Sehari Jelang Penutupan, Pendaftar BLT UMKM di Batola Capai 5.000 Orang Pencuri Hp Rosehan Diciduk Polisi, Ini Dalih Tersangka Sekolah Tatap Muka di Banjarmasin: Waktu Belajar Dipangkas, Sehari Hanya 5 Jam Kronologi Pria Kelumpang Tengah Tewas Disengat Ribuan Lebah Geger Pria di Kelumpang Kotabaru Tewas Diduga Disengat Ratusan Lebah

Mengenang Abah Guru Sekumpul (4), Mengumpul “Dua Mutiara dari Tanah Banjar”

- Apahabar.com Senin, 18 Februari 2019 - 13:25 WIB

Mengenang Abah Guru Sekumpul (4), Mengumpul “Dua Mutiara dari Tanah Banjar”

Pondok Pesantren Darussalam Martapura tempo dulu. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – “Dua Mutiara dari Tanah Banjar” adalah julukan dua ulama besar dari Kalimantan Selatan yang mengajar di Masjidil Haram, Makkah. Kedua ulama itu adalah guru khusus dari Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari atau Abah Guru Sekumpul.

Dua Mutiara dari Tanah Banjar tersebut adalah Syekh Muhammad Sya’rani bin Arif Al Banjari atau yang lebih dikenal dengan Guru Anang Sya’rani dan Syekh Muhammad Syarwani bin Abdan Al Banjari atau lebih dikenal dengan sebutan Guru Bangil.

Abah Guru Sekumpul menurut penuturan beliau di majelis Ar Raudhah di tahun 2002, sempat mengaji kepada Guru Anang Sya’rani selama 4 tahun. Hampir tiap hari beliau belajar dengan ulama yang dikenal dengan ahli tafsir dan ahli hadits tersebut. Bahkan diceritakan, dalam sehari Abah Guru mengaji bisa beberapa kali.

“Di mana ada Ka Anang (Guru Anang Sya’rani), disitu baca kitab,” ujar Abah Guru Sekumpul.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (1), Kejadian Ganjil Saat Dilahirkan

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (2), Berganti Nama Karena Sebuah Isyarat

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (3), Waktu Kecil Diasuh “Wali Majezub”

Cara mengaji dengan Guru Anang Sya’rani Arif terbilang ganjil, Abah Guru hanya membaca kitab, sementara Guru Anang Sya’rani mendengarkan (sesekali menjelaskan, red) sembari melihat-lihat pemandangan. Terkadang, beliau membaca kitab sambil memijat Guru Anang.

Suatu ketika, Abah Guru Sekumpul menyaksikan Guru Anang tertidur pulas, Abah Guru -yang saat itu masih muda- mencoba menyingkat bacaan dengan meloncat halaman (10 lembar lebih dulu). Baru sedikit mengangkat kertas untuk menjalankan niat, langsung ditegur Guru Anang.

“Guru Anang teguring, tapi masih kawa meminandui kalau aku melingkah bacaan (Guru Anang tidur, tapi masih bisa mengetahui aku akan meloncat bacaan, red),” jelas Abah Guru.

“Mengaji lawan Guru Anang, harus tamat mulai lembar awal sampai lembar akhir kitab, karena apabila khattam membaca kitab, belajar dengan Guru Anang Syarani, akan mendapatkan keberkatan si Pengarang kitab yang dibaca itu.”

Guru Anang Sya’rani memiliki perhatian lebih pada Abah Guru Sekumpul. Konon, Abah Guru yang semula mengaji dengan berjalan kaki dari kediamannya di Desa Keraton ke kediaman Guru Anang Sya’rani di kampung Melayu (puluhan kilometer), dibelikan oleh Guru Anang Sya’rani sepeda.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (5), Ejekan yang Menjadi Doa

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (6), “Kebaikan” yang Dinilai Tak tepat oleh Sang Ayah

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (7), Angin Menjadi Ribut Ketika “Dihukum” Sang Ayah

Setelah beranjak dewasa, Abah Guru Sekumpul mengaji dengan Syekh Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil). Beliau mengaji dengan ulama Banjar yang tinggal di Bangil-Surabaya itu hanya sekitar 2 bulan saja. Kendati demikian, dalam jangka waktu yang singkat itu, Guru Bangil menuangkan banyak ilmunya.

Saat-saat mengaji dengan Guru Bangil sering diceritakan Abah Guru Sekumpul di majelis beliau. Salah satunya, cara mengaji yang mirip ketika mengaji dengan Guru Anang Sya’rani. Jika dengan Guru Anang, Abah Guru Sekumpul memijat dengan tangan. Sementara ketika mengaji dengan Guru Bangil, Abah Guru diminta sambil menginjak.

“Kalau di piciki aja, sidin kada berasa. Guru Bangil minta dijajak. (Kalau dipijat pakait tangan, beliau tidak merasa. Guru Bangil minta diinjak di saat posisi tiarap, red),” ujar Abah Guru.

Jadi, sewaktu Abah Guru mengaji dengan Guru Bangil, sebelah tangan memegang kitab, sebelah lagi memegang dinding. Sementara kedua kaki berada di atas tubuh Guru Bangil yang sedang tiarap.

Abah Guru Sekumpul terus membaca kitab, meski Guru Bangil sudah tertidur.

Dari dua ulama yang diketahui Mursyid dari banyak thoriqoh (tarekat) itu, Abah Guru Sekumpul banyak mendapat ilmu dan keberkatan. Sehingga, kemilau “Dua Mutiara” itu seolah bersatu di sosok Abah Guru Sekumpul, dan kemilaunya membuat banyak orang terpukau.

Satu bukti kemilau karisma Abah Guru Sekumpul, peringatan haul beliau selalu dihadiri ratusan ribu jemaah, bahkan dari luar negeri.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (8), Pernah Dikeroyok di Usia Sekolah

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (9), Melarang Murid Memberi Minum Saat Mengajar

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (10), Sempat Mau Dibunuh Ketika Mengajar

 

Editor: Muhammad Bulkini

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Religi

Cerita Mengagumkan dari Perjuangan Hidup Kiai Hamid Pasuruan
apahabar.com

Tokoh

Habib Syech Assegaf Ceritakan Kenangan Bersama Abah Guru Sekumpul
apahabar.com

Religi

Keteladanan Sahabat Nabi Muhammad SAW: 1 Nyawa demi 1 Ayat
apahabar.com

Tokoh

Syekh Ahmad Syarwani Zuhri (2), Mendapat Isyarat Mendirikan Pesantren di Balikpapan
apahabar.com

Tokoh

Mengenang Abah Guru Sekumpul (7), Angin Menjadi Ribut Ketika “Dihukum” Sang Ayah
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Abdul Qadir Hasan Al Banjari, Jasanya Besar Bagi Warga Banjar
apahabar.com

Religi

Cerita Kecintaan Syekh Yasin dengan Bangsa Indonesia
apahabar.com

Tokoh

Mundur dari PNS, Ini Penjelasan UAS
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com