Fix, Pengeboran Migas di Mahakam Ulu Kaltim Lanjut 2021 Seruan Jokowi: Buru Pelaku Pembantaian Satu Keluarga di Sigi! Malu-maluin! Pemuda di Kotabaru Jambret Wanita demi Komix Terungkap, Korban Tewas Kecelakaan di Tapin Warga Wildan Banjarmasin INALILAHI Hujan Lebat, Pengendara Vario di Tapin Tewas

Ulama Wanita yang Bersembunyi dari Nama Besar Sang Paman

- Apahabar.com Jumat, 28 Desember 2018 - 10:03 WIB

Ulama Wanita yang Bersembunyi dari Nama Besar Sang Paman

Ilustrasi. Foto-mubadalahnews.com

apahabar.com, BANJARMASIN – Penulis Kitab “Parukunan Jamaluddin”, Syekhah Fatimah merupakan seorang ulama di masanya. Namun menariknya, beliau tak menuliskan nama di karyanya. Siapa sebenarnya ulama ini?

Syekhah Fatimah diketahui adalah cucu dari Ulama Besar Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, dari anak perempuannya yang bernama Syarifah dan bersuami Syekh Abdul Wahab Bugis (sahabat Syekh Muhammad Arsyad).

Tumbuh di keluarga ulama besar membuat Syekhah Fatimah mudah mendapatkan ilmu agama. Ayahnya, Syekh Abdul Wahab Bugis dan ibunya Syarifah, bukanlah orang sembarangan.

Keduanya memiliki ilmu yang mumpuni. Jika sang ayah adalah alumni Tanah Suci, Sang ibu adalah anak sekaligus murid dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Syekhah Fatimah dikabarkan menguasai berbagai ilmu agama. Seperti, Bahasa Arab, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ushuluddin, dan Fiqih. Dia bersama dengan saudara seibunya -Muhammad As’ad-, gigih menyebarkan agama Islam di Tanah Banjar. Jika saudaranya menjadi guru di kalangan laki-laki, Syekh Fatimah menjadi guru di kalangan wanita.

Baca Juga: “Parukunan Jamaluddin” Ternyata Ditulis Ulama Perempuan Berdarah Banjar-Bugis

Namun di zaman itu, Syekh Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang tak lain adalah paman dari Syekhah Fatimah, menjabat sebagai Mufti Kerajaan Banjar. Sehingga menurut Ahmad Juhaidi (2009) dalam tulisannya yang berjudul “Untuk Kartini di Tanah Banjar”, ada dua kemungkinan mengapa Kitab Parukunan diatasnamakan Mufti Jamaluddin.

Pertama, pihak kerajaan hanya mengakui otoritas ilmu agama Islam hanya dipegang oleh mufti kerajaan yang dijabat oleh Syekh Jamaluddin. Fatwa keagamaan yang tidak dikeluarkan mufti tidak diakui dalam struktur Kerajaan Banjar ketika itu. Bisa jadi, jika parukunan itu diklaim sebagai tulisan Fatimah, bukan mufti kerajaan, beragam hukum fiqih dalam Parukunan tidak diakui kebenarnnya.

Kedua, Fatimah melihat kepentingan yang lebih besar dengan tidak ditulisnya namanya sebagai pengarang Parukunan tersebut. Dengan mencantumkan nama Syekh Jamaluddin, kitab itu akan cepat diakui kerajaan dan masyarakat luas, dan Fatimah, barangkali sebagai keponakan merasa berkewajiban menghormati pamannya yang notabene pemegang otoritas Islam tertinggi di Kerajaan Banjar.

Baca Juga: Kapal Datu Kelampayan Hampir Tenggelam, Ternyata Jin Ini Pelakunya

Sumber: abusyahmin.blogspot.com dan Alif.id
Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Puluhan Ribu Jemaah Hadiri Haul Datu Sanggul ke-254
apahabar.com

Habar

GP Al Washliyah Banjarmasin Mengutuk Keras Penusukan Syekh Ali Jaber
apahabar.com

Ceramah

Sunah Tak Sebatas Tampilan
apahabar.com

Hikmah

Mengetuk Pintu Baitullah dari Rumah, Cerita Haji Mabrur Tukang Sol Sepatu
apahabar.com

Religi

Innalillah, Kiai NU Wafat Tak Lama Usai Tuntun Istri Baca Syahadat Sakratulmaut
apahabar.com

Religi

Syekh Ali Jaber Kini Kembali ke Indonesia, Setelah Sempat Dirawat di RS Al Anshar Madinah
apahabar.com

Habar

Pondok Darul Hijrah IV di Tanbu Buka Donasi Bagi Dermawan
apahabar.com

Religi

Dijuluki Syaithan, Pembunuh Bayaran Ini Akhirnya Memeluk Islam di Hadapan Rasulullah SAW
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com