Muatan Politis dalam Pencopotan Sekda Tanah Bumbu Kantongi 3 Barang Bukti, Bawaslu Dalami Dugaan Pelanggaran BirinMU BW, Eks Pimpinan KPK Buka-bukaan Alasan Turun Gunung Bantu H2D Gandeng BW, Tim H2D Laporkan Dugaan Pelanggaran Petahana Kalsel ke Bawaslu Duel Juventus vs Barcelona Liga Champions Malam Ini Tanpa Ronaldo vs Lionel Messi, Link Live Streaming SCTV!

Ekonomi Kalimantan Selatan Bakal Tak Sehat Jika Terus Bergantung Batu Bara

- Apahabar.com Jumat, 11 Januari 2019 - 11:09 WIB

Ekonomi Kalimantan Selatan Bakal Tak Sehat Jika Terus Bergantung Batu Bara

Ilustrasi batu bara. Foto-ANTARA

apahabar.com, BANJARMASIN – Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan masih belum lepas dari ketergantungan sumber daya alam tak terbarukan, serupa batu bara.

Bank Indonesia melaporkan, triwulan III/2018 ekonomi Kalimantan Selatan tumbuh 5,16 persen year on year (yoy), jumlah itu meningkat dibanding periode sebelumnya yang hanya 4,61 persen.

“Jumlah itu memang diakui sangat besar dari ukuran pangsa pasar. Namun dari data 10 tahun terakhir pangsa ini terus mengalami penurunan,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan Herawanto kepada apahabar.com.

Sampai awal 2019, ekonomi Kalimantan Selatan masih bertumpu pada sektor ekspor. Pertumbuhan ekonomi Banua paling banyak ditopang SDA khususnya tak terbarukan serupa batu bara.

Disebutkan kontribusi sektor SDA mencapai 22-23 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan. Herawanto menyebut pertumbuhan tersebut masih paling tinggi dibanding sektor lainnya.

Baca Juga: Bank Kalsel tak Kesampingkan UMKM

Herawanto juga menyampaikan, apa yang menjadi konsentrasi pemerintah daerah dalam memacu pertumbuhan ekonomi juga menjadi bagian dari pihaknya. Rencana pemerintah daerah sudah tepat untuk melepas ketergantungan dari emas hitam. Menurutnya, jika terus bergantung pada batu bara perekonomian Kalsel bakal tumbuh secara tidak sehat seiring naik turunnya harga komoditas tersebut.

Dibanding batu bara, pihaknya lebih melihat CPO merupakan pilihan yang tepat. Sejatinya CPO tidak bisa dianggap buruk bagi daerah karena sumber daya alamnya yang dapat diperbarukan.

“Karena masalah isu lingkungan hidup yang disampaikan masih pro kontra. Ada riset yang mengatakan dampak lingkungannya negatif, ada juga yang sebaliknya,” sambungnya.

Terkait isu lingkungan hidup pihaknya masih belum bisa berbicara banyak, sebab bisa jadi suatu hasil riset dipengaruhi oleh isu perdagangan internasional.

Dari segi penyerapan tenaga kerja pun, perusahaan sawit juga bisa disebut sebagai perusahaan padat karya. Tentu dengan kondisi seperti ini otomatis akan menyerap tanaga kerja yang lebih banyak.

Baca Juga: Melaju di Zona Hijau, Rupiah Menguat Lagi

Reporter: Rizal Khalqi
Editor: Fariz

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Kekhawatiran Penularan Covid-19 Meningkat, Picu Rupiah Melemah

Ekbis

Rupiah Tutup 2018 dengan Gaya
apahabar.com

Ekbis

Penjualan Emas Freeport Turun 24 Persen
apahabar.com

Ekbis

Stok Pangan Pokok Aman Hingga Maret
apahabar.com

Ekbis

IHSG Dibuka Menguat, Ikuti Naiknya Bursa Asia
apahabar.com

Ekbis

Jokowi Beri Lampu Hijau Impor Langsung Garam Industri untuk Bahan Baku
apahabar.com

Ekbis

Update Harga Bawang di Banjarmasin
apahabar.com

Ekbis

PT Pusri Bukukan Kinerja Positif Selama 2019
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com