Dini Hari, Polisi Amankan 9 Motor di Banjarmasin Timur Zakaria, Pejuang Covid-19 di Tanah Laut Tutup Usia Malam Minggu, Siring Laut di Kotabaru Kembali Bernadi walau Pandemi Putrinya Hanyut, Bapak Meregang Nyawa di Irigasi Karang Intan Kabar Baik, Tanbu Tambah Pasien Sembuh dari Covid-19




Home Religi

Minggu, 16 Desember 2018 - 10:31 WIB

Mendengar Khotbah Guru Seman, “Pertikaian” Berujung Damai

Redaksi - Apahabar.com

KH Seman Mulya. Foto-Majelis Taklim Al Munawwarah

KH Seman Mulya. Foto-Majelis Taklim Al Munawwarah

apahabar.com, Tanjung – Di zaman dulu, masyarakat begitu takzim dengan para ulama. Sehingga apabila mereka melihat prilaku ulama yang menurut mereka berbeda dengan apa yang dilakukan kebanyakan orang, mereka tak lantas menyalahkan. Bahkan di antara prilaku ulama kerap menjadi solusi dari pertikaian banyak orang.

Prilaku ulama yang menjadi solusi dari pertikaian banyak orang di antaranya ditunjukkan KH Seman Mulya.

Diceritakan Munadi, di desanya dulu pernah terjadi perbedaan pendapat tentang khotbah Jumat. Satu kubu berpendapat memakai bahasa Arab, dan satu kubu berpendapat memakai bahasa Indonesia.

Baca Juga : Syekh Nafis Al Banjari, Karyanya Lebih Populer dari Makamnya

Perbedaan pendapat itu meruncing, dengan surutnya jemaah ketika satu kubu mengkhotbah. Jika kubu khotbah berbahasa Indonesia dijadwalkan naik menjadi khatib, jemaah pengikut kubu yang lain memilih masjid berbeda. Begitu juga sebaliknya, apabila kubu berbasa Arab yang menjadi khatib, jemaah kubu yang lain memilih masjid lain.

Baca juga :  Hukum Menikah Beda Agama dalam Islam

Akhirnya, kedua kubu ini berembuk dan bersepakat untuk membawa permasalahan ini ke Martapura, yang pada waktu itu menjadi gudangnya para ulama hebat.

Mereka berangkat ke Martapura tepat di hari Jumat. Karena jauhnya perjalanan, mereka sampai di Martapura menjelang waktu shalat Jumat. Mereka pun kemudian shalat jumat di Masjid Agung Al Karomah Martapura.

“Waktu itu yang jadi khatib Guru Seman Mulya. Ternyata beliau khotbah dengan bahasa Indonesia,” ungkap Munadi, mantan Kepala Desa Harus, Kecamatan Muara Harus, Kabupaten Tabalong.

Baca juga :  Didaulat Jadi Ketua MUI Banjar, Guru Muhammad Husin Soroti Muallaf di Paramasan

Kedua kubu yang berbeda pendapat itu pun mengurungkan niatnya untuk menanyakan masalah itu kepada ulama di sana. Mereka bersepakat untuk pulang, dan akan menjalankan khotbah dengan berbahasa Indonesia, sebagaimana yang dilakukan Guru Seman.

Guru Seman Mulya diketahui bukanlah ulama sembarangan. Beliau ulama alumni Tanah Haram yang kerap menjadi rujukan ulama di setiap Bahtsul Masail, yang digelar PBNU di muktamar Nasional mereka.

Baca Juga : Mau Umrah Backpacker, Apa Saja yang Perlu Disiapkan?

Editor: Muhammad Bulkini

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Menelusuri Sejarah Islam di Museum Islam Australia
apahabar.com

Habar

Tablig Akbar Dan Maulid Nabi Muhammad di RTH Ratu Zalecha Dihadiri Ratusan Umat
Raja Malaysia Serukan Umat Islam Shalat Hajat

Habar

Raja Malaysia Serukan Umat Islam Shalat Hajat
apahabar.com

Religi

Ikatan Sayidina Umar bin Khattab dengan Keluarga Rasulullah SAW
apahabar.com

Religi

Cerita Kedekatan Mardani H. Maming dengan Ustaz Das’ad Latif
apahabar.com

Religi

17 Pahala Sahur yang Luar Biasa
apahabar.com

Religi

Kesultanan Banjar, Makmur dan Sejahtera dengan Syariat Islam
apahabar.com

Religi

Dakwah Melalui Institusi Negara Kerajaan Banjar
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com