Tensi Politik Memanas, Bawaslu RI Turun Gunung ke Kalimantan Selatan Buntut Video Guru Wildan, Bawaslu Klarifikasi PWNU Kalsel Resmi! PPKM Mikro di Banjarbaru Kembali Diperpanjang hingga 19 April Hore! Tanah Laut Segera Miliki Stadion Berkapasitas 10.000 Penonton Perhatian! Bandara Syamsudin Noor Tetap Beroperasi Selama Larangan Mudik

Koperasi Bisa Lepaskan Petani Dari Jerat Tengkulak

- Apahabar.com Rabu, 5 Desember 2018 - 12:50 WIB

Koperasi Bisa Lepaskan Petani Dari Jerat Tengkulak

Karli Hanafi Kalianda. Foto-Golkar Borneo

apahabar.com, BANJARMASIN – Anggota Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalimantan Selatan H Karlie Hanafi Kalianda berpendapat, dengan sistem koperasi kemungkinan bisa melepaskan petani dan nelayan dari jeratan ijon atau tengkulak.

Pendapat wakil rakyat bergelar doktor bidang ilmu hukum itu di Banjarmasin, sesudah melaksanakan reses ke daerah pemilihan (dapil) yaitu Kalsel III/ Kabupaten Barito Kuala (Batola) beberapa waktu lalu.

Karlie yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kalsel itu mengaku terenyuh mendengar penuturan petani/pekebun jeruk di “Bumi Salidah” Batola yang merupakan daerah pertanian pasang surut itu. Pasalnya petani/pekebun jeruk Batola tidak maksimal menikmati hasil usaha perkebunan mereka, karena belum bisa terbebas dari injon atau tengkorak.

Sebagai contoh harga jeruk di tempat/pada tingkat petani (di kebun) sepuluh biji cuma sekitar Rp3.000, tetapi ketika dibawa atau dijual di Handil Bakti yang berjarak hanya dalam hitungan kilometer (beberapa kilometer) menjadi Rp6.000.

“Kemudian sampai ke Banjarmasin, dengan kualitas serta jenis yang sama jeruk tersebut mencapai Rp15.000 per sepuluh biji,” tutur mantan aktivis mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin itu menjawab Antara Kalsel.

“Tetapi dengan melalui koperasi permodalan serta pemasaran hasil perkebunan jeruk tersebut bisa terbantu, tidak lagi terikat ijon,” lanjut laki-laki penggemar musik irama jaz tersebut yang seorang pelaku bisnis.

Ia menyarankan pula, mungkin di “Bumi Salidah” Batola tersebut perlu industri kecil/pengalengan buah jeruk agar memberikan nilai tambah, baik bagi masyarakat maupun daerah itu sendiri.

“Apalagi Batola yang merupakan daerah penerima transmigrasi itu mempunyai masa depan yang baik untuk pengembangan agribisnis dan agroindustri jeruk,” demikian Karlie Hanafi.

Salidah motto daerah Batola yang pengertiannya mengutamakan kebersamaan dalam membangun kabupaten tersebut, seiring dengan penduduknya yang majemuk, bukan cuma warga setempat, tetapi pendatang dari berbagai suku bangsa.

Sumber : Antara
Editor : Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Ribuan Agen dan Pangkalan LPG Tetap Beroperasi Saat Libur Lebaran
apahabar.com

Ekbis

Sektor Potensial di Mata Pengusaha Seiring Rampungnya Bandara Syamsuddin Noor
Batu Bara

Ekbis

Harga Batu Bara China Drop, Batu Bara Australia Melandai
apahabar.com

Ekbis

Target Serapan Beras 2019 Naik, Kalimantan Selatan Andalkan Barabai
apahabar.com

Ekbis

Bursa Saham Global Menguat, IHSG Kembali Menghijau
apahabar.com

Ekbis

Apple Hapus Puluhan Ribu Aplikasi China
apahabar.com

Ekbis

Lebaran 2019, Bandara Bersujud Alami Penurunan Penumpang
apahabar.com

Ekbis

Lawan Covid-19, ADB Setujui Hibah 3 Juta Dolar untuk Indonesia
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com