Kobaran Api Kembali Gegerkan Warga Patmaraga Kotabaru Cara Cek Pengumuman CPNS 2019 Hari Ini, Login sscn.bkn.go.id, Berikut Website & Panduan Lengkapnya 150 Rumah Hangus Terbakar, Simak Kronologi Lengkap Kebakaran di Kotabaru Alasan Mengapa Api di Patmaraga Kotabaru 5 Jam Baru Padam Si Jago Merah Mengamuk di Kotabaru: Berkobar Berjam-jam, Ratusan Rumah Ludes Terbakar!

Ketika Tagihan Listrik Membengkak, 7 Hal Harus Diperhatikan

- Apahabar.com Rabu, 27 Februari 2019 - 09:18 WIB

Ketika Tagihan Listrik Membengkak, 7 Hal Harus Diperhatikan

Ilustrasi. Foto-Jawa Pos

apahabar.com, JAKARTA – Tagihan listrik setiap bulan tak selalu persis. Kadang terjadi lonjakan tajam. Maka pemakaian listrik harus diawasi agar tagihan tak membengkak.

Kebiasaan sepele yang ternyata bisa mempengaruhi naiknya meteran listrik. Berikut tips yang dikemukakan Executive Vice President Corporate Communication & CSR PLN, I Made Suprateka seperti dilansir merdeka.com.

Baca Juga: Tips Hemat Biar Akhir Bulan Enggak Kere

Ada 7 hal yang wajib diperhatikan.

1.Pemakaian AC yang Boros.

Jika biasanya Anda menyalakan AC dari pagi hingga malam sampai pagi lagi, kini Anda harus lebih berhemat. Anda bisa menyalakan AC saat malam hari saja, sedangkan pagi hari bisa memanfaatkan udara alam.

Agar lebih hemat energi, ahli listrik menyarankan penggunaan AC tipe Freon R32. Kendati harganya sedikit lebih mahal, AC ini lebih hemat energi. Pilih AC yang PK-nya tidak terlalu besar. Biasanya AC PK mengonsumsi listrik sebesar 350 watt, PK sebesar 500 watt, dan 1 PK sebesar 700 watt.

2. Pompa Air Juga Boros Listrik.

Jika di rumah dipasangi saklar otomatis untuk mematikan pompa air, maka cara ini membuat meteran listrik naik. Karena dalam sistem ini, meski aliran air sudah dihentikan dengan menutup krannya, namun mesin masih terus menyala. Aliran listrik baru akan terputus (mesin off) setelah mencapai tekanan tertentu.

Di sinilah penggunaan energi listrik menjadi sangat tidak efisien karena untuk mencapai level tekanan tersebut, mesin akan menyedot daya listrik yang sangat besar. Jadi bayangkanlah jika dalam sehari ada beberapa anggota keluarga yang sering membuka tutup kran.

Solusi atas problem ini adalah dengan memasang tandon atau profil tank yang dipasangi saklar pelampung (radar). Tandon air memungkinkan pompa tidak terlalu sering hidup dan mati karena saklar pelampung dapat diatur sesuai kebutuhak air dan stok air yang akan disimpan.

Bila Anda sudah memiliki tandon air, komponen otomatis bisa Anda non aktifkan. Dengan cara ini pompa menjadi lebih hemat listrik karena ia hanya akan menyala saat periode tertentu.

3. Penggunaan TV Tabung yang Boros Listrik.

TV tabung ternyata jauh lebih boros daripada TV LED atau LCD. Dibandingkan TV tabung, TV LED ternyata bisa menghemat daya 50 persen karena penggunaan pencahayaannya juga lebih sedikit dalam mengonsumsi daya listrik.

Dibandingkan LED, ia juga lebih hemat 20 persen-30 persen. Hanya saja harga LED memang sedikit lebih mahal dibandingkan LCD.

4. Pemakaian Komputer Lebih Boros daripada Laptop.

Sebenarnya yang membuat boros pemakaian komputer adalah CPU karena menyedot daya listrik hingga 400 watt. Sementara laptop hanya butuh daya 25 watt.

Selain itu, beberapa merek laptop memiliki fitur pemutus arus charging otomatis. Dengan begitu, baterai laptop tak cepat rusak saat kabelnya terkoneksi listrik terus-menerus selama beberapa jam.

5. Pilihlah Kulkas Sesuai Pemakaian.

Dalam pemilihan kulkas baiknya mempertimbangkan pemakaian dan daya listrik yang diperlukan. Untuk kulkas 1 pintu biasanya butuh daya listrik 50 sampai 80 watt. Sedangkan yang 2 pintu daya listriknya 100-120 watt. Jadi, semakin besar kapasitas atau volume kulkas, daya listrik yang diperlukan semakin besar.

Jika kulkas sering atau terlalu lama dibuka, 7 persen menambah kenaikan daya. Lemari es tua yang berusia di atas 10 tahun juga semakin boros energi. Kebutuhan dayanya 75 persen lebih banyak ketimbang saat masih baru.

6. Daya Rice Cooker Juga Sangat Besar.

Pemakaian rice cooker yang terus-menerus juga menjadi penyebab borosnya listrik. Bila dalam sehari rice cooker memanaskan nasi selama 10 jam, dan itu terjadi sepanjang hari selama sebulan, maka pemakaian listriknya adalah 77 Watt x 10 jam/hari x 30 hari/bulan = 23,1 kWh per bulan. Ini artinya, untuk penggunaan rice cooker Anda butuh biaya sekitar Rp 34 ribu.

Namun jika colokan rice cooker dicopot, maka pengeluaran akan lebih hemat. Kepala Divisi Niaga PLN, Benny Marbun menyarankan ingin mengonsumsi nasi hangat, kukus dulu sebentar menjelang waktu makan. Jadi bisa menghemat puluhan ribu rupiah.

7. Mencabut Kabel-Kabel yang Tak Terpakai.

Biasakan berperilaku hemat listrik seperti mencabut kabel-kabel yang terpasang di saklar yang tak digunakan. Biasanya kabel-kabel yang terpasang seperti kabel charger ponsel, kabel charger laptop, kabel tv, kabel penanak nasi dan beberapa kabel lainnya. Karena kabel yang terpasang, berarti listriknya terbuang sia-sia dan Anda harus tetap bayar.

Tak hanya itu saja, matikan televisi saat Anda ingin tidur, memadamkan lampu dan mencabut berbagai kabel elektronik. Akan lebih bagus jika Anda menggunakan listrik dengan sistem pulsa ketimbang pasca bayar karena membuat pemakaian listrik lebih terkontrol.

Baca Juga: Agar Tetap Fit di Puncak Musim Hujan, Lakukan 6 Tips Ini

Editor: Syarif

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

52 Tenaga Medis di Papua Positif Covid-19
apahabar.com

Nasional

Jenazah Pilot Pesawat Milik MAF Ditemukan di Kedalaman 13 Meter Danau Sentani
apahabar.com

Nasional

Virus Cacar Monyet Bikin Geger Singapura, Berikut Gejalanya
apahabar.com

Nasional

Pascagempa 5,3 SR, NTB Masih Kondusif
apahabar.com

Nasional

Akibat Pasien Tidak Jujur, 46 Dokter Terinfeksi Covid-19 di Semarang
apahabar.com

Nasional

Revisi UU KPK Disahkan, Fraksi PKS Sampaikan Catatan Soal Dewas
apahabar.com

Nasional

Facebook Siapkan Langkah untuk Kawal Pemilu 2019
apahabar.com

Nasional

Jokowi Tak Libatkan KPK Dalam Penyusunan Kabinet
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com