Malu-maluin! Pemuda di Kotabaru Jambret Wanita demi Komix Terungkap, Korban Tewas Kecelakaan di Tapin Warga Wildan Banjarmasin INALILAHI Hujan Lebat, Pengendara Vario di Tapin Tewas 7 POPULER KALSEL: Ibu Bunuh Anak di Benawa HST hingga Ketua Nasdem Tala Buron Banjir Masih Merendam Rumah Warga, Dinsos Tabalong Bagikan Sembako

Indonesia Diproyeksi Impor 500 ribu Ton Singkong sepanjang 2018

- Apahabar.com Sabtu, 15 Desember 2018 - 13:00 WIB

Indonesia Diproyeksi Impor 500 ribu Ton Singkong sepanjang 2018

Para Petani Sedang Memanen Singkong. Foto-republika.co.id

apahabar.com, JAKARTA – Pada 2012, impor singkong bahkan pernah mencapai sekitar satu juta ton. Praktis, Indonesia masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap komoditas singkong impor.

Tahun ini diperkirakan sekitar 500 ribu ton singkong yang diimpor untuk memenuhi kebutuhan industri.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan potensi dari kebutuhan komoditas singkong untuk industri umum dan pangan nasional masih sangat besar, misalnya, untuk diolah menjadi bahan tepung tapioka. Karenanya kebutuhan ini harus dapat terdata dengan baik oleh pemerintah.

“Potensi akan kebutuhan singkong di dalam negeri ini sangat besar,” kata Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Indonesia Franciscus Welirang dalam diskusi yang digelar di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (12/12), tulis ANTARA.

Baca Juga: Pemkab Tabalong Genjot Penerimaan Sektor Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan

Ia mengungkapkan bahwa Indonesia masih mengimpor komoditas produk singkong untuk produksi tepung tapioka. Pada 2012, impor singkong bahkan pernah mencapai sekitar satu juta ton. Kemudian pada 2016 sekitar 940 ribu ton, 2017 sekitar 740 ribu ton.

Sedangkan sepanjang Januari hingga September tercatat sudah impor sekitar 200-300 ribu ton. Hingga akhir tahun, impor singkong kemungkinan bisa mencapai sekitar 400-500 ribu ton.

Franciscus memaparkan singkong adalah komoditas yang terbagi atas dua kebutuhan yaitu untuk kebutuhan industri umum dan satu lagi adalah kebutuhan untuk industri pangan.

Untuk kebutuhan umum, singkong dibutuhkan untuk industri kertas, industri tekstil, industri kayu lapis, serta untuk industri bioetanol di sektor energi.

Sementara untuk kebutuhan pangan bisa untuk beragam jenis, seperti untuk bahan pemanis, bahan makanan penganan ringan baik dalam bentuk keripik atau kue, hingga bahan komposit yang dibutuhkan untuk produksi mie.

Franky juga menyebut singkong juga memiliki nilai komersial di berbagai bagiannya, seperti untuk daunnya untuk bahan pangan organik yang menyehatkan. Sementara pada kulit atau ampas singkongnya juga bisa digunakan atau diberdayakan untuk biogas.

Apalagi, saat ini ada kebutuhan baru bahwa singkong bisa digunakan untuk industri energi biogas serta bahan plastik organik.

Franciscus juga menekankan pentingnya pembahasan mengenai hubungan antara petani dengan industri melalui program kemitraan.

“Ini penting, tidak banyak yang tahu bahwa kemitraan ini dikontrol oleh pemerintah. Lembaga yang mengontrol ini adalah KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha),” ujarnya.

Sistem dan standard prosedurnya untuk kemitraan tersebut harus diatur, agar petani diproteksi oleh pemerintah.

Sumber: Katadata.com
Editor: Fariz F

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Merespons Sinyal Pemulihan Ekonomi Global, Rupiah Menguat
apahabar.com

Ekbis

Atasi Krisis di Masa Kenormalan Baru, Simak Saran Sandiaga Uno
apahabar.com

Ekbis

Penumpang Garuda Bisa Nginap Hemat di Hotel Aston Banua
apahabar.com

Ekbis

BPS: April 2020, Nilai Tukar Petani Turun
apahabar.com

Ekbis

Kemarau tak Ganggu Produksi Cabai
apahabar.com

Ekbis

Wabah Corona, Kawasan Ekonomi China Jadi Sepi
apahabar.com

Ekbis

Jokowi: BUMN Jangan Ambil Semuanya Proyek Infrastruktur, Berikan Ruang Bagi Swasta
apahabar.com

Ekbis

Tembus 5 Ribu Penumpang, APT Pranoto Segera Perluas Terminal
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com