Banjir Belum Reda, Warga Desa Bincau Terancam Kekurangan Makanan Update Covid-19: Belasan Warga Kapuas Sembuh, 1 Positif H2D Sidang Perdana di MK, Bawaslu RI ‘Turun Gunung’ ke Kalsel 4.840 Vial Vaksin Covid-19 Tiba di Tanah Bumbu Pengungsi Banjir Bertambah, Kalsel Perpanjang Status Tanggap Darurat

Psikolog: Korban Perundungan Berpotensi Jadi Bom Waktu

- Apahabar.com Jumat, 23 November 2018 - 19:11 WIB

Psikolog: Korban Perundungan Berpotensi Jadi Bom Waktu

ILUSTRASI: pojoksatu.id

apahabar.com, BANJARMASIN – Cara Safrudin alias Amat (19) menghabisi nyawa Rahmadi alias Madi (21) bikin mengernyitkan dahi. Sejauh penyelidikan polisi, belum ditemukan indikasi pelaku mengalami masalah kejiwaan. Pelaku disebutkan dalam kondisi sadar saat mengeksekusi korban. Pun, dari pengaruh minuman keras dan narkoba.

Dari sisi psikologis, sulit menilai seseorang mengalami gangguan jiwa. Psikolog klinis Rifqoh Ihdayati mengemukakan, adanya masalah kejiwaan dalam aksi pembunuhan berencana dengan memisahkan kepala dan tubuh korbannya tak mudah dideteksi. Apalagi, motif setiap orang dalam melakukan rencana pembunuhan umumnya beragam.

“Dalam sisi psikologis harus ada pemeriksaan dulu, tidak bisa langsung mengarahkan motif pelaku gara-gara sering di-bully,” ucap mantan Psikolog di RSUD Ulin Banjarmasin ini saat dihubungi apahabar.com, Jumat (23/11).

Rifqoh memberi masukan. Menurutnya, kepribadian pelaku semasa hidup harus diselidiki. Gunanya, mendalami tiap kejanggalan dalam perilakunya. Apabila ada menunjukan gangguan perilaku, itu sangat mempengaruhi diagnosa kejiwaan nantinya.

Misalnya, pelaku yang diduga sering di-bully oleh korban ini sering memendam amarah dan tidak suka bergaul dengan masyarakat. Tapi itu belum termasuk gejala gangguan kejiwaan.

“Karena sering di-bully, dia jadi memendam diri. Sehingga saat meluapkan amarahnya, dia meledak seperti bom waktu,” terang psikolog RSUD Panembahan Senopati di Bantul,¬† Yogyakarta itu.

Kepada masyarakat, dia mengarahkan agar merangkul setiap anggota keluarga yang mempunyai gejala seperti itu. Pendakatan persuasif, dengan menjalin komunikasi  kenapa jadi murung atau semacamnya menjadi solusi.

Baca Juga:Terduga Pembunuh Rahmadi Diamankan, Kapolres: Nanti Polda yang Rilis

 

Baca Juga: Ketika Dendam Berujung Mutilasi di Sungai Tabuk

Ia menilai apabila salah satu keluarga begitu, maka jangan semakin lebih diasingkan.

“Kadang kadang keluarga berpikir, dia punya dunianya sendiri. Jangan seperti itu, harus kita rangkul agar tidak terjadi lagi,” katanya.

 

Reporter : Bahaudin Qusairi

Editor: Fariz

Editor: Amrullah - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Subsidi Upah

Nasional

Cair! Bantuan Subsidi Upah Bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Non-PNS Mulai Disalurkan
apahabar.com

Nasional

Pemohon Sengketa Hasil Pemilu Bertambah
apahabar.com

Nasional

Belum Sempat Dirujuk, Pasien Suspect Corona di Cianjur Meninggal

Nasional

Kapolri Tunjukan Senjata Api untuk Aksi 22 Mei
apahabar.com

Nasional

Gugus Tugas soal Mudik, Doni: Tetap Dilarang, Titik! 
Tommy

Nasional

Isak Tangis Tommy Sumardi di Sidang Kasus Red Notice Djoko Tjandra
apahabar.com

Nasional

Dilantik Presiden, Ini 4 Perwira Peraih Adhi Makayasa 2020
apahabar.com

Nasional

Gerindra: Prabowo Melayat ke Kediaman Ani Yudhoyono Sore Ini
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com