Kasus Pembunuhan Istri Muda Pembakal di HST Inkrah, Jaksa Eksekusi Terpidana ke Martapura Muatan Politis dalam Pencopotan Sekda Tanah Bumbu Kantongi 3 Barang Bukti, Bawaslu Dalami Dugaan Pelanggaran BirinMU BW, Eks Pimpinan KPK Buka-bukaan Alasan Turun Gunung Bantu H2D Gandeng BW, Tim H2D Laporkan Dugaan Pelanggaran Petahana Kalsel ke Bawaslu

Sri Mulyani: Investor Incar Data Konsumen dari Unicorn

- Apahabar.com Senin, 25 Februari 2019 - 18:35 WIB

Sri Mulyani: Investor Incar Data Konsumen dari Unicorn

Menkeu Sri Mulyani Indrawati usai menghadiri peluncuran data sampel BPJS Kesehatan di Jakarta, Senin (25/2/2019). Foto-antara news.com

apahabar.com, JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan bahwa banyaknya investor global yang ingin memiliki saham perusahaan rintisan Indonesia berlevel Unicorn karena mengincar kepemilikan data kegiatan ekonomi masyarakat yang kemudian diolah menjadi produk yang menguntungkan.

Menkeu mengatakan tidak perlu heran jika melihat saat ini banyak perusahaan Unicorn (perusahaan rintisan bervaluasi satu miliar dolar AS), yang banyak diminati oleh investor global, padahal perusahaan tersebut tergolong baru dan belum begitu menjanjikan.

Baca Juga: Pemkab Tanbu Jadi Pilot Project Simda-Sakip

Investor-investor tersebut, lanjutnya, mengincar kekayaan data yang dimiliki perusahaan Unicorn. Data yang merekam kegiatan ekonomi, terutama kegiatan konsumsi dan transaksi masyarakat, kata dia, menjadi komoditas baru yang sangat berharga dalam kegiatan ekonomi saat ini.

“Begitu banyak unicorn kita yang masih baru, begitu banyak orang investasi di sana, mereka hanya ‘membakar’ uang, karena mereka ingin tahu miningnya (penambangan data) ketika itu menjadi sebuah aset. Kemudian valuasi asetnya akan muncul dan aset itu yang diincar,” ujar Menkeu yang berbicara dalam peluncuran Data Sampel BPJS Kesehatan dilansir dari Antara, Senin (25/2/2019).

Ia menganalogikan nilai kepemilikan data ekonomi masyarakat saat ini sama dengan nilai komoditas tambang di Indonesia yang dulu selalu menjadi incaran perusahaan-perusahaan global.

Saat ini data ekonomi masyarakat adalah komoditas paling berharga. Korporasi-korporasi besar tidak lagi harus repot untuk melakukan survei dalam setiap kegiatan riset bisnis jika sudah menguasai data ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Rupiah Menguat Seiring Kemajuan Kesepakatan Dagang AS-Tiongkok

“Tidak perlu lagi survei, kita bisa buka data dari Bukalapak, Tokopedia, Shoppee. Ini kenapa data adalah komoditas tambang baru. Kalau dulu tambang masih timah, batu bara, berlian, sekarang siapa manusia terkaya semuanya tidak terkait dengan sumber daya alam, tapi sesuatu yang berhubungan dengan data dan teknologi,” ujar Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Perburuan data itu adalah implikasi dari terjadinya revolusi industri 4.0 saat ini. Semua misi bisnis, kata dia, banyak yang beralih untuk berorientasi pada konsumen sentris.

“Artinya sekarang ini data jadi sangat penting, dan berikutnya adalah pengelolaan datanya,” ujar Menkeu.

Baca Juga: Senin Pagi, Rupiah Terkuat di Asia!

Oleh karena itu, ia mengingatkan BPJS Kesehatan untuk mengelola secara hati-hati dan tetap menjaga prinsip kerahasiaan (confidentality) dan keamanan (security) dalam pengelolaan data sampel yang mewakili kepesertaan dan pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Minimalkan Penyebaran Covid-19, Nahdlatul Ulama Lakukan Pendataan Warga Secara Digital
apahabar.com

Nasional

KPK Terima 94 Laporan Gratifikasi Terkait Idulfitri 1440 Hijriyah
apahabar.com

Nasional

OTT Hakim, KPK Sita Ribuan Dolar Singapura
apahabar.com

Nasional

29 Nelayan Aceh Ditangkap Angkatan Laut Thailand
apahabar.com

Nasional

Pelanggaran HAM Berat Belum Ditindaklanjuti Jaksa Agung
apahabar.com

Nasional

Jokowi Usul Radikalisme Bisa Diganti Jadi Manipulator Agama
apahabar.com

Nasional

Densus 88 Tembak Mati 2 Terduga Teroris di Bekasi, 2 Orang Kabur
apahabar.com

Nasional

SMSI Kalsel Siap Sukseskan Kongres I di Jakarta
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com