Jadwal Liga Champions Liverpool Vs Ajax, Klopp Pastikan Van Dijk Bakal Lebih Tangguh Setahun Jokowi-Ma’ruf, Map Merah Penuhi Jalanan Banjarmasin Tim Macan Kalsel Gerebek Wanita Buronan Kasus Penggelapan Kapal Indef: Setahun Jokowi-Ma’ruf Amin ULN Melonjak, Setiap Penduduk Warisi Utang Rp 20,5 juta Demo di Pelaihari Berbuntut Laporan Polisi, Sekda Tala Minta Maaf

Psikolog: Korban Perundungan Berpotensi Jadi Bom Waktu

- Apahabar.com Jumat, 23 November 2018 - 19:11 WIB

Psikolog: Korban Perundungan Berpotensi Jadi Bom Waktu

ILUSTRASI: pojoksatu.id

apahabar.com, BANJARMASIN – Cara Safrudin alias Amat (19) menghabisi nyawa Rahmadi alias Madi (21) bikin mengernyitkan dahi. Sejauh penyelidikan polisi, belum ditemukan indikasi pelaku mengalami masalah kejiwaan. Pelaku disebutkan dalam kondisi sadar saat mengeksekusi korban. Pun, dari pengaruh minuman keras dan narkoba.

Dari sisi psikologis, sulit menilai seseorang mengalami gangguan jiwa. Psikolog klinis Rifqoh Ihdayati mengemukakan, adanya masalah kejiwaan dalam aksi pembunuhan berencana dengan memisahkan kepala dan tubuh korbannya tak mudah dideteksi. Apalagi, motif setiap orang dalam melakukan rencana pembunuhan umumnya beragam.

“Dalam sisi psikologis harus ada pemeriksaan dulu, tidak bisa langsung mengarahkan motif pelaku gara-gara sering di-bully,” ucap mantan Psikolog di RSUD Ulin Banjarmasin ini saat dihubungi apahabar.com, Jumat (23/11).

Rifqoh memberi masukan. Menurutnya, kepribadian pelaku semasa hidup harus diselidiki. Gunanya, mendalami tiap kejanggalan dalam perilakunya. Apabila ada menunjukan gangguan perilaku, itu sangat mempengaruhi diagnosa kejiwaan nantinya.

Misalnya, pelaku yang diduga sering di-bully oleh korban ini sering memendam amarah dan tidak suka bergaul dengan masyarakat. Tapi itu belum termasuk gejala gangguan kejiwaan.

“Karena sering di-bully, dia jadi memendam diri. Sehingga saat meluapkan amarahnya, dia meledak seperti bom waktu,” terang psikolog RSUD Panembahan Senopati di Bantul,¬† Yogyakarta itu.

Kepada masyarakat, dia mengarahkan agar merangkul setiap anggota keluarga yang mempunyai gejala seperti itu. Pendakatan persuasif, dengan menjalin komunikasi  kenapa jadi murung atau semacamnya menjadi solusi.

Baca Juga:Terduga Pembunuh Rahmadi Diamankan, Kapolres: Nanti Polda yang Rilis

 

Baca Juga: Ketika Dendam Berujung Mutilasi di Sungai Tabuk

Ia menilai apabila salah satu keluarga begitu, maka jangan semakin lebih diasingkan.

“Kadang kadang keluarga berpikir, dia punya dunianya sendiri. Jangan seperti itu, harus kita rangkul agar tidak terjadi lagi,” katanya.

 

Reporter : Bahaudin Qusairi

Editor: Fariz

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Masuk Nusa Kambangan, Habib Bahar Di-Rapid Test
apahabar.com

Nasional

Suhu Panas Masih Melanda Indonesia, BMKG: Perbanyak Minum Air Putih
apahabar.com

Nasional

Indonesia Persiapkan Labuan Bajo untuk Pertemuan G20, Presiden: Pekerjaan Besar
Heboh, Dua ABK China di Kotabaru Terindikasi Corona

Nasional

Dinkes Sebut Dua ABK di Kotabaru Negatif Corona
apahabar.com

Nasional

Salahkan Muslim, Kepala Senator Australia Digepruk Telur

Nasional

Pelaku Pembakaran Polsek Ciracas Belum Diketahui
apahabar.com

Nasional

Ibu Kota Pindah ke Kalimantan, Paman Birin Diminta Jokowi Siapkan Lahan
apahabar.com

Nasional

Optimalisasi Lahan Rawa Strategi Amankan Pangan saat Musim Kemarau
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com