3 Jam Hujan Deras, Ratusan Rumah Warga Desa Miawa Tapin Kebanjiran Kisah Pilu Istri Korban Disambar Buaya di Kotabaru, Harus Rawat 4 Anak, 1 di Antaranya Berusia 6 Bulan Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah Produksi Migas Kalimantan-Sulawesi Lampaui Target, Kok Bisa? PLTS Tak Berfungsi, Kades Panaan Mengadu ke Dinas ESDM Kalsel

Mendengar Khotbah Guru Seman, “Pertikaian” Berujung Damai

and - Apahabar.com Minggu, 16 Desember 2018 - 10:31 WIB
and - Apahabar.com Minggu, 16 Desember 2018 - 10:31 WIB

Mendengar Khotbah Guru Seman, “Pertikaian” Berujung Damai

KH Seman Mulya. Foto-Majelis Taklim Al Munawwarah

apahabar.com, Tanjung – Di zaman dulu, masyarakat begitu takzim dengan para ulama. Sehingga apabila mereka melihat prilaku ulama yang menurut mereka berbeda dengan apa yang dilakukan kebanyakan orang, mereka tak lantas menyalahkan. Bahkan di antara prilaku ulama kerap menjadi solusi dari pertikaian banyak orang.

Prilaku ulama yang menjadi solusi dari pertikaian banyak orang di antaranya ditunjukkan KH Seman Mulya.

Diceritakan Munadi, di desanya dulu pernah terjadi perbedaan pendapat tentang khotbah Jumat. Satu kubu berpendapat memakai bahasa Arab, dan satu kubu berpendapat memakai bahasa Indonesia.

Baca Juga : Syekh Nafis Al Banjari, Karyanya Lebih Populer dari Makamnya

Perbedaan pendapat itu meruncing, dengan surutnya jemaah ketika satu kubu mengkhotbah. Jika kubu khotbah berbahasa Indonesia dijadwalkan naik menjadi khatib, jemaah pengikut kubu yang lain memilih masjid berbeda. Begitu juga sebaliknya, apabila kubu berbasa Arab yang menjadi khatib, jemaah kubu yang lain memilih masjid lain.

Akhirnya, kedua kubu ini berembuk dan bersepakat untuk membawa permasalahan ini ke Martapura, yang pada waktu itu menjadi gudangnya para ulama hebat.

Mereka berangkat ke Martapura tepat di hari Jumat. Karena jauhnya perjalanan, mereka sampai di Martapura menjelang waktu shalat Jumat. Mereka pun kemudian shalat jumat di Masjid Agung Al Karomah Martapura.

“Waktu itu yang jadi khatib Guru Seman Mulya. Ternyata beliau khotbah dengan bahasa Indonesia,” ungkap Munadi, mantan Kepala Desa Harus, Kecamatan Muara Harus, Kabupaten Tabalong.

Kedua kubu yang berbeda pendapat itu pun mengurungkan niatnya untuk menanyakan masalah itu kepada ulama di sana. Mereka bersepakat untuk pulang, dan akan menjalankan khotbah dengan berbahasa Indonesia, sebagaimana yang dilakukan Guru Seman.

Guru Seman Mulya diketahui bukanlah ulama sembarangan. Beliau ulama alumni Tanah Haram yang kerap menjadi rujukan ulama di setiap Bahtsul Masail, yang digelar PBNU di muktamar Nasional mereka.

Baca Juga : Mau Umrah Backpacker, Apa Saja yang Perlu Disiapkan?

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Total Layani Umrah, Arab Saudi Siapkan 4 Ribu Pekerja, 100 Ribu Masker, dan 9 Ribu Sajadah
apahabar.com

Habar

Jelang Haul ke 15 Guru Sekumpul, Petugas dan Relawan Terus Berjibaku Bersihkan Drainase
apahabar.com

Habar

Besok, Masjid Tertua di Liang Anggang Banjarbaru Tidak Gelar Salat Idul Fitri
apahabar.com

Habar

Meski Aman, Dinkes Kalsel Antisipasi Masuknya Virus Corona di Momentum Haul Guru Sekumpul ke 15
apahabar.com

Religi

Perempuan Terlihat Dagu saat Salat, Apa Hukumnya?
apahabar.com

Religi

Guru Zuhdi: Jika Melihat Keburukan Orang, Ketahuilah Itu Keburukanmu
apahabar.com

Religi

Awal Pembangunan Masjid Nabawi
apahabar.com

Religi

Begini Anjuran Nabi untuk Mengikat ‘Keharmonisan’
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com