Polisi Kotabaru Tangkap Otak Pembunuhan Brutal di Mekarpura Pemilu Ulang di Banjarmasin Selatan, Cucu Habib Basirih Pinta Jauhi Politik Uang H-2 Ramadan, Distribusi Elpiji di Kalsel Macet Lagi Gara-Gara Jalan Rusak Terungkap! Alasan Oknum Pemuda LAS HST Hina Buser yang Tenggelam di Banjarmasin Sadarkan Diri, Dokter Ungkap Kondisi Terkini Echa Si Putri Tidur Banjarmasin

Mengutamakan Memperbaiki Diri

- Apahabar.com Rabu, 21 November 2018 - 22:07 WIB

Mengutamakan Memperbaiki Diri

Sumber Foto: instazu.com

apahabar.com, BANJARMASIN – Ketika dizalimi, pada umumnya kita terjebak untuk membalas kezaliman. Padahal, mempermasalahkan kezaliman adalah sebuah kesalahan.

Diterangkan KH Ahmad Zuhdiannoor, orang awam ketika diperlakukan tidak baik oleh orang lain, merasa sakit hati. Padahal sakit hati atas perlakuan itu adalah sebuah kesalahan. Yakni, tidak penyabar.

“Orang yang menzalimi kita itu memang salah dan berdosa. Tapi bukan itu yang penting bagi kita. Yang penting bagi kita adalah memperbaiki diri, yakni mengobati kenapa bisa sakit hati,” ujar Guru Zuhdi –akrab beliau disapa- di Majelis Taklim Mushalla Darul Iman, Komplek Pondok Indah, Rabu (21/11) malam.

Guru melanjutkan pembahasan di dalam Kitab Ihya Ulumuddin, suatu ketika ada seseorang yang berkeluh-kesah kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dia mengabarkan bahwa dirinya selalu dizalimi orang lain, dan meminta solusi atas masalahnya itu.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menasehatinya, “Sesungguhnya engkau nanti akan datang bertemu Allah. Jika engkau memafkan kesalahan orang yang telah menyakitimu, maka kedatanganmu akan disambut baik oleh Allah. Namun jika engkau tidak memafkannya, engkau tidak diperlakukan seperti itu.”

“Orang yang sehat, daya tahan tubuhnya kuat. Sehingga ketika ada orang flu di sekitarnya, tidak mudah terjangkit, lalu menjadi flu. Karena daya tahan tubuhnya kuat,” jelas Guru.

Hal itu, lanjut Guru, sama dengan pikiran. Orang yang pikirannya sehat, dia tidak gampang marah hanya karena dimarahi, membalas menyakiti hanya karena disakiti.

Kita sebagai orang awam, belajar memafkan kesalahan orang lain dengan tidak membalas dengan keburukan yang sama. Bagaimana caranya? Yakni menyibukkan diri dengan memperbaiki hati dan pikiran. Hati yang tak bisa sabar dizalimi orang lain.

“Caranya dengan belajar (mengamalkan) sifat dua puluh, tauhidul af’al (bahwa semua perbuatan Allah). Itu dulu,” tutur Guru.

Kita belum bisa seperti para wali dan orang saleh. Mereka ketika dizalimi, tidak hanya bisa memaafkan tapi juga membalasnnya kebaikan. Sebagaimana Imam Hasan Basri, yang membalas orang yang menzalimi beliau dengan senampan kurma. Wallahu ‘alam.

 

Editor : Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ceramah

Masih Terngiang, Pesan Guru Zuhdi Soal Hakikat Lebaran Idul Fitri
apahabar.com

Ceramah

Ini Golongan yang Tidak Dapat Keutamaan Nisfu Sya’ban
apahabar.com

Ceramah

Cerita Gus Baha: Kebanggaan Merawat Orang Tua
apahabar.com

Ceramah

Cara Mudah Meyakini Isra Mikraj, Begini Penjelasan Syekh Mutawalli Asy Sya’rawi
apahabar.com

Ceramah

Orang yang Sungguh-sungguh Bertobat, Berikut 3 Tandanya
apahabar.com

Ceramah

Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi, Sifat Allah Terkandung dalam “Laailaahaillallaah”
apahabar.com

Ceramah

Kemanfaatan Ilmu Terlihat Ketika Menghias Pemakainya
apahabar.com

Ceramah

Soroti Tarawih Berjemaah di Tengah Pandemi Covid-19, PBNU: Satgas yang Turun Tangan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com