebab saat ini memang kita akui penggunaan komponen pembuatan kapal itu masih sangat besar dari impor komponen nya yang bisa mencapai 70%. Akan tetapi, kalau kita konsisten yang artinya pesanan kapal terus berdatangan, saya kira bukan tidak mungkin bisa menciptakan industri turunan yang baru,” ucapnya. Menurut Eddy, kualitas pabrikan kapal dalam negeri tak kalah dengan kualitas pabrikan kapal negara lain. Apalagi, Indonesia sebagai negara maritim yang kuat sewajarnya punya industri maritim yang bisa diandalkan.

”Salah satunya tentu ada pada industri galangan kapal ini. Dan, itu tidak akan bisa berkembang kalau pemerintah tidak mendukung. Sejauh ini kita sudah membuat roadmap bagaimana industri ini ke depan bisa menciptakan industri kecil yang lain,” ungkapnya. Dia menambahkan, penggunaan kapal-kapal impor juga harus dibatasi seiring dengan asas cabotage. Tidak hanya itu, pemerintah juga perlu mengeluarkan regulasi yang ketat, mengenai penggunaan kapal-kapal impor. ”Sebab asas cabotage juga sudah ada. Akan lebih baik lagi kalau bukan hanya kapal-kapal berbendera Indonesia yang diawasi, namun juga penggunaan kapal-kapal impornya,” ucapnya.

Di dalam negeri, industri galangan kapal mulai berkembang dalam empat tahun terakhir. Pesanan utama kapal-kapal yang dibuat pabrikan galangan kapal dalam negeri saat ini memang masih lebih banyak dari pesanan kapal milik pemerintah. ”Tapi perlahan sudah mulai kelihatan, di mana sudah mulai banyak pesanan-pesanan kapal yang kita buat untuk negara lain,” pungkas Eddy. Menurut bank sentral, defisit yang meningkat pada kuartal III/2018 karena memburuknya kinerja neraca perdagangan barang dan melebarnya defisit neraca jasa, khususnya jasa transportasi. Data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Kuartal III/ 2018 menunjukkan, jasa transportasi barang defisit USD1,85 miliar dengan ekspor barang tercatat USD365 juta sedangkan impor barang USD2,21 miliar.

Hal tersebut disebabkan peningkatan impor barang yang tentu meningkatkan permintaan pengangkutan (shipping) ke domestik dan juga pelaksanaan kegiatan ibadah haji. Namun, defisit transaksi berjalan berhasil dicegah agar tidak semakin melebar karena ekspor produk manufaktur dan kenaikan surplus jasa perjalanan dari sektor pariwisata. Hal itu karena peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, antara lain, untuk menyaksikan penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang.krs/ant

 

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Memasuki Kemarau, Petani Limau Keprok Terancam Gagal Panen
apahabar.com

Ekbis

Hingga Mei 2020, Realisasi Produksi Batu Bara 228 Juta Ton
apahabar.com

Ekbis

Kembali Layani Penerbangan, Garuda Terapkan Prosedur Ketat
apahabar.com

Ekbis

Membanggakan, Kopi Kalsel Dilirik di Finlandia
Perdana, Pemerintah Terbitkan Obligasi Global Tenor 50 Tahun

Ekbis

Perdana, Pemerintah Terbitkan Obligasi Global Tenor 50 Tahun
apahabar.com

Ekbis

Tingkatkan Daya Saing UMKM, Telkom Indonesia Hadirkan Aplikasi Digital Bonum Pos
apahabar.com

Ekbis

Jelang Musprov, Ekonom Tantang Kadin Kalsel Gaet Investor Asing ke Banua!
apahabar.com

Ekbis

BPH Migas Dukung Penurunan Harga Gas Industri
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com