BREAKING NEWS Legenda Barito Putera Yusuf Luluporo Meninggal Dunia di Usia 47 Tahun Geledah Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, KPK Amankan Uang dan Dokumen Waspada Penularan Covid-19 di Libur Panjang, Disdik Banjarmasin Imbau Pelajari Patuhi Prokes Bikin Haru, Simak Curahan Mama Lita MasterChef Indonesia Pasca-ditinggal Suami Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah

Berhasil Lahirkan Bayi Kembar Hasil Rekayasa Genetik, Ilmuan Berurusan dengan Polisi

- Apahabar.com Jumat, 25 Januari 2019 - 12:15 WIB

Berhasil Lahirkan Bayi Kembar Hasil Rekayasa Genetik, Ilmuan Berurusan dengan Polisi

Bayi kembar hasil rekayasa. Foto-Pixabay

apahabar.com, CHINA – Kepolisian China menahan ilmuwan bernama He Jiankui. Ilmuwan ini mengklaim dirinya telah menciptakan teknologi mutakhir berupa bayi hasil rekayasa genetika pertama di dunia. Sebelumnya, Jiankui dengan gamblang mengumumkan kelahiran bayi hasil ciptaannya tersebut pada November 2018.

Menanggapi hal tersebut, kepolisian China langsung melakukan tindakan tegas termasuk melakukan penyedikan lebih dalam pada eskperimen genetik yang tengah dilakukannya.

Sebuah tim penyidik mengatakan kepada kantor berita resmi Xinhua bahwa, hasil menyelidikan menyimpulkan Jiankui telah melakukan penelitian secara illegal, termasuk membentuk sebuah tim yang beranggotakan beberapa warga negara asing.

Laporan itu semakin diperparah karena Jiankui dan timnya diketahui secara sengaja menghindari pengawasan dari pihak berwajib. Ia juga menggunakan teknologi yang ternyata dilarang oleh pemerintah setempat, serta memalsukan sejumlah hasil penelitian yang ia lakukan sejak Maret 2017 sampai November 2018.

Jiankui bahkan diketahui merekrut delapan pasangan suami istri untuk berpartisipasi dalam eksperimennya, hingga menciptakan dua kehamilan. Salah seorang wanita diklaim telah melahirkan anak kembar yang kemudian diberi nama “Lulu” dan Nana”, ujar para peniliti. Sementara wanita lain dilaporkan tengah mengandung janin hasil rekayasa genetik ciptaannya.

Baca Juga: Pipa Bensin Bocor, Kebakaran Hebat Landa Meksiko, 20 Orang Tewas

Pihak kepolisian mengatakan, Jinakui dan seluruh anggota timnya akan dikenakan hukuman pidana atas tuduhan melakukan eksperimen secara ilegal. Selama masa investigasi, Pemerintah Guandong telah mengeluarkan pernyataan bahwa mereka akan menjaga dua bayi kembar yang dilahirkan dari hasil eksperimen tersebut.

Keputusan mereka ternyata disambut baik oleh para ilmuwan di seluruh dunia.

Seorang ahli biologi yang tidak ingin namanya disebutkan mengungkapkan, “Ini adalah hasil yang membuat saya senang. Sudah seharusnya pemerintah melakukan tindakan yang tegas, dan memberikan perlindungan kepada bayi-bayi itu,”.

Lebih lanjut ia menjelaskan, beberapa ilmuwan sebetulnya juga sering melakukan eksperimen genetik, namun menggunakan media tikus laboratorium.

Sementara itu, dalam sebuah wawancara dengan Beijing Yout Daily, Shao Feng, dari Academy of Sciences sekaligus Deputi Direktor National Institute of Biological Sciences mengatakan, seluruh insiden ini perlu diselidiki secara komprehensif.

“Jika saya menangani masalah ini, saya tidak akan pernah memberi tahu (si kembar) bahwa gen mereka telah direkayasa, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan seperti orang normal. Saya pikir itu adalah pilihan yang terbaik,” kata Shao Feng.

Selain itu, Shao juga khawatir tentang risiko kesehatan potensial yang akan dihadapi anak kembar itu, sekaligus dampak dari eksperimen itu terhadap keberlangsungan hidup umat manusia.

“Begitu gerbang rekayasa genetik terbuka lebar, umat manusia akan selesai. Teknologi itu sangat kuat, namun fakta yang menakutkan adalah, siapa pun yang memiliki kemampuan atau sering melakukan eksperimen di dalam lab bisa melakukannya,” tutupnya.

Sejak mengumumkan kelahiran sang bayi kembar di KTT Internasional Kedua tentang Human Genome Editing di Hongkong pada November lalu, Jiankui belum terlihat di depan publik. Beberapa laoran media mengklaim dia telah menjadi tahanan rumah atau bahkan ditahan polisi setempat. Demikian dilansir dari South China Morning Post, Jumat (25/1/2019).

Baca Juga: Pria Tertua Dunia Meninggal di Usia 113 Tahun

Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Internasional

Rusia Enggan Tiru Prancis, Terbitkan Karikatur Hina Islam
apahabar.com

Internasional

Atasi Gejala Covid-19, Warga Amazon Pilih Konsumsi Daun Jambu
apahabar.com

Internasional

Dipukul Pandemi, Jutaan Orang di AS Kehilangan Pekerjaan Permanen
apahabar.com

Internasional

Jokowi Bahas Isu Pencaplokan Tanah Palestina dengan Abbas
apahabar.com

Internasional

Gmail dan Drive Down Bersamaan, Google Buka Investigasi
apahabar.com

Internasional

Belajar dari Ledakan di Lebanon, Mengapa ‘Bahan Pupuk’ Ini Bisa Begitu Berbahaya
apahabar.com

Internasional

Ditangkap Gegara Sebut Covid-19 Hoaks
apahabar.com

Internasional

Planet Mars Dekat dengan Bumi Terulang 15 Tahun Lagi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com