Dini Hari, Polisi Amankan 9 Motor di Banjarmasin Timur Zakaria, Pejuang Covid-19 di Tanah Laut Tutup Usia Malam Minggu, Siring Laut di Kotabaru Kembali Bernadi walau Pandemi Putrinya Hanyut, Bapak Meregang Nyawa di Irigasi Karang Intan Kabar Baik, Tanbu Tambah Pasien Sembuh dari Covid-19




Home Ceramah

Rabu, 21 November 2018 - 22:07 WIB

Mengutamakan Memperbaiki Diri

Redaksi - Apahabar.com

Sumber Foto: instazu.com

Sumber Foto: instazu.com

apahabar.com, BANJARMASIN – Ketika dizalimi, pada umumnya kita terjebak untuk membalas kezaliman. Padahal, mempermasalahkan kezaliman adalah sebuah kesalahan.

Diterangkan KH Ahmad Zuhdiannoor, orang awam ketika diperlakukan tidak baik oleh orang lain, merasa sakit hati. Padahal sakit hati atas perlakuan itu adalah sebuah kesalahan. Yakni, tidak penyabar.

“Orang yang menzalimi kita itu memang salah dan berdosa. Tapi bukan itu yang penting bagi kita. Yang penting bagi kita adalah memperbaiki diri, yakni mengobati kenapa bisa sakit hati,” ujar Guru Zuhdi –akrab beliau disapa- di Majelis Taklim Mushalla Darul Iman, Komplek Pondok Indah, Rabu (21/11) malam.

Guru melanjutkan pembahasan di dalam Kitab Ihya Ulumuddin, suatu ketika ada seseorang yang berkeluh-kesah kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dia mengabarkan bahwa dirinya selalu dizalimi orang lain, dan meminta solusi atas masalahnya itu.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menasehatinya, “Sesungguhnya engkau nanti akan datang bertemu Allah. Jika engkau memafkan kesalahan orang yang telah menyakitimu, maka kedatanganmu akan disambut baik oleh Allah. Namun jika engkau tidak memafkannya, engkau tidak diperlakukan seperti itu.”

“Orang yang sehat, daya tahan tubuhnya kuat. Sehingga ketika ada orang flu di sekitarnya, tidak mudah terjangkit, lalu menjadi flu. Karena daya tahan tubuhnya kuat,” jelas Guru.

Hal itu, lanjut Guru, sama dengan pikiran. Orang yang pikirannya sehat, dia tidak gampang marah hanya karena dimarahi, membalas menyakiti hanya karena disakiti.

Kita sebagai orang awam, belajar memafkan kesalahan orang lain dengan tidak membalas dengan keburukan yang sama. Bagaimana caranya? Yakni menyibukkan diri dengan memperbaiki hati dan pikiran. Hati yang tak bisa sabar dizalimi orang lain.

“Caranya dengan belajar (mengamalkan) sifat dua puluh, tauhidul af’al (bahwa semua perbuatan Allah). Itu dulu,” tutur Guru.

Kita belum bisa seperti para wali dan orang saleh. Mereka ketika dizalimi, tidak hanya bisa memaafkan tapi juga membalasnnya kebaikan. Sebagaimana Imam Hasan Basri, yang membalas orang yang menzalimi beliau dengan senampan kurma. Wallahu ‘alam.

 

Editor : Muhammad Bulkini

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ceramah

Rasulullah Mengutamakan Kelembutan Hati di Atas Kemarahannya
apahabar.com

Ceramah

Sunah Tak Sebatas Tampilan
apahabar.com

Ceramah

Ramadan Bulan Mendidik Nafsu, Begini Penjelasan Guru Zuhdi
apahabar.com

Ceramah

Isi Ceramah di Tanbu, Gus Miftah Cerita Deddy Corbuzier Masuk Islam
apahabar.com

Ceramah

Bolehkah Berpuasa Tanpa Menjalankan Salat? Begini Tanggapan MUI Kalsel
apahabar.com

Ceramah

Ikhlas dan Kasih Sayang, Spirit Revolusi Mental Ala Rasulullah
apahabar.com

Ceramah

Bacalah Doa Ini Supaya Terhindar dari Marah
apahabar.com

Ceramah

Bahagiakan Guru Ngaji, Gus Mus: Berikan Kado Buat Mereka
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com