Kapolres Balangan Siap Salurkan Bantuan Adaro ke Masyarakat Terdampak Banjir Tiba di Kalsel, Panglima TNI Marsekal Hadi Tinjau Banjir di Objek Vital BPBD Kapuas Kembali Ingatkan Warga, Waspada Cuaca Ekstrem Bantu Warga Terdampak Banjir, Sekretariat PDIP Kalsel Disulap Jadi Tempat Pengungsian Banjir di Haruai Tabalong, Petugas Gabungan Salurkan Makanan dengan Berenang

Mengenal Sejarah, Makna, Berikut Tradisi Cap Go Meh

- Apahabar.com Selasa, 19 Februari 2019 - 19:09 WIB

Mengenal Sejarah, Makna, Berikut Tradisi Cap Go Meh

Perayaan Cap Go Meh. Foto-pegi-pegi.com

apahabar.com, JAKARTA – Tahun Baru Imlek nampaknya kurang meriah kalau tidak ada Cap Go Meh. Kebanyakan orang cuma tahu Cap Go Meh adalah perayaan yang dilakukan warga Tionghoa dua minggu setelah Imlek. Ternyata Cap Go Meh bukan sekadar itu, tapi punya makna tersendiri.

Imlek biasanya dirayakan dengan sembahyang ke kelenteng untuk memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan di tahun yang baru. Setelah itu, kumpul dan makan bersama keluarga.

Sedangkan, ketika Cap Go Meh, orang-orang membawa persembahan berupa kue keranjang dan melakukan sembahyang. Kue keranjang untuk mengucap syukur dan memohon keselamatan.

Seperti dilansir pegi-pegi.com, orang zaman dulu malah percaya banget kalau anak kecil nggak makan kue keranjang matanya bakal belekan. Makanya, hingga saat ini masih banyak orang yang membawa persembahan kue keranjang ketika Cap Go Meh.

Setelah itu, pastinya ada acara makan kue keranjang yang bisa dimakan langsung atau digoreng. Kue keranjang juga boleh dibagi-bagikan secara gratis untuk warga sekitar.

Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang jika diartikan secara harafiah bermakna 15 hari atau malam setelah Tahun Baru Imlek. Apabila dipenggal per kata, kata ‘cap’ memiliki arti 10, sedangkan ‘go’ berarti 5, dan ‘meh’ artinya malam.

Kalau di China, Cap Go Meh disebut Festival Yuanxiao atau Festival Shangyuan. Perayaan Cap Go Meh dilakukan untuk memberi penghormatan terhadap Dewa Thai Yi, dewa tertinggi di langit pada zaman Dinasti Han (206 SM- 221 M).

Dulunya, Cap Go Meh dilakukan secara tertutup untuk kalangan istana dan belum dikenal masyarakat awam. Festival tersebut dilakukan pada malam hari, sehingga harus menyediakan banyak lampion dan aneka lampu warna-warni.

Lampion adalah pertanda kesejahteraan hidup bagi seluruh anggota keluarga. Makanya, Cap Go Meh kerap disebut Festival Lampion. Ketika pemerintahan Dinasti Han berakhir, barulah Cap Go Meh dikenal oleh masyarakat. Ketika Cap Go Meh, rakyat bisa bersenang-senang sambil menikmati pemandangan lampion yang telah diberi banyak hiasan.

Ketika Cap Go Meh, rakyat akan menyaksikan Tarian Barongsai dan Liong (naga), berkumpul untuk main games penuh teka-teki, dan makan onde-onde. Sepanjang perayaan, tentunya bakal diramaikan oleh kehadiran kembang api dan petasan.

Uniknya kata Barongsai bukan berasal dari China, tapi merupakan paduan dari kata ‘barong’ yang merupakan Bahasa Jawa dan kata ‘say’ yang artinya singa dalam dialek Hokkian. Barongsai adalah simbol kebahagiaan, kegembiraan, dan kesejahteraan.

Sedangkan Liong dianggap sebagai simbol kekuasaan atau kekuatan. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, keluarga akan jadi sangat besar jika anak mereka lahir di Tahun Naga.

Onde-onde yang dimakan ketika Cap Go Meh biasanya dibuat ramai-ramai oleh seluruh anggota keluarga, terutama wanita dan anak-anak. Lalu, kenapa Tarian Barongsai dan Liong harus sambil membunyikan petasan? Soalnya, petasan dipercaya bisa mengusir energi negatif dan akan membersihkan seluruh lokasi yang dilalui Barongsai.

Secara umum, itulah yang dilakukan orang Tionghoa ketika merayakan Cap Go Meh. Di beberapa daerah, Cap Go Meh dilakukan dengan tradisi unik. Misalnya, saat Cap Go Meh, misalnya mau cari jodoh.

Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Tiba di Kalsel, Tuan Guru Bajang Langsung Ziarah ke Sekumpul
apahabar.com

Nasional

Jawab Sindiran Ahok Soal Peruri Minta Rp 500 M Proyek Pertamina, Ini Penjelasan Dewas
apahabar.com

Nasional

Ilham Bintang Kecurian, Nomor Ponsel dan Uang Ratusan Juta
Covid-19

Nasional

Kasus Kematian Capai Puluhan Ribu, Satgas Ingatkan Covid-19 Bukan Konspirasi
apahabar.com

Nasional

Ricuh di Gedung KPK, Polisi Baku Hantam dengan Massa
apahabar.com

Nasional

2 Hektar Lahan Terbakar, Diduga Akibat Puntung Rokok
apahabar.com

Nasional

Pengamat: Jokowi Hati-hati dengan Pelonggaran PSBB
apahabar.com

Nasional

Gempa M 6,3 Goyang Melonguane, Warga Panik Keluar Rumah
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com