Hari Tahu Sedunia: Walhi Kalsel Desak Pemerintah Buka-bukaan soal Kontrak Tambang Raksasa Kilang Minyak Rp300 Triliun di Kotabaru Masih Angan-Angan Komandan Macan Kalsel ke Pembunuh Brutal Gambah HST: Serahkan Diri! Keselamatan Dijamin Ribut-Ribut Salah Tangkap Mahasiswa HMI Barabai Berakhir Antiklimaks Tinjau Penataan Sekumpul, Dirjen Cipta Karya Ngomel-Ngomel!

Rhenald Prihatin Banyak Opini Miring Terkait Freeport

- Apahabar.com     Senin, 24 Desember 2018 - 16:38 WITA

Rhenald Prihatin Banyak Opini Miring Terkait Freeport

Eks kegiatan tambang Freeport.Foto-Suara Merdeka

apahabar.com, JAKARTA – PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) kini resmi mengambil alih 51,23 persen saham PT Freeport Indonesia (PTFI) senilai USD 3,8 miliar. Namun, berbagai kritikan pedas turut mengiringi pencaplokan salah satu tambang emas terbesar di dunia ini, sebab pemerintah kudu merogoh kocek guna mengakuisisi saham Freeport.

Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali mengaku prihatin atas rentetan ucapan miring berlebih tersebut.

“Bangun Freeport itu bukan seperti kasih orang ngontrak tanah di atas tanah kita seperti ucapan wakil rakyat yang mungkin kurang paham atau belum pernah jalan-jalan ke areal tambang di puncak gunung,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Senin (25/12/2018).

“Atau mungkin juga mereka belum pernah belajar corporate strategy dan corporate finance. Jadi wajar kalau orang kurang kompetensi berpendapat bebas. Lucu-lucuan bisa terjadi,” tambahnya.

Dia beranggapan, getir juga melihat pernyataan para pengamat yang telah memaki bangsanya goblok atas upaya akuisisi saham PTFI ini. Padahal menurutnya, perwakilan negara telah membuat pusing petinggi Freeport dengan deal yang katanya hebat.

“Namun saya menduga, mereka yang ngamuk-ngamuk itu hanya kurang kompetensi saja. Maklum menganalisis Freeport ini complex. Ini gabungan macro-micro, corporate finance dan fiscal policy, masalah hukum dan lingkungan hidup, antara kepentingan domestik dengan global value chain,” paparnya.

Selain itu, ia mengatakan, kesuksesan ini pun memiliki dampak politis yang cukup mengundang opini. “Jadi biasa saja. Kalau sudah cukup berilmu pasti mereka bisa lebih rendah hati dan tak main kasih cap goblok ppada orang lain. Saya yakin mereka akan sampai ke sana. Namun tentu harus banyak sabar dan belajar secara komprehensif,” sambungnya.

Rhenald melanjutkan, ada perbedaan mendasar antara bumi Papua dan kekayaan alam yang dimiliki negara dengan perusahaan tambang yang dipunyai asing.

“Kita tak pernah mendirikan Freeport. Juga tak pernah taruh uang di perusahaan itu sehingga kita punya saham. Jadi kalau Freeport diusir atau berakhir (2021) yang kembali ke pangkuan kita ya cuma buminya saja, tanahnya. Lalu untuk eksploitasinya kita harus tanam modal juga bukan? Artinya keluar duit lagi, bukan?” jelasnya.

Baca Juga: Mudik Natal dan Tahun Baru, Pertamina Siagakan Pasokan 24 Jam

Sumber : Liputan6.com
Editor : Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Dua Luka Tusuk Bersarang di Perut, Wiranto Sempat Sadar
apahabar.com

Nasional

Fantastis, Penikahan Pengantin Ini Disebut Termahal karena Uang Panaik Rp4 M!
apahabar.com

Nasional

Jokowi Tegaskan Belum Ada Pelonggaran PSBB
PPKM Darurat

Nasional

PPKM Darurat Habis, Pemerintah Diminta Balik ke Undang-Undang
apahabar.com

Nasional

Resmi, Bukit Asam Kelola Tambang Tersangka Jiwasraya
apahabar.com

Nasional

Jayapura Diterjang Banjir Bandang, Korban Mencapai 42 Orang
apahabar.com

Nasional

Rumah Gerakan 98: Jangan Pilih Presiden dengan Sejarah Kelam
apahabar.com

Nasional

Ria Winata Tolak Keras Ajakan Makan Siang Rp50 Juta dan Range Rover
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com