Pembelajaran Tatap Muka SMP di Banjarmasin Siap Dibuka, Catat Bulannya Seruan Tokoh Tanah Bumbu: Tim SHM-MAR Jangan Ikut-ikutan Kampanye Hitam VIDEO: Polisi Rilis Tersangka Pencurian Hp Rosehan di Pesawat Sengketa Kepemilikan Kampus Achmad Yani, Gugatan Adik Berlanjut di PN Banjarmasin Magrib, Mayat di Jembatan Kayu Tangi Gegerkan Warga

Kubar Dikepung Tambang; Badak Sumatera Nasibmu Kini 

- Apahabar.com Kamis, 29 November 2018 - 21:37 WIB

Kubar Dikepung Tambang; Badak Sumatera Nasibmu Kini 

Badak sumatera yang berhasil diselematkan di Kalimantan Timur ini diberi nama Pahu. Foto: KLHK/Sumatran Rhino Rescue Team/Sugeng Hendratmo

apahabar.com,BANJARMASIN – Badak Sumatera, satu-satunya badak Asia yang memiliki dua cula. Seiring hal tersebut, acap kali ia menjadi objek perburuan. Di Kalimantan, keberadaan badak bernama latin Dicerorhinus Sumatrensis itu pernah diklaim punah seiring perburuan masif dilakukan.

WWF -organisasi konservasi yang konsen terhadap Badak- menyebut selama bertahun-tahun, kasus perburuan badak kerap ditemukan. Tujuannya satu: mengambil cula maupun bagian-bagian tubuh lainnya untuk dijual di pasar gelap. Cula biasanya dipercaya sebagai bahan obat tradisional.

Medio Maret 2013 silam, menukil artikel milik Kompas.com, para peneliti dari WWF Indonesia, Universitas Mulawarman, BKSDA, dan Pemkab Kutai Barat berhasil menemukan jejak badak Sumatera saat memantau orangutan. Penemuan itu merupakan suatu kebetulan, keberuntungan, sekaligus penggugah harapan baru.

Ditemukan jejak kaki badak, dahan dipuntir (khas cara makan badak), dan gesekan cula di batang pohon. Lalu, dipasanglah 16 kamera pengintai di sekitar area yang dilintasi badak. Hasilnya disebutkan mencengangkan bercampur menggembirakan. Tiga kamera pengintai merekam video badak Sumatera.

Masing-masing pada 23 dan 30 Juni, serta pada 3 Agustus 2013. Masing-masing badak di video itu diyakini berasal dari individu berbeda.

”Temuan ini sangat penting karena badak Sumatera itu satu dari 14 satwa prioritas untuk ditingkatkan populasinya,” kata Sonny Pratono, Plt Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, kala itu. Lantas bukti rekaman video itu ditindak lanjuti penelusuran jalur lalu-lalang badak.

Tujuannya, memetakan lokasi komunitasnya dan daya jelajah satwa terancam punah itu. Sejak itu, asumsi penyebaran badak Sumatera dari Indochina hingga Sabah pun mendekati nyata. Temuan badak di Borneo itu sungguh menggugah harapan baru.

Sejak penemuan ketiga badak itu, operasi penyelamatan badak Sumatera masif dilakukan oleh WWF. Tujuan menyelamatkan spesies langka itu di habitat alaminya, baik Sumatera atau Kalimantan.

Populasi badak di luar Sumatera, seperti di Malaysia dan Indochina (Vietnam dan Myanmar) sejauh ini belum bisa diperkirakan. Yang pasti, jumlah badak yang berukuran lebih kecil dibanding badak bercula dua lain dari Afrika (badak putih dan badak hitam) itu merosot.

“[Di Kaltim] Perlu disurvei kami tak bisa perkirakan. Di Sumatera itu kurang dari 100 tapi di Kaltim kita belum ada angka pasti,” jelas Koordinator Kampanye Hutan dan Spesies-WWF Indonesia Diah R Sulistiowati dihubungi apahabar.com, Kamis (29/11) sore.

Disebut WWF, Badak Sumatera hidup di alam dalam kelompok kecil dan umumnya menyendiri (soliter). Habitat Badak Sumatera mencakup hutan rawa dataran rendah hingga hutan perbukitan, meskipun umumnya satwa langka ini sangat menyukai hutan dengan vegetasi yang sangat lebat.

Badak telah termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) – dalam daftar merah spesies terancam lembaga konservasi dunia, IUCN. Population and Habitat Viability Analysis (PHVA) 2016 mencatat, populasi satwa ini diperkirakan kurang dari 100 individu di alam.

Agar satwa ini bertahan hidup, sungguh diperlukan langkah serius untuk menjaga hutan Kalimantan seiring kemunculan Badak terus terjadi.

Habitat Dikepung Tambang

Seiring dengan perburuan cula yang mereda, ancaman serius lainnya pun muncul: pertambangan batu bara. Ya, kehilangan habitat menjadi ancaman utama keberlangsungan hidup badak berambut atau hairy rhino itu di Kalimantan. WWF menyebut, rusaknya hutan diiringi dengan berbagai aktivitas yang tidak berkelanjutan oleh manusia telah menyebabkan semakin terdesaknya populasi Badak Sumatera menuju kepunahan.

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kaltim

Bentrokan Dua Kelompok Pemuda di Penajam, Satu Tewas Ditusuk
apahabar.com

Kaltim

Kriteria Sapi Kurban Presiden Jokowi
apahabar.com

Kaltim

Sampai Hari Ini, Tol Balsam Dipastikan Masih Gratis
apahabar.com

Kaltim

Tes SKB CPNS Kutim Kembali Digelar
apahabar.com

Kaltim

Gubernur: Apeksi Mitra Kerja Pemerintah
apahabar.com

Kaltim

Kaltim Urutan Ke-14 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

Kaltim

Didemo, Gubernur Kaltim Serap Aspirasi dari Kegubernuran
apahabar.com

Kaltim

Penajam Berharap Dana Kurang Salur Biayai Kegiatan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com