Temui Pacar, Begal Sadis di Gunung Kayangan Pelaihari Ditembak Petugas Perhatian! PT KPP Rantau Ngutang Pajak Alat Berat Rp 1,8 M Warung Jablay di HSS Meresahkan, MUI Ngadu ke DPRD Jelang Pencoblosan, Warga Kalsel Diimbau Jangan Telan Mentah-Mentah Berita Medsos Disbudpar Banjarmasin Rilis Dua Wisata Baru, Cek Lokasinya

“Parukunan Jamaluddin” Ternyata Ditulis Ulama Perempuan Berdarah Banjar-Bugis

- Apahabar.com Kamis, 27 Desember 2018 - 20:00 WIB

“Parukunan Jamaluddin” Ternyata Ditulis Ulama Perempuan Berdarah Banjar-Bugis

Cover Kitab Parukunan. Foto-abusyahmin.blogspot.com

apahabar.com, BANJARMASIN – Kitab “Parukunan Melayu” atau yang juga dikenal dengan Kitab “Parukunan Jamaluddin” ternyata ditulis oleh ulama dari kalangan perempuan. Nama beliau adalah Syekhah Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis.

Kitab Parukunan merupakan kitab populer dalam kehidupan masyarakat Melayu. Bagi masyarakat Banjar, Kitab Perukunan ini tidak hanya dipelajari, akan tetapi juga menjadi rujukan utama dalam melaksanakan ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam bahasa Banjar, “parukunan” bermakna uraian dasar tentang perkara-perkara yang diwajibkan oleh agama yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, mencakup rukun Islam (fiqih), rukun iman (tauhid), dan rukun ihsan (tasawuf).

Salah satu kitab perukunan yang terkenal adalah “Parukunan Melayu” yang juga dikenal dengan “Parukunan Jamaluddin”. Kitab ini pertama kali diterbitkan oleh Mathba‘ah al Miriyah al Kainah, Makkah, pada tahun 1315 H/1897 M. Kemudian dicetak ulang di berbagai negara, seperti Singapura (1318 H), India (Bombay), Thailand, Indonesia, dan Malaysia.

Baca Juga: Kapal Datu Kelampayan Hampir Tenggelam, Ternyata Jin Ini Pelakunya

Meski tampak sederhana, kitab ini juga dipelajari kaum muslimin di Malaysia, Philipina, Vietnam, Kamboja, dan Myammar.

Kitab Parukunan tersebut, menurut peneliti asal Belanda, Prof Martin Van Bruinessen dalam tulisannya ‘Kitab kuning dan Perempuan, Perempuan dan Kitab Kuning’; “Pada umumnya tutur lisan masyarakat Banjar menyatakan bahwa kitab ‘Perukunan Jamaluddin’ ini merupakan karya Syekhah Fatimah, cucu Syekh Arsyad Al Banjari dan anak saudara perempuan Syekh Jamaluddin sendiri.”

Lantas mengapa kitab parukunan itu diatas-namakan Jamaluddin? Menurut Prof Martin, identitas pengarang sengaja disembunyikan karena anggapan pada masa itu, menulis kitab adalah “pekerjaan” laki-laki.

Lebih jauh, demikian sambung Guru Besar Studi Islam dari Belanda ini, kalau sejarah digali, tidak mustahil kita akan menemui perempuan lain yang menguasai ilmu-ilmu agama dan telah menulis kitab, namun sumbangan mereka ternyata diingkari dan diboikot.

Baca Juga: Pemimpin Pemberontak: Aku Menyerah dengan Tuan Guru Zainal Ilmi

Sumber: abusyahmin.blogspot.com
Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hikmah

Simak Hadits Nabi Muhammad Tentang Tiga Perkara Penyelamat Manusia dari Siksaan Allah
Mengenal Prof Dr Manan Embong, Pembawa Puluhan Pusaka Rasulullah ke Martapura

Habar

Mengenal Prof Dr Manan Embong, Pembawa Puluhan Pusaka Rasulullah ke Martapura
apahabar.com

Religi

Adab Bertamu dan Menjamu Tamu Ala Rasulullah
apahabar.com

Habar

Saudi Batasi Usia Jemaah, Komnas Haji dan Umrah Sarankan Dua Opsi Keberangkatan
apahabar.com

Habar

Lebaran di Tengah Pandemi, MUI Imbau Halal Bihalal Via Online
apahabar.com

Religi

Tarawih Ala Haramain akan Digelar di Masjid Al Markaz Makassar
apahabar.com

Religi

Kisah Nabi Idris Menemui Malaikat Pencabut Nyawa
apahabar.com

Religi

Doa Orang Sakit Sama dengan Doa Malaikat
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com