Viral Surat Cinta BPK untuk Masyarakat Setelah Insiden Maut di Lingkar Dalam Aturan Baru Berlaku, Penumpang di Syamsudin Noor Masih Stagnan  Cuaca Hari Ini, Hujan Disertai Petir Mengintai Kalsel Ribuan Lahan Padi di Kalsel Terancam Kerdil dan Menguning, Dinas TPH: Jangan Panik Pukuli Korban Gegara Halangi Jalan, Supir Travel di Tanbu Ditangkap

KPK Panggil Petinggi PLN Batubara dan Samantaka

- Apahabar.com     Kamis, 29 November 2018 - 16:22 WITA

KPK Panggil Petinggi PLN Batubara dan Samantaka

Mantan Menteri Sosial Idrus Marham bersiap menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Rabu (28/11/2018). foto antara

apahabar.com, BANJARMASIN – KPK memanggil sejumlah petinggi PT PLN Batubara (Pesero) dan PT Samantaka Batubara dalam penyidikan kasus suap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1, sebagai saksi untuk tersangka mantan mensos dan sekjen Partai Golkar Idrus Marham.

“Para saksi diperiksa untuk tersangka IM (Idrus Marham),” kata pelaksana harian (Plh) Kabiro Humas Yuyuk Andriati di gedung KPK Jakarta, Kamis.

Para saksi tersebut adalah Pelaksana tugas (Plt) Direktur Oeprasional PT PLN Batubara Djoko Martono, Plt Direktur Keuangan PLN Batubara Hartanto Wibowo dan direktur PT Samantaka Batubara James Rijanto.

 

Dalam dakwaan pemegang saham Blackgold Natural Resources Ltd Johanes Budisutrisno Kotjo disebutkan bahwa Kotjo mengurus proyek PLTU Riau-1 dan akan memberikan “fee” sebesar 2,5 persen atau sekitar 25 juta dolar AS dari perkiraan nilai proyek 900 juta dolar AS kepada sejumlah pihak termasuk Direktur PT Samantaka Batubara James Rijanto sebesar empat persen atau sekitar satu juta dolar AS.

Selain ketiganya, KPK juga memanggil tenaga ahli Eni Maulani Tahta Maharaya sebagai saksi untuk Idrus Marham.

KPK dalam perkara ini menduga Idrus Marham mendapat bagian yang sama besar dari Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih sebesar 1,5 juta dolar AS yang dijanjikan pemegang saham Blakgold Natural Resources Limited Johanes Budisutrisno Kotjo bila purchase power agreement proyek PLTU Riau 1 berhasil dilaksanakan Johannes Kotjo dan kawan-kawan.

Idrus diduga mengetahui dan memiliki andil terkait penerimaan uang dari Eni dari Johanes yaitu pada November-Desember 2017 Eni menerima Rp4 miliar sedangkan pada Maret dan Juni 2018 Eni menerima Rp2,25 miliar.

Dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Jumat (13/7), KPK sudah mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga terkait kasus itu yaitu uang Rp500 juta dalam pecahan Rp100 ribu dan dokumen atau tanda terima uang sebesar Rp500 juta tersebut.

Diduga, penerimaan uang sebesar Rp500 juta merupakan bagian dari “commitment fee” sebesar 2,5 persen dari nilai proyek yang akan diberikan kepada Eni Maulani Saragih dan kawan-kawan terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1.

Sebelumnya Eni sudah menerima dari Johannes sebesar Rp4,8 miliar yaitu pada Desember 2017 sebesar Rp2 miliar, Maret 2018 sebanyak Rp2 miliar dan 8 Juni 2018 sebesar Rp300 juta yang diberikan melalui staf dan keluarga. Tujuan pemberian uang adalah agar Eni memuluskan proses penandatanganan kerja sama terkait pembangunan PLTU Riau-1.

 

Kotjo sendiri sudah dituntut selama 4 tahun serta pidana denda sejumlah Rp250 juta subsider 6 bulan kurungan.

Baja Juga: Peringati Hari Pohon, PLN Tanam 1.200 Ribu Mahoni di Kalselteng

Sumber : antara

Editor : Nasrullah

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Atasi Covid-19, Pengadaan Ventilator Diperbanyak
apahabar.com

Nasional

Dirawat di Penang Malaysia, Begini Kondisi Ustaz Arifin Ilham Sekarang
PPKM Level IV Diperpanjang

Nasional

Sah! PPKM Level IV Diperpanjang sampai 16 Agustus
PeduliLindungi

Nasional

Badan Siber dan Sandi Negara Jamin Sistem Aplikasi PeduliLindungi Aman
Sri Mulyani

Nasional

Sri Mulyani Dorong Pasar Modal Beri Kontribusi Pemulihan Ekonomi
apahabar.com

Nasional

102 Kabupaten/Kota Masuk Zona Hijau, GTTP: Boleh Laksanakan Kegiatan Produktif
apahabar.com

Nasional

JMSI Daftar Sebagai Konstituen Dewan Pers
Vaksinasi

Nasional

Dari 215 Negara, Jokowi Sebut Indonesia Urutan 11 Vaksinasi Covid-19
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com