2 Mahasiswa Tersangka, Rektor ULM Pasang Badan, Ada Dugaan Miskomunikasi di Kepolisian Hasil Liga Champions, Tanpa Ronaldo Juventus Ditekuk Barcelona, Messi Cetak Gol, Skor Akhir 2-0 Alasan Sekolah Tatap Muka di Banjarmasin Terancam Batal Beredar Video 62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah Saat Demo Anti UU Omnibus Law, Sosok Pelaku Terekam? Video Detik-detik Buaya Raksasa Diangkat dari Sungai Kayubesi Babel, Diyakini Warga Sebagai ‘Siluman’

Dosen UI: Belum Ada Terobosan Pemberantasan Korupsi

- Apahabar.com Jumat, 18 Januari 2019 - 19:35 WIB

Dosen UI: Belum Ada Terobosan Pemberantasan Korupsi

Ilustrasi debat perdana Capres dan Cawapres 2019 . Foto-apahabar.com/infografis/aji

apahabar.com, DEPOK – Dosen Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), dikutip dari Antara, Vishnu Juwono menyatakan kedua pasangan calon belum menyediakan terobosan dalam memberikan solusi untuk memberantas akar permasalahan korupsi di Indonesia.

Hal ini disampaikan Vishnu Jowono saat ditemui di Kampus UI, Depok, Jumat (18/1/2019), menanggapi hasil debat pertama calon Presiden Republik Indonesia antara pasangan calon Jokowi Ma’aruf Amin dengan Prabowo Sandiaga Uno, Vishnu mengatakan pada babak pertama menanggapi pertanyaan terkait politik biaya tinggi di Indonesia, calon presiden petahana Jokowi lebih menekankan aspek meritrokrasi di dalam Aparatur Sipil Negara, terutama dalam mendapatkan birokrat dan pejabat negara yang kompeten.

“Di mana titik beratnya adalah merekrut pemimpin dan aparat birokrasi yang lebih transparan serta akuntabel,” ucapnya.

Disisi lain, capres nomor urut 02 Prabowo Subianto, lebih spesifik mengangkat gaji pejabat tinggi yang telalu kecil dibandingkan tanggung jawab dalam pengelolaan dana pada level pemerintah daerah serta pemerintah pusat.

“Aspek gaji dan rekrutmen sebenarnya relevansinya tidak terlalu besar dengan masalah politik biaya tinggi,” ujar penulis buku Melawan Korupsi (2018) ini.

Baca Juga: Prabowo: Penerimaan Perpajakan RI Sudah Lama Tembus US$ 60 M

Sebenarnya yang paling penting perlu diangkat adalah apa program kedua kandidat dalam melakukan reformasi partai politik.

Misalnya, bagaimana negara dapat memberikan subsidi yang cukup besar pada partai politik yang lolos dalam pemilihan umum untuk menanggung biaya operasional politik mereka.

Selama ini partai politik tidak memiliki dana yang cukup, sehingga memberikan peluang kepada oligarki untuk menanggung biaya operasional politik tersebut.

“Tidak heran di era reformasi ini jabatan politik strategis baik di eksekutif, yudikatif dan legislatif di dominasi oleh para pemodal melalui partai politik,” tutur putra dari Juwono Sudarsono tersebut.

Baca Juga: Analis: Jokowi Lebih Agresif Daripada Prabowo Dalam Debat

Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Politik

Ikut Kampanye Jokowi, Bupati dan Wabup Jember Ajukan Cuti
apahabar.com

Politik

Gantikan Harbiansyah, Isran Noor Resmi Pimpin Nasdem Kaltim
apahabar.com

Politik

Pilbup Banjar: Maju Independen, Yunani Blakblakan Soal Mahar Parpol
apahabar.com

Politik

Dahnil: Prabowo Berdiskusi Dua Jam Jelang Debat
apahabar.com

Politik

Nyalon di Kabupaten Tetangga, Sekda Banjarbaru Siap Pensiun Dini
apahabar.com

Politik

‘Kuningkan’ Kiram, Golkar Siap Ulang Cerita Manis di Kalsel
apahabar.com

Politik

SK Golkar Terbit, H Rusli-Guru Fadlan Sudah Kantongi 3 Parpol
apahabar.com

Kalteng

Jadi Penantang, Tandem Ben Brahim Optimis Menangi Pilkada Kalteng
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com