Video Detik-detik Buaya Raksasa Diangkat dari Sungai Kayubesi Babel, Diyakini Warga Sebagai ‘Siluman’ Kasus Pembunuhan Istri Muda Pembakal di HST Inkrah, Jaksa Eksekusi Terpidana ke Martapura Muatan Politis dalam Pencopotan Sekda Tanah Bumbu Kantongi 3 Barang Bukti, Bawaslu Dalami Dugaan Pelanggaran BirinMU BW, Eks Pimpinan KPK Buka-bukaan Alasan Turun Gunung Bantu H2D

Mengenang Abah Guru Sekumpul (5), Ejekan yang Menjadi Doa

- Apahabar.com Selasa, 19 Februari 2019 - 12:49 WIB

Mengenang Abah Guru Sekumpul (5), Ejekan yang Menjadi Doa

Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari. Foto-istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul memiliki masa kecil yang memprihatinkan. Namun, kemiskinan itu menempa kepribadian beliau, hingga menjadi sosok besar di kemudian hari.

Diceritakan dalam buku ‘Figur Karismatik Abah Guru Sekumpul’, rumah keluarga beliau yang berada di desa Keraton sudah berumur tua dan lapuk. Atap rumah yang banyak bocornya, membuat Abah Guru sekeluarga harus bernaung ke sisi rumah yang lebih terlindungi ketika hujan.

Sang Ayah –Al Arif Billah Abdul Ghani-, hanyalah seorang buruh penggosok intan yang bergaji kecil. Gaji yang didapat tidak mencukupi untuk makan sehari-hari. Bahkan selama 14 tahun, keluarga beliau hanya makan berkuah sayur dari batang pisang.

Abah Guru di masa kecil pun ikut membantu perekonomian keluarga dengan menjadi buruh penggosok intan, dan menjajakan nasi bungkus bikinan Sang Ibu, Hj Masliyah. Dari pendapatan itu, mereka bisa makan 1 nasi bungkus untuk 4 orang; Ayah, ibu, Abah Guru, dan sang adik (Siti Rahmah).

Makan satu bungkus nasi dibagi empat ini dialami keluarga Abah Guru selama 8 tahun.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (1), Kejadian Ganjil Saat Dilahirkan

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (2), Berganti Nama Karena Sebuah Isyarat

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (3), Waktu Kecil Diasuh “Wali Majezub”

Kemiskinan yang membelit kehidupan keluarga Abah Guru dihadapi beliau sekeluarga dengan sabar. Sang Ayah mengajarkan untuk tidak mengeluh dengan keadaan, tidak ingin kepahitan itu diketahui orang, dan tidak ingin berutang.

Ketika mendapat anak ketiga Ahmad Ghazali, Sang Ayah sempat mencoba peruntungan merantau ke pulau seberang, Jakarta. Namun hasilnya nihil. Beliau pun pulang ke kampung halaman, mencoba membangun kembali penghidupan dengan menjadi buruh penggosok intan.

Sesampainya di rumah, Sang Ayah dikejutkan dengan wafatnya anak bungsu mereka, Ahmad Ghazali.

Kondisi memprihatinkan masih berlanjut saat Abah Guru berusia sekolah. Abah Guru selalu menjadi bahan ejekan dan pelecehan sebagian teman sepermainannya.

Lebih-lebih, Abah Guru hanya memiliki pakaian yang hanya melekat di badan dan dipakai setiap hari. Sehingga menimbulkan bau yang kurang sedap, sehingga banyak yang menutup hidung ketika berpapasan dengan beliau.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (4), Mengumpul “Dua Mutiara dari Tanah Banjar”

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (6), “Kebaikan” yang Dinilai Tak tepat oleh Sang Ayah

Baca Juga:  Mengenang Abah Guru Sekumpul (7), Angin Menjadi Ribut Ketika “Dihukum” Sang Ayah

“Dasar bau, kada kawa ai (memang bau, mau bagaimana, red)?” ujar Abah Guru, ketika menceritakan kisah hidup beliau di majelis.

Selain soal pakaian seperti sarung, baju, dan peci, Abah Guru Sekumpul juga memakai sandal dari kayu. Sehingga beliau kerap mendapat ledekan, “Assalamu’alaikum ya Waliyyallah.”

Ejekan yang menjadi doa.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (8), Pernah Dikeroyok di Usia Sekolah

Baca Juga:  Mengenang Abah Guru Sekumpul (9), Melarang Murid Memberi Minum Saat Mengajar

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (10), Sempat Mau Dibunuh Ketika Mengaji

Editor: Muhammad Bulkini

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Religi

Diundang ke universitas Al Azhar, Syekh Nawawi Datang dengan Penyamaran
apahabar.com

Tokoh

Datu Landak (1), Pada Dirinya Mengalir Darah Dua Ulama Besar Nusantara
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru Mulkani Al Banjari(1), Lulus Pesantren dalam Waktu Singkat
apahabar.com

Tokoh

Syekh Ahmad Syarwani Zuhri (1), Berguru pada Ulama Besar di Banyak Negara
apahabar.com

Religi

Mengenal Nu’aiman, Sahabat Nabi yang Masuk Surga dengan Tertawa
apahabar.com

Tokoh

Mengenang Abah Guru Sekumpul (14), Keluarkan 1 Milyar di Setiap Minggunya
apahabar.com

Tokoh

Syekh Abdusshamad Bakumpai (1), Jasadnya Menghilang Ketika Shalat
apahabar.com

Tokoh

Habib Ibrahim Al Habsyi Nagara (2), Tempuh Hadramaut-Kalimantan Hanya Karena Sebuah Pena
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com