Update Covid-19 Tanbu: Sembuh 1 Orang, Positif Nihil 6 Preman Kampung Pemeras Warga di Jalan Nasional Kalsel-Kaltim Disikat Polisi Pasangannya Meninggal, Rahmad Masud: Saya Masih Nggak Nyangka, Ini Seperti Mimpi Wawali Terpilih Meninggal, Begini Penjelasan RSP Balikpapan Respons Pemprov, Gubernur Sahbirin Mau Digugat karena Banjir Kalsel

Terlalu Lama Direndam, Pengusaha: Jual Karet atau Air?

- Apahabar.com Senin, 25 Februari 2019 - 16:18 WIB

Terlalu Lama Direndam, Pengusaha: Jual Karet atau Air?

kebun karet. Foto.Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Siapa sangka, merendam karet di air akan membuat harga jualnya turun.

Kepada apahabar.com, Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Kalselteng, Andreas Winata menjelaskan alasannya.

Kata dia, jika direndam terlalu lama berpotensi meningkatkan kader air dalam karet.

“Dengan direndam akan membuat ikatan rantainya jadi busuk. Itu penyebab karet (lum) menimbulkan bau tak sedap,” kata Andreas, Senin (25/2).

Jika masyarakat merendam karet supaya beratnya bertambah dan harganya mahal, itu salah.

Malah, kata dia, juga berpotensi merusak kualitas karet.

Tak hanya itu, untuk menjaga supaya kualitas karet tetap baik, karet tidak boleh bersentuhan dengan matahari langsung.

Jika demikian, kata dia, perusahaan akan enggan membeli dengan harga tinggi kepada petani.

Baca Juga: Harga Turun, Petani Kalsel Malas Sadap Karet

“Buat apa perusahaan (karet) beli air ?” ujarnya.

Selain tak direndam air, untuk mengentalkan karet pun harus menggunakan cairan khusus yang kandungan airnya sedikit.

Metode inilah  yang kerap digunakan produsen karet di negeri tetangga untuk meningkatkan daya jual karet.

“Coba karet itu diletakkan yang baik. Tidak direndam. Baunya pun akan tidak separah setelah direndam,” sambung dia.

Karet yang terkena sinar matahari langsung, kata dia, akan membuat molekul dalam karet terjadi vulkanisasi.

Vulkanisasi yang dimaksud adalah pencampuran belerang dan karet dalam kondisi suhu tertentu sehingga dihasilkan produk karet yang lebih keras tekstur-nya dibandingkan karet biasa.

Maka dari itu rekomendasi penggunaan cairan penggumpal yang sudah dikembangkan yang bisa dipakai para petani, seperti misalnya, cairan Deorub sop bisa menjadi alternatif.

Baca Juga: Petani Karet di Kalimantan Selatan Masih Enggan Gabung ke UPPB

Reporter: Rizal Khalqi
Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Amrullah - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Dibuka Menguat, IHSG Hari Ini Diprediksi Melemah Wajar
apahabar.com

Ekbis

Pertumbuhan Energi Terbarukan Indonesia Tertinggi di Dunia
apahabar.com

Ekbis

Majukan Pariwisata di Tanbu, Telkomsel Hadirkan Jaringan 4G di Pantai Angsana
apahabar.com

Ekbis

Analis Menilai Saham BUMN Lebih Sulit Pulih dari Dampak Covid-19
apahabar.com

Ekbis

‘Si Putih’ BPJS Kesehatan Barabai Berikan Layanan Jemput Bola
apahabar.com

Ekbis

AS-China Tegang, Rupiah Melemah
apahabar.com

Ekbis

Lockdown di Sejumlah Negara Bikin Rupiah Depresi
apahabar.com

Ekbis

2020, Pemerintah Alokasikan Rp11 Triliun untuk Rumah Subsidi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com