Hari Tahu Sedunia: Walhi Kalsel Desak Pemerintah Buka-bukaan soal Kontrak Tambang Raksasa Kilang Minyak Rp300 Triliun di Kotabaru Masih Angan-Angan Komandan Macan Kalsel ke Pembunuh Brutal Gambah HST: Serahkan Diri! Keselamatan Dijamin Ribut-Ribut Salah Tangkap Mahasiswa HMI Barabai Berakhir Antiklimaks Tinjau Penataan Sekumpul, Dirjen Cipta Karya Ngomel-Ngomel!

Pengamat: Pertanian Indonesia “Mati Rasa”

- Apahabar.com     Jumat, 21 Desember 2018 - 16:41 WITA

Pengamat: Pertanian Indonesia “Mati Rasa”

Foto-Media Indonesia.

apahabar.com, BANJARMASIN- Pengamat pertanian asal Semarang, menilai jika pertanian Indonesia mengalami “mati rasa”.

Disampaikan Pengamat dari Yayasan Nusa Bangsa (Ansa), Semarang, Samaji usai memperhatikan jumlah hasil pertanian Indonesia yang terus menyusut dari tahun ke tahun.

“Kalo saya melihat perkembangannya, hasil pertanian kita tidak berkelanjutan. Kalau berkelanjutan pasti hasilnya meningkat,” kata Samaji dihubungi apahabar.com, Jumat (21/12) siang.

Dunia Pertanian yang tidak akan berumur panjang, kata dia, dilihat dari cara kerja pupuk kimia yang tidak terukur. Petani dalam satu hektar rata-rata memberikan lebih dari satu jenis pupuk kimia.

Ini yang diklaim Samaji kondisi Pertanian Indonesia mengalami “mati rasa”. Melihat pola itu, Samaji mengklaim tanah akan kehilangan unsur-unsur penting untuk menjaga tumbuhan.

Baca Juga: Ubah Pola Kerja Petani Banjar, Begini Cara Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lakukan

“Gini loh, sebenarnya pupuk kimia bagus-bagus saja, tapi harusnya terukur dalam penggunaanya,” ujarnya.

Dari sisi lain, Samaji juga memberikan gambaran dampak akibat mengonsumsi sayur atau hasil pertanian yang di pupuk kimia yang tidak terukur. Selain akan menimbulkan berbagai penyakit, harapan hidup dengan usia lebih dari 50 tahun menipis.

Kalau diperhatikan, bekas cairan kimia yang menempel di dalam sprayer (alat semprot tanaman) itu tidak bisa hilang walau di cuci dengan air panas.

Samaji, pelatih pertanian ini sudah berhasil mengembangkan pertanian tanpa mengunakan sedikit pun bahan kimia. Hasilnya pun, kata dia, sangat berkualitas.

Salah satu yang dia sudah coba adalah tanaman padi. Selain hasil panen yang baik memuaskan, kualitas beras yang dihasilkan pun setelah dimasak tidak cepat basi.

“Sebenarnya, pupuk organik di Indonesia itu sangat banyak, namun banyak yang tidak terukur,” imbuhnya.

Sekedar diketahui, atas terobosannya, Samaji diminta Bank Indonesia sebagai pelatih pertanian.

Baca Juga: Miris Lihat Pola Kerja Petani Banjar, Menteri Pertanian: Kapan Majunya

Reporter: Rizal Khalqi
Editor: Fariz

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Rupiah

Ekbis

Spekulasi Pengetatan The Fed, Rupiah Awal Pekan Ikut Melemah
apahabar.com

Ekbis

Akhir Pekan, IHSG Diramal Perkasa

Ekbis

Kadin Apresiasi Sertifikasi Halal Gratis untuk UMKM dalam UU Ciptaker

Ekbis

Wacana Investasi Oman Senilai Rp 300 Triliun di Kotabaru Disambut ‘Karpet Merah’
Aset Kripto XRP

Ekbis

Sederet Alasan Aset Kripto XRP Tak Direkomendasikan untuk Investasi Jangka Panjang!
apahabar.com

Ekbis

Jelang Pelantikan Jokowi-Ma’ruf, Rupiah Kembali Menguat
apahabar.com

Ekbis

Gandeng Polisi, OJK Segera Panggil Dua Pegadaian Swasta Belum Kantongi Izin di Kalsel
Ilustrasi dolar. Foto-Istimewa

Ekbis

Melemah Lagi, Dolar AS Tinggalkan Level Rp 14.500!
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com