Kecewa, Pengembang Pelaihari City Mall Ngadu ke Menkopolhukam Jalan Berlubang Km 88 Tapin Renggut Nyawa Pemuda HST Ortu Oke, Belajar Tatap Muka di SMP Banjarmasin Dimulai November Menhub Datang, Pengembangan Runaway Bandara Teweh Dibahas Kronologi Lengkap Petaka Lubang Maut di Tapin yang Tewaskan Pemuda HST

Kunjungi ACT, Al-Nazzar: Pendidikan Jadi Barang Mewah di Palestina

- Apahabar.com Rabu, 27 Februari 2019 - 18:22 WIB

Kunjungi ACT, Al-Nazzar: Pendidikan Jadi Barang Mewah di Palestina

anak anak Palestina kesulitan mengenyam pendidikan karena keterbatasan finansial. Dok. ACT

apahabar.com, GAZA – Pendidikan menjadi suatu yang langka di negara-negara konflik, seperti Palestina. Di sana, pendidikan seakan menjadi barang mewah.

Keterbatasan finansial menjadi penghambat utama berjalannya proses belajar mengajar di tanah Palestina yang terjajah. Baik yang dialami oleh lembaga pendidikan maupun pelajar dan mahasiswa.

Ahmad Al-Najjar selaku Direktur Hubungan Internasional – Kementerian Pendidikan Palestina

menjelaskan, pendidikan memiliki arti yang penting bagi warga Palestina dalam perjuangan mereka memperoleh kemerdekaan.

“Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, warga Palestina menganggap pendidikan sebagai salah satu sarana dan senjata paling penting dalam perjuangan kami memperoleh kemerdekaan, serta untuk merebut kembali kejayaan dan harga diri kami yang dirampas. Baru-baru ini, sektor pendidikan menjadi sektor yang paling terdampak akibat kejahatan yang dilakukan oleh para Zionis, para penjajah Israel,” terang Ahmad dalam kunjungannya ke kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jumat (22/2).

Ahmad An-Najjar menambahkan, Israel berusaha mengontrol aspek pendidikan di wilayah Palestina,

termasuk dengan turut mempengaruhi pemotongan dana pendidikan.

 “Israel mengontrol sektor pendidikan bagi para siswa Palestina yang berada di wilayah-wilayah yang berada dalam kendali mereka seperti di wilayah kota suci Yerusalem dan beberapa sekolah di Gaza. Mereka turut mempengaruhi berkurangnya jumlah bantuan yang diberikan PBB untuk sekolah-sekolah di Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem,” jelasnya.

“Anggaran yang diperlukan untuk operasional sekolah-sekolah di Palestina telah dipotong terlalu banyak. Sangat sulit untuk bahkan sekadar membayar gaji guru atau memenuhi kebutuhan dasar sekolah tersebut,” lanjut Ahmad.

Pada Januari 2019, UN News mengabarkan bahwa sekolah yang dikelola organisasi PBB untuk para pengungsi Palestina (UNRWA) tengah mengalami kesulitan akibat pemotongan dana. Meskipun sekolah-sekolah tersebut masih dapat kembali beroperasi setelah liburan musim panas pada September 2018,banyak dari para murid yang khawatir situasi akan memburuk pada 2019.

Baca Juga: ACT Kalsel Ajak Doakan Remaja Palestina yang Gugur Akibat Tembakan Israel

“Pada liburan musim panas, kami biasanya merasa senang, tapi kali ini kami takut dan bertanya-tanya

apakah UNRWA akan menutup sekolah kami, dan apakah kami masih akan dapat pergi ke sekolah,” kata Raghd, siswa kelas 6, sekolah puteri Ar-Rimal di Jalur Gaza.

Selain Raghd, Hada (14) juga menjelaskan bahwa ketika sekolah kembali berjalan setelah musim panas, para murid merasa cemas karena absensi guru BK di sekolahnya.

Keterbatasan finansial telah memaksa beberapa sekolah untuk mengahapus posisi guru BK.

Tidak hanya pendidikan dasar, keterbatasan finansial juga mengahalangi akses warga Palestina untuk memperoleh pendidikan setingkat universitas. Ahmad Al-Najjar menjelaskan, meskipun ada beberapa universitas di Palestina, banyak dari warga Palestina di Gaza tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.

 “Pendidikan tinggi tersedia di Jalur Gaza. Ada beberapa universitas seperti Universitas Islam Gaza dan Universitas Al-Aqsa di Gaza. Para siswa di Gaza memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, sayangnya mereka tidak memiliki dana untuk membayar biaya.

Jadi, sulit untuk mereka melanjutkan ke universitas. Banyak mahasiswa yang saya kenal mengalami putus kuliah akibat keterbatasan dana. Ada pula beberapa lulusan perguruan tinggi yang tidak mampu menebus ijazah

mereka akibat adanya tanggungan biaya yang masih harus dibayarkan,” papar Ahmad An-Najjar.

Editor: Fariz Fadhillah

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

ACT

Global Qurban ACT dan BNI Syariah Banjarmasin Antar Kurban ke Desa Perbatasan
apahabar.com

ACT

Update Banjir Sentani: 42 Korban Jiwa, MRI-ACT Siaga
apahabar.com

ACT

ACT Distribusikan 10 Ton Beras untuk Warga Prasejahtera di Bandung Barat
apahabar.com

ACT

ACT Bagi Ratusan Paket Berbuka Puasa untuk Palestina
apahabar.com

ACT

Awal Tahun, Layanan Kesehatan ACT Sapa Gaza
apahabar.com

ACT

Layanan Kesehatan Jaga Anak-anak Gaza di Musim Dingin
apahabar.com

ACT

Pascabanjir, ACT-MRI Cek Kesehatan Warga Tanah Bumbu

ACT

Peduli Wamena dan Maluku, ACT Kalsel Bersama Hima Farmasi ULM Gelar Konser Amal
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com