Sasar Mahasiswi Tanah Bumbu, Gembong Jambret Banjarmasin Bertekuk Lutut Banjarmasin Timur Tegang, Remaja Bersajam Kejar-kejaran di Kafe Arwana 2 Mahasiswa Tersangka, Rektor ULM Pasang Badan, Ada Dugaan Miskomunikasi di Kepolisian Sungai Hantakan Meluap, 12 Pondok di Pulau Mas HST Larut Terbawa Arus Libur Panjang di Marabahan, Kelotok Susur Sungai Barito Dibikin Kewalahan

Korupsi Pengadaan Kapal Rp 100 M, Eks Direktur PT DPS Jadi Tersangka

- Apahabar.com Minggu, 30 Desember 2018 - 12:49 WIB

Korupsi Pengadaan Kapal Rp 100 M, Eks Direktur PT DPS Jadi Tersangka

ilustrasi. Foto-net

apahabar.com, SURABAYA – Penyidikan dugaan korupsi di PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS) terus berlanjut. Setelah menjebloskan rekanan ke dalam tahanan, penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim menetapkan mantan direktur PT DPS  Riry Syeried Jetta sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan kapal floating crane senilai Rp100 miliar itu.

Penetapan status tersangka tersebut dibenarkan Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jatim Didik Farkhan Alisyahdi. Dikatakan, dari keterangan saksi dan juga sejumlah barang bukti, Riry diduga kuat terlibat dalam dugaan korupsi pengadaan kapal sekitar tahun 2015 tersebut.

Baik mulai saat perencanaan hingga pada pengadaan.  “Fakta dan hasil pemeriksaan sejumlah saksi menyatakan ada keterlibatan tersangka,” ungkap Didik.

Baca Juga: Penyelundupan Sabu 12 Kg dari Lampung Digagalkan

Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, Riry  tidak ditahan lantaran dianggap kooperatif selama pemeriksaan. “Kami tidak menahan (Riry) karena beliau sangat kooperatif. Saat ini kami terus melengkapi berkas perkara,” ujar mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya ini.

Didik mengatakan dengan penetapan tersangka baru maka sudah ada dua tersangka dalam kasus ini. Sebelumnya, Kejati Jatim sudah menetapkan Presiden direktur PT A&C Trading Network Antonius Aris Saputra selaku rekanan pengadaan kapal. Antonius ditahan rumah tahanan (rutan) Kejati Jatim.

Diketahui, pada 2015, PT DPS mendapat Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp200 miliar. Dari jumlah itu, Rp100 miliar diantaranya digunakan untuk membeli kapal floating crane.

Rekanan dalam pengadaan kapal ini adalah PT A&C Trading Network. Meski alokasi anggarannya sebesar Rp100 miliar, namun harga kapal sendiri dibeli seharga Rp 60 miliar.

Kapal floating crane yang diibeli berasal dari Rusia. Sayangnya, kapal tersebut bukan kapal baru. Melainkan kapal bekas buatan tahun 1973. Ketika kapal itu dibawa ke Indonesia, ternyata tenggelam di Laut China Selatan. Dengan begitu, negara tidak mendapat kemanfaatan dari pembelian kapal tersebut.

Baca Juga: Selama 2018, BNN Sita 7 Ton Sabu

Sumber : Jawa Pos
Editor : Syarif

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hukum

Bawa Paketan Sabu, Seorang Warga Tamban Ditangkap Polisi di Bakumpai Batola
apahabar.com

Hukum

Gegara C1, Caleg PKB Tanah Bumbu Diduga Gebukin Rekan Separtai
apahabar.com

Hukum

Tim Macan Polda Kalsel Bongkar Komplotan Pencuri Sepeda di Banjarmasin
apahabar.com

Hukum

Tega, Seorang Ayah Bunuh Anak Sendiri
apahabar.com

Hukum

2 Tersangka Bersama 6 Paket Sabu Diamankan
apahabar.com

Hukum

Simpan Sabu, Buruh Harian Lepas di Belitung Darat Dibekuk
apahabar.com

Hukum

Beberkan Fakta Baru Komplotan Pencuri Sarang Burung Walet di Pengaron, Begini Keterangan Kapolsek
apahabar.com

Hukum

Polda Kalteng Ringkus Tiga Pengedar Ekstasi dan Sabu di Barito Utara
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com