BREAKING NEWS Legenda Barito Putera Yusuf Luluporo Meninggal Dunia di Usia 47 Tahun Geledah Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, KPK Amankan Uang dan Dokumen Waspada Penularan Covid-19 di Libur Panjang, Disdik Banjarmasin Imbau Pelajari Patuhi Prokes Bikin Haru, Simak Curahan Mama Lita MasterChef Indonesia Pasca-ditinggal Suami Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah

Apakah Tsunami Susulan Kembali di Selat Sunda? Ini Penjelasan BMKG

- Apahabar.com Minggu, 23 Desember 2018 - 10:25 WIB

Apakah Tsunami Susulan Kembali di Selat Sunda? Ini Penjelasan BMKG

Ilustrasi gelombang besar di laut. Foto-liputan6.com

apahabar.com, JAKARTA – Tsunami menerjang di Selat Sunda pada Sabtu 22 Desember 2018 malam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tsunami tersebut terjadi diduga akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Saat ini, BMKG masih menyelidiki pemicu tsunami tersebut.

Lantas apakah tsunami susulan akan kembali menerjang kawasan tersebut? Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono menjelaskan, setiap kejadian tsunami dipastikan ada pemicunya. BMKG menyatakan tsunami terjadi setelah adanya gempa besar yang mengguncang suatu daerah.

Baca Juga : Ratusan Wisatawan Tanjung Lesung Diduga Hilang Diterjang Tsunami

“Gelombang tsunami ada pemicunya dulu. Sepanjang tidak adanya pemicunya, tak perlu khawatir,” ujar dia di Jakarta, Minggu (23/12/2018).

Dia menambahkan BMKG tidak dapat memberikan warning terlebih dahulu terkait tsunami di Selat Sunda. Ini lantaran pemicu tsunami tersebut tidak didahului oleh adanya gempa.

“Warning tsunami akibat kegempaaan tektonik bisa berikan,” kata dia.

Dia menyatakan, BMKG sebelumnya telah merilis warning adanya gelombang tinggi di Selat Sunda. Fenomena alam itu akan menerjang di kawasan tersebut hingga 25 Desember 2018.

“Selama kurun waktu warning gelombang tinggi, kemudian dalam durasi itu juga tsunami memicu dan menambah tinggi gelombang. Kalau tanpa adanya gelombang tingggi, kemungkinan tsunami ini tidak masuk ke daratan,” ujar dia.

Sementara itu Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut korban tsunami di Selat Sunda terus bertambah. Saat ini, jumlah korban telah mencapai 43 orang.

“Data sementara pagi pukul 07.00 WIB, total dampak tsuami mencapai 43 meninggal dunia,” kata Sutopo, Mingggu (23/12/2018).

Dia menambahkan, jumlah korban luka mencapai 584 orang. Selain itu dua orang dinyatakan hilang.

“430 unit rumah rusak berat. Sembilan hotel rusak, 10 kapal rusak berat, banyak mobil terkena dari dampak tsunami ini,” ucap Sutopo.

Dari tiga kabupaten yang terkena tsunami, daerah yang paling parah terkena bencana ini terletak di Kabupetan Pandeglang. Tepatnya di daerah wisata.

“Sekitar Pantai Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Laga, Pantau Lanimbang, dan Pantai Carita,” ucap Sutopo.

Baca Juga : Ratusan Wisatawan Tanjung Lesung Diduga Hilang Diterjang Tsunami

Sumber : liputan6.com
Editor : Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

KPK Panggil Tiga Saksi Kasus DPRD Kalteng
apahabar.com

Nasional

Sri Mulyani: APBN Instrumen Penting Bantu Masyarakat Hadapi Pandemi
apahabar.com

Nasional

Sekjen JMSI Lepas Jabatan Ketua Dewan Kehormatan PWI Gorontalo
apahabar.com

Nasional

Termasuk IKN, Indonesia Tawarkan Puluhan Proyek ke Prancis
apahabar.com

Nasional

Bandingkan dengan Orde Baru, Mahfud MD Nilai Pemilu Sekarang Lebih Baik    
apahabar.com

Nasional

Perum Bulog Siap Salurkan Beras untuk 10 Juta Keluarga Terdampak Pandemi
apahabar.com

Nasional

Penjual Terompet Merugi
apahabar.com

Nasional

Jokowi: 180 Negara Berebut APD hingga Sanitizer
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com