Pembantai Tetangga di Kelumpang Kotabaru Diancam Penjara Seumur Hidup! ANEH, 3 Proyek Jembatan di Banjarmasin Jalan Terus Walau Tanpa IMB Seruan Tokoh Tanah Bumbu: Pendukung SHM-MAR Jangan Ikut Sebar Hoaks dan Fitnah Pembelajaran Tatap Muka SMP di Banjarmasin Siap Dibuka, Catat Bulannya VIDEO: Polisi Rilis Tersangka Pencurian Hp Rosehan di Pesawat

Mengenang 53 Tahun Gugurnya Pahlawan Ampera dari Banjarmasin

- Apahabar.com Sabtu, 16 Februari 2019 - 22:04 WIB

Mengenang 53 Tahun Gugurnya Pahlawan Ampera dari Banjarmasin

Civitas Akademika beserta para Alumni Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengenang 53 tahun gugurnya pahlawan ampera, Hasanuddin Binti H. Mazedi (HM), Selasa (16/2/2019). apahabar.com/ Muhammad Robby

apahabar.com, BANJARMASIN – Selasa (16/2), Civitas Akademika beserta para Alumni Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengenang 53 tahun gugurnya Pahlawan Ampera, Hasanuddin Binti H Mazedi (HM).

Lantas, bagaimana sejarah singkat gerakan mahasiswa masa Hasanuddin Majedi?

Kepada apahabar.com, Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya Kalimantan (LKS2B), Mansyur memberikan penjelasan tentang perjuangan pemuda dan mahasiswa menegakkan Tiga Tuntutan Rakyat atau Tritura, pasca Gerakan 30 September 1965.

Kala itu, perjuangan diwarnai gugurnya Hasanuddin Haji Madjedi (HM), mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, tepatnya 10 Februari 1966 silam.

Kemudian Arief Rahman Hakim, mahasiswa UI yang gugur 14 hari sesudahnya, 24 Februari 1966, serta sederet pahlawan Ampera lainnya di berbagai daerah.

Sayangnya, menurut Mansyur, dalam Tap MPRS RI No XXIX/MPRS/1966 tanggal 5 Juli 1966 tentang Pengangkatan Pahlawan Ampera, hanya menyebutkan nama Arief Rahman Hakim yang gugur pada 24 Februari 1966 dan lima korban lainnya.

Nama Hasanuddin HM tak dicantumkan. Padahal dia kembali ke ‘pelukan’ Ibu Pertiwi 14 hari sebelum Arief.

Untuk itulah beberapa tahun lalu, berbagai kalangan khususnya Komponen Angkatan 1966, mengusulkan Pemerintah RI menetapkan Hasanuddin HM sebagai Pahlawan Ampera.

Lima hari setelah insiden meninggalnya Hasanuddin HM, Harian Kompas edisi 15 Februari 1966, mengangkat berita tentang “Demonstrasi Mahasiswa Banjarmasin di depan Konsulat RRT (The Demonstration of Banjarmasin Student in Front of the PRC’s Embassy)”. Penggambatan berita yang begitu heroik.

Demonstrasi ini juga untuk memprotes keberadaan “Cina Merah”. Mereka yang dekat dengan ideologi komunis, sentral aktivitasnya di Gedung Tjung Hua Tjung Hui, Jalan Pangeran Samudera, yang kini telah dirobohkan menjadi areal parkir.

Pada saat terjadi gejolak di Indonesia, sebagai rentetan aksi G 30 S, ada sebagian warga Tionghoa memilih pergi dari Banjarmasin. Sebagian besar bermukim di Singapura, atau kembali ke Tiongkok.

Lumpuhnya sektor perekonomian, menurut Yusriansyah Aziz dari Eskponen 66, merembet ke situasi politik yang disusupi Gerakan 30 September, yang diduga didalangi Partai Komunis Indonesia (PKI) di Banjarmasin.

Sejumlah pentolan aktivis 66, melihat indikasi ini terekam dari Siaran Radio Swasta “Viking Hsinhua” di Pecinan (sekarang Jalan Piere Tendean-seberang Siring Sabilal). Hampir setiap hari, radio ini menyuarakan cerita propaganda dengan paham komunis.

Pada malam hari, mereka kerap menggelar pertunjukkan teater dan nyanyian-nyanyian untuk menghimpun massa. Radio ini diduga merupakan bagian jaringan propaganda dari Radio Peking. Provokasi dilakukan RRC melalui siaran radio Peking, memang kontra terhadap revolusi Indonesia dan menunjukkan sikap mendukung gerakan 30 September.

Mansyur mengutip, J.A.C.Mackie, dalam tulisannya ”Anti Chinese Outbreak in Indonesia 1959-1968”, terangkum pada The Chinese in Indonesia: Five Essays, Melbourne: Thomas Nelson, 1976, juga mengungkapkan beberapa hal.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya prasangka tersebut. Seperti aktivitas organisasi Baperki (Badan Permusya-waratan Kewarganegaraan Indonesia) yang didirikan beberapa tokoh peranakan Tiong-hoa. Para tokoh Baperki dipimpin Siauw Giok Tjhan. Organisasi etnis Tionghoa ini ideologinya lebih condong ke arah komunis.

Hal tersebut menyebabkan meningkatnya kegiatan anti Tionghoa, karena tuduhan-tuduhan yang berkembang di masyarakat. Baperki merupakan antek PKI dan Republik Rakyat Cina (RRC)/Republik Rakjat Tjina (RRT). Baperki sendiri dianggap organisasi mewakili kepentingan Tionghoa di Indonesia.

Selain itu, dalam susunan Dewan Revolusi terdapat nama Siauw Giok Tjhan. Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia beranggapan etnis Tionghoa yang diwakili Baperki dalam kegiatan politiknya, merupakan pendukung paham komunis dan peristiwa 30 September 1965.

Sementara itu, Mansyur mengutip Setiono Benny G, dalam bukunya “Tionghoa Dalam Pusaran Politik”, Jakarta: Elkasa, 2005, mengungkapkan anggapan tersebut muncul karena tindakan- tindakan Baperki pasca peristiwa 30 September 1965, yang tidak mengutuk gerakan tersebut.

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Pascakebakaran Gedung Kejagung RI, Tidak Ada Tahanan yang Dipindahkan
apahabar.com

Nasional

Mematuhi Protokol Kesehatan Vaksin Terbaik Melawan Covid-19
apahabar.com

Nasional

Kominfo Bantah Blokir Media Sosial Pascabentrok Aksi Massa Tolak RUU Ciptaker
apahabar.com

Nasional

17 Kepala Negara Akan Hadiri Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden
apahabar.com

Nasional

Dalam 24 Jam Brazil Catat 16.324 Kasus Baru Covid-19
apahabar.com

Nasional

Ketika Penggali Kubur Dilantik Jadi Kepala Desa
apahabar.com

Nasional

Debat Kelima Capres 2019, Relawan Kalsel: Prabowo-Sandi Lebih Banyak Senyum
apahabar.com

Nasional

Giliran Agus Gumiwang Dipanggil ke Istana
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com