Biang Kebakaran Hebat di Patmaraga Kotabaru Mulai Terungkap Nasib Terkini 505 Warga Korban Kebakaran di Patramarga Kotabaru Hari Ini, 30 Warga Balangan Dominasi Kasus Positif Covid-19 di Kalsel [FOTO] Penampakan Ratusan Rumah yang Terbakar di Patmaraga Kotabaru Kena PHP, Buruh Tebar Ancaman ke Wakil Rakyat Kalsel di Senayan

Target Serapan Beras 2019 Naik, Kalimantan Selatan Andalkan Barabai

- Apahabar.com Rabu, 16 Januari 2019 - 20:00 WIB

Target Serapan Beras 2019 Naik, Kalimantan Selatan Andalkan Barabai

Puncak peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 2018 di Desa Jejangkit, Kabupaten Batola, Provinsi Kalimantan Selatan telah usai, Oktober 2018 silam. Foto-Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Balitbangtan Kementerian Pertanian

apahabar.com, BANJARMASIN – Perum Bulog menyatakan siap menyerap 1,8 juta ton beras dan gabah dari petani sepanjang 2019 ini.

Dilansir Katadata, angka itu lebih rendah dibanding target yang dipatok pada 2018 mencapai 2,72 juta ton, meskipun realisasi penyerapannya hanya sekitar 1,5 juta ton.

Adapun persentase penyerapan 2018 baru sebesar 54,5% dari target 2,72 juta ton. Untuk memaksimalkan tugas itu, perseroan mesti membebankan serapan dari sejumlah daerah.

Dari Kalimantan Selatan, Bulog setempat siap menargetkan penyerapan minimal mencapai 28 ribu ton beras lokal dari para petani.

Target tersebut lebih besar dibanding tahun sebelumnya mencapai 20 ribu ton, meskipun realisasi penyerapannya hanya sekitar 12.800 ton.

Baca Juga: Jumlah Rumah Tangga dan Usaha Pertanian Kaltara Meningkat

“Dari 13 kabupaten, kita menargetkan daerah Barabai menjadi daerah paling banyak yakni sekitar 15 ribu,” ujar Kepala Bulog Divre Kalsel Kholisun, Rabu (14/1) siang.

Sekedar diketahui untuk serapan beras, akan dibagi ke tiga wilayah: Banjarmasin, Barabai dan Kotabaru. Untuk wilayah Banjarmasin dan Kotabaru, masing-masing ditargetkan sebesar 11 ribu ton dan 700 ton. Ya, jumlah relatif lebih sedikit dibanding Barabai.

“Dalam satu tahun biasanya serapan beras paling besar pada Maret yakni bertepatan masa panen raya petani,” sambungnya.

Tidak maksimalnya serapan beras lokal, kata Kholisun, diakibatkan permasalahan harga beli beras lokal dari petani yang di luar standar harga yang ditetapkan pemerintah.

Baca Juga:  Pengamat: Pertanian Indonesia “Mati Rasa”

Ketentuan harga beras operasi pasar sebenarnya sudah diatur berdasarkan permintaan Kementerian Perdagangan, yaitu wilayah 1 (Jawa, Lampung, Sumsel, Sulawesi, NTB, Bali) sebesar Rp. 8.100 per kilogram, wilayah 2 (Sumetera kecuali Lampung dan Sumsel, Kalimantan, NTT) sebesar Rp. 8.600 per kilogram, serta wilayah 3 (Maluku dan Papua) sebesar Rp. 8.900/kg.

Meski demikian, pihaknya optimis target penyerapan bisa dilakukan. “Sehingga akhir 2019 tidak diperlukan impor,” jelas Kholisun.

Baca Juga:  Pemkab Tapin Sangkal Klaim KLHK soal Kawasan Hidrologis Gambut

Reporter: Rizal Khalqi
Editor: Fariz Fadhillah

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Jokowi Antisipasi Tekanan Ekonomi Berlanjut Sampai 2021
apahabar.com

Ekbis

Pemberlakuan Tarif Bagasi, Ongkos Umrah Kalsel Tetap Murah
apahabar.com

Ekbis

Kuliah Umum Adaro, Memperkuat Pertumbuhan Wirausaha di Balangan
apahabar.com

Ekbis

Sumpah Pemuda: Transformasi Digital, Telkomsel Andalkan Generasi Muda
apahabar.com

Ekbis

8.823 MW Pembangkit Listrik Beroperasi 2020
apahabar.com

Ekbis

Benar Nih,  Insentif Gojek Singapura Capai Belasan Juta?
apahabar.com

Ekbis

Anjlok, Harga Batu Bara Terendah dalam 3 Tahun Terakhir
apahabar.com

Ekbis

New Agya Tampil Lebih Modern, Jawab Kebutuhan Anak Muda
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com