Kecewa, Pengembang Pelaihari City Mall Ngadu ke Menkopolhukam Jalan Berlubang Km 88 Tapin Renggut Nyawa Pemuda HST Ortu Oke, Belajar Tatap Muka di SMP Banjarmasin Dimulai November Menhub Datang, Pengembangan Runaway Bandara Teweh Dibahas Kronologi Lengkap Petaka Lubang Maut di Tapin yang Tewaskan Pemuda HST

Terlalu Lama Direndam, Pengusaha: Jual Karet atau Air?

- Apahabar.com Senin, 25 Februari 2019 - 16:18 WIB

Terlalu Lama Direndam, Pengusaha: Jual Karet atau Air?

kebun karet. Foto.Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Siapa sangka, merendam karet di air akan membuat harga jualnya turun.

Kepada apahabar.com, Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Kalselteng, Andreas Winata menjelaskan alasannya.

Kata dia, jika direndam terlalu lama berpotensi meningkatkan kader air dalam karet.

“Dengan direndam akan membuat ikatan rantainya jadi busuk. Itu penyebab karet (lum) menimbulkan bau tak sedap,” kata Andreas, Senin (25/2).

Jika masyarakat merendam karet supaya beratnya bertambah dan harganya mahal, itu salah.

Malah, kata dia, juga berpotensi merusak kualitas karet.

Tak hanya itu, untuk menjaga supaya kualitas karet tetap baik, karet tidak boleh bersentuhan dengan matahari langsung.

Jika demikian, kata dia, perusahaan akan enggan membeli dengan harga tinggi kepada petani.

Baca Juga: Harga Turun, Petani Kalsel Malas Sadap Karet

“Buat apa perusahaan (karet) beli air ?” ujarnya.

Selain tak direndam air, untuk mengentalkan karet pun harus menggunakan cairan khusus yang kandungan airnya sedikit.

Metode inilah  yang kerap digunakan produsen karet di negeri tetangga untuk meningkatkan daya jual karet.

“Coba karet itu diletakkan yang baik. Tidak direndam. Baunya pun akan tidak separah setelah direndam,” sambung dia.

Karet yang terkena sinar matahari langsung, kata dia, akan membuat molekul dalam karet terjadi vulkanisasi.

Vulkanisasi yang dimaksud adalah pencampuran belerang dan karet dalam kondisi suhu tertentu sehingga dihasilkan produk karet yang lebih keras tekstur-nya dibandingkan karet biasa.

Maka dari itu rekomendasi penggunaan cairan penggumpal yang sudah dikembangkan yang bisa dipakai para petani, seperti misalnya, cairan Deorub sop bisa menjadi alternatif.

Baca Juga: Petani Karet di Kalimantan Selatan Masih Enggan Gabung ke UPPB

Reporter: Rizal Khalqi
Editor: Fariz Fadhillah

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Duta Mall Pamit, 18 Tenant Tetap Beroperasi
apahabar.com

Ekbis

YLK Kalsel: Jangan Angsul Konsumen dengan Permen!
apahabar.com

Ekbis

Rupiah Awal Pekan Melemah 128 Poin ke Level Rp 13.888
apahabar.com

Ekbis

Luhut Ungkap IMF Komentari Utang Indonesia Akan Meningkat
apahabar.com

Ekbis

Pertumbuhan Inklusi di Indonesia Bagian Timur Dinilai Lambat
apahabar.com

Ekbis

Bila Banjarmasin di-PSBB, Hanya Dua Pasar yang Buka
apahabar.com

Ekbis

Inalum Terbitkan Obligasi Global 2,5 Miliar Dolar AS
apahabar.com

Ekbis

Jika Tidak Menguntungkan, Bank Kalsel Cabang DKI Lebih Baik Tutup
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com