BREAKING NEWS Legenda Barito Putera Yusuf Luluporo Meninggal Dunia di Usia 47 Tahun Geledah Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, KPK Amankan Uang dan Dokumen Waspada Penularan Covid-19 di Libur Panjang, Disdik Banjarmasin Imbau Pelajari Patuhi Prokes Bikin Haru, Simak Curahan Mama Lita MasterChef Indonesia Pasca-ditinggal Suami Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah

Tsunami di Selat Sunda Fenomena Langka

- Apahabar.com Minggu, 23 Desember 2018 - 16:38 WIB

Tsunami di Selat Sunda Fenomena Langka

Tsunami di Selat Sunda termasuk fenomena langka. Foto - antara.com

apahabar.com, JAKARTA – Tsunami menerjang pesisir Banten dan Lampung, Sabtu 22 Desember malam, terindikasi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Kepala Pusat Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyatakan ini termasuk fenomena alam langka.

“Feomena tsunami di Selat Sunda termasuk langka. Letusan Gunung Anak Krakatau juga tidak besar. Tremor menerus, namun tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigaikan. Tidak ada gempa yang memicu tsunami saat itu,” kata Sutopo melalui akun Twitternya, Minggu (23/12/2018).

Sutopo sempat menyatakan tidak ada tsunami di Banten, lalu kicauan itu dihapus karena ada kesalahan informasi.

“Saya mohon ijin. Twitt di awal yang mengatakan tidak ada tsunami saya hapus. Agar tidak membingungkan. Kesalahan awal terjadi karena mengacu data dan informasi dari berbagai sumber bahwa tidak ada tsunami. Namun sudah direvisi karena mengacu data dan analisis terbaru.”

BNPB mencatat bahwa hingga pukul 10.00 WIB tadi, jumlah korban meninggal akibat tsunami di Selat Sunda sudah 62 orang, 584 orang luka dan 20 orang hilang. Ratusan rumah dan bangunan rusak. Alat berat dikerahkan ke lokasi untuk membantu evakuasi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengindikasikan bahwa tsunami yang menerjang Banten dan Lampung terjadi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Pukul 21.03 WIB malam tadi terdeteksi bahwa ada erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kepala Dwikorita Karnawati menyatakan bahwa tipe dan pola gelombang tsunami di Selat Sunda mirip dengan tsunami yang menyapu wilayah Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah pada akhir September lalu.

“Polanya mirip gelombang tsunami yang terjadi di Palu, sehingga kami koordinasi dengan badan geologi,” kata Dwikorita.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kasbani mengatakan, penyebab tsunami di Selat Sunda akibat letusan Gunung Anak Krakatau masih harus didalami lagi.

“‎Hal ini masih didalami, karena ada beberapa alasan untuk bisa menimbulkan tsunami, pertama saat rekaman getaran tremor tertinggi yang selama ini terjadi sejak bulan Juni 2018 tidak menimbulkan gelombang terhadap air laut bahkan hingga tsunami,” ujarnya.

Kemudian, ‎material lontaran saat letusan yang jatuh di sekitar tubuh gunung api masih bersifat lepas dan sudah turun saat letusan ketika itu. Untuk menimbulkan tsunami sebesar itu perlu ada runtuhan yang cukup masive (besar) yang masuk ke dalam kolom air laut.

Sumber : Okezone
Editor : Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

saubhaya.com

Nasional

MK Batalkan Aturan Batas Usia Menikah untuk Perempuan
apahabar.com

Nasional

Ada 70 Hoax Beredar Selama Januari 2019
apahabar.com

Nasional

Semangat Kerja Usai Libur Lebaran, Ini Caranya
apahabar.com

Nasional

Update Jumlah Korban Tsunami: 437 Orang Tewas, 14.059 Luka
apahabar.com

Nasional

Adelia ‘Spiderman’ Cilik Asal Pekalongan Mulai Latihan Panjat Tebing
apahabar.com

Nasional

Viral, Video Pimpinan Muhammadiyah Pekalongan Wafat saat Salat di Masjid
apahabar.com

Nasional

Dipertanyakan FUI Soal Tempat Tabulasi Suara, Begini Penjelasan KPU
apahabar.com

Nasional

Anak dan Mantu Maju Pilkada, Jokowi: Rakyat Sudah Pintar Memilih
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com