Nomor 1 di Pilbup Tanah Bumbu, Cuncung Bakal Ulang Sukses Mardani H Maming Viral, Kisah Nelayan Kotabaru Terombang-ambing 6 Hari di Laut karena Perahu Karam Skandal Sabu IRT Kotabaru, Ditangkap Gegara 0,36 Gram Nomor Urut Diundi, Cuma 1 Paslon Pilwali Banjarmasin Taat Prokes! Kronologi Lengkap Ambruknya Pilar Jembatan HKSN Banjarmasin Versi Pemerintah

Masjid Pusaka, Masjid Tertua di Kabupaten Tabalong

- Apahabar.com Minggu, 13 Januari 2019 - 14:23 WIB

Masjid Pusaka, Masjid Tertua di Kabupaten Tabalong

Masjid Pusaka di Desa Banua Lawas, Kabupaten Tabalong.apahabar.com/Arif Nur Budiman

apahabar.com, Tanjung – Masjid Pusaka menjadi saksi sejarah Islam tumbuh di Kalimantan Selatan, khususnya di daerah Kabupaten Tabalong. Hingga saat ini, masjid tertua di kabupaten itu tetap kokoh berdiri.

Pilar-pilar Masjid Banua Lawas yang dibalut kain kuning, kokoh menyangga setiap sudut bangunan yang didominasi cat berwarna hijau dan putih ini.

Sejak mengalami renovasi pertamanya, pada tahun 1669 silam pilar-pilar tersebut tetap dipertahankan keasliannya karena dianggap banyak menyimpan nilai-nilai sejarah.

Sejarah mencatat, bangunan ini merupakan mesjid tertua yang berada di Kabupaten Tabalong dan dikenal masyarakat dengan nama Masjid Pusaka.

apahabar.com

Tampilan Dalam Mesjid Pusaka di Desa Banua Lawas, Kabupaten Tabalong. Foto- muhammadpadli.wordpress.com

Masjid Pusaka yang didirikan sejak tahun 1625 Masehi silam oleh Khatib Dayan dan saudaranya yang berasal dari Kesultanan Banjar (Sultan Abdurrahman) ini terletak di Desa Benua Lawas, Kecamatan Benua Lawas Kabupaten Tabalong.

Berjarak sekitar 25 kilometer dari ibu kota Kabupaten Tabalong yang memakan waktu perjalanan sekitar 45 menit, tentu tidak sulit untuk menemukan Mesjid Pusaka ini.

Meski melewati jalan perkampungan, jalan yang cukup lebar membuat kendaraan dengan mudah menuju ke sana. Baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Dari kejauhan, bangunan masjid tersebut layaknya masjid tua lainnya, yang masih terinspirasi dengan arsitek masjid Demak, Jawa Timur. Dengan atap bertingkat dan meruncing di bagian atas.

Baca Juga: Sekumpul Selalu Dipadati peziarah, Oleh-oleh Ini Selalu Digemari

Di samping kanan masjid, terdapat lokasi pemakaman warga. Di sana terdapat sebuah makam pejuang Banjar bernama Penghulu Rasyid.

Di bagian teras, sebelum menaiki tangga menuju bangunan utama masjid, terdapat dua buah gentong atau guci (dalam bahasa Banjar disebut tajau) berisi air.

Air tersebut diyakini warga dan peziarah memiliki berkah tersendiri jika diminum atau digunakan untuk mencuci muka.

Memasuki bagian utama bangunan masjid, terdapat anak tangga terbuat dari kayu ulin tepat berada di tengah bangunan utama masjid.

Tangga itu terlihat menuju ke atas atau bagian kubah mesjid. Konon pada zaman dulu sebelum ada sound dan mikropon di situ adalah tempat yang sering digunakan muadzin untuk mengumandangkan azan ketika waktu shalat telah tiba.

Masih pada bangunan utama masjid, di teras samping kiri terdapat sebuah beduk terbuat dari kayu ulin dengan diameter kurang lebih 100 cm.

Benda ini merupakan salah satu peninggalan yang masih dijaga sejak awal didirikannya masjid ini pada tahun 1625 M. Namun pada bagian depan beduk (kulit) telah berapa kali mengalami pergantian.

Selain beduk terdapat juga songkol atau benda yang sering kita temui di pucuk kubah mesjid pada umumnya. Benda ini juga merupakan salah satu peninggalan sejak didirikannya Mesjid Pusaka ini.

Terdapat pada bagian teras belakang masjid, benda ini tampak ditempatkan dalam sebuah etalase kaca dengan kain kuning yang ditaruh pada bagian atasnya.

apahabar.com

Juru Pelihara atau Kaum Mesjid Pusaka Misran. apahabar.com/Arif Nur Budiman

Juru Pelihara atau Kaum Mesjid Pusaka Misran, mengaku pihaknya sengaja memasukkan benda tersebut ke dalam etalase kaca. Tujuannya adalah guna melindunginya dari para peziarah yang usil.

 

“Kadang ada saja peziarah yang mencoba mengambil serpihan songkol tersebut. Makanya kita taruh dalam etalase kaca,” ucapnya.

Menurut Misran, ada saja sebagian peziarah yang menganggap serpihan songkol tersebut mempunyai khasiat tertentu hingga banyak di antara mereka yang ingin membawanya pulang.

“Niat saya hanya ingin menjaga nilai-nilai sejarah benda tersebut, cuma yang kita takutkan hal ini malah menjurus kesirikan bagi mereka yang berziarah,” ucapnya.

Reporter : Arif Nur Budiman
Editor : Muhammad Bulkini

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Makanan Ini Disebut Bagus untuk Menjaga Tubuh Selama Puasa
apahabar.com

Habar

Ribuan Jemaah Gelar Baca Burdah Keliling di Martapura
apahabar.com

Habar

Habib Umar bin Hafidz Kembali “Ngajar” di NU, Catat Tanggalnya
apahabar.com

Habar

Polda Kalsel Gelar Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Terkait Pengamanan Haul Guru Sekumpul
apahabar.com

Habar

Pengobatan untuk Relawan dan Jemaah Haul Guru Sekumpul Digratiskan
apahabar.com

Habar

Jemaah Jangan Lengah, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan
apahabar.com

Habar

Begini Aturan Pelaksanaan Kurban saat Pandemi Covid-19
apahabar.com

Habar

Bantu Amankan Banjar Bersholawat bersama Habib Syech, Banser Juga Turunkan Personel Wanita
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com