Ibadah Ramadan di Banjarbaru Diperbolehkan dengan Prokes, Petasan Jangan! Bawaslu Kalsel Tanggapi Santai Aduan Denny Indrayana ke Pusat Kronologi Lengkap Penemuan Jasad Tak Utuh di Gang Jemaah II Banjarmasin Mudik Dilarang, Terminal Pal 6 Banjarmasin Tutup Rute Antarkabupaten-kota Mudik Ramadan Dilarang, Pertamina Kalimantan Tambah 3 Persen Pasokan Gas

Populasi Lumba-lumba di Australia Turun, Perubahan Iklim Pemicunya

- Apahabar.com Sabtu, 1 Desember 2018 - 16:41 WIB

Populasi Lumba-lumba di Australia Turun, Perubahan Iklim Pemicunya

Ilustrasi puluhan lumba-lumba mati. Foto-Asahi

apahabar.com, CANBERRA – Populasi lumba-lumba di Pelabuhan Darwin di Northern Territory (NT) Australia dikabarkan turun separuh selama 7 tahun terakhir (2011-2017). Perubahan Iklim diduga menjadi penyebabnya.

Carol Palmer, ilmuwan senior di Departemen Lingkungan Hidup NT, telah mengamati penurunan tetap jumlah ikan lumba-lumba di Pelabuhan Darwin sejak 2011.

Pelabuhan tersebut adalah habitat bagi tiga spesies ikan lumba-lumba kecil di pantai tropis; lumba-lumba snubfin Australia –yang nyaris terancam, humpback Australia dan bottlenose pantai.

“Mengenai ikan lumba-lumba humpback Australia, yang datanya paling banyak kami peroleh, mereka paling sering terlihat di dalam Pelabuhan Darwin, dan populasinya telah merosot dari sebanyak pertengahan 40-an, jadi 20-an,” kata Palmer kepada Australian Broadcasting Corporation (ABC) pada Jumat (30/11).
Di wilayah Darwin yang lebih luas, populasi humpback telah anjlok dari 88 pada 2011 jadi 50 pada 2017.

Populasi ikan lumba-lumba bottlenose telah merosot dari 28 jadi 23 dan populasi lumba-lumba snubfin dari 32 jadi 24.

Palmer, sebagaimana dilaporkan Xinhua, Sabtu pagi, mengidentifikasi perubahan iklim dan peningkatan suara di bawah air, sebagai kemungkinan penyebab berkurangnya populasi ikan lumba-lumba. Hewan tersebut memiliki kepekaan tinggi terhadap suara.

“Peningkatan suara di bawah air, ketersediaan mangsa, dan sejumlah masalah yang berkaitan dengan perubahan iklim menjadi penyebabnya,” kata ilmuwan itu.

“Pada 2016, kami mencatat temperatur permukaan laut yang paling tinggi di Pelabuhan Darwin, dan seluruh Northern Australia, dan kami mengetahui dari kegiatan yang dilakukan di luar negeri yang dapat mempengaruhi perkembang-biakan ikan serta ketersediaan mangsa.”

Sumber: Antara

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Global

Kanada Kurang Tenaga Kerja, Ada 430 Ribu Lowongan Belum Terisi
WHO Eropa

Global

WHO Eropa Khawatir Vaksin Covid-19 Tak Mampu Tangani Corona Baru
apahabar.com

Global

Emas Berjangka Naik Didukung Pelemahan Dolar AS

Global

Akun Instagram Paus Fransiskus Kedapatan Nge-like Foto Model Seksi Asal Brasil, Begini Komentar Sang Model
apahabar.com

Global

MUI Kecam Keras Penindasan Muslim Uighur di Tiongkok
Himalaya

Global

Gletser Himalaya Pecah, 150 Warga India Diduga Tewas
Corona

Global

WASPADA! Varian Baru Corona Terdeteksi Masuk Asia

Global

Satu Jam Usai Gempa Jepang, Peringatan Tsunami Dicabut
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com