Usai Kios Pasar Kuripan Dibongkar, Pemkot Banjarmasin Incar Ruko dan TPS Veteran BMW M1 milik mendiang Paul Walker “Fast and Furious” Dilelang Rumdin Kepala Kemenag HSU Ambruk ke Air, Begini Nasib Penghuninya 2 Segmen Rampung, Jembatan Bailey Pabahanan Tala Sudah Bisa Dilewati Kenakan Sarung, Mayat Gegerkan Warga Ratu Zaleha Banjarmasin

Tidak Mudah Menjadi Pendakwah di Zaman Dulu, Tunji Abbas Mengalaminya

- Apahabar.com Sabtu, 23 Februari 2019 - 08:25 WIB

Tidak Mudah Menjadi Pendakwah di Zaman Dulu, Tunji Abbas Mengalaminya

Ilustrasi. Datuk Penghulu Laksmana Seman dan ulama-ulama di Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan tempo dulu. Foto-fickr

apahabar.com, BANJARMASIN – Menjadi pendakwah di zaman dulu, tidak semudah sekarang, khususnya pendakwah di Kalimantan Selatan. Selain medan dan alat komunikasi yang tidak memadai, pendakwah di zaman dulu mesti “sakti” kalau ingin diikuti.

Tuan Guru H Abbas atau yang dikenal dengan Tunji (Tuan Haji) Abbas yang diperintahkan oleh para ulama di Martapura yang pada saat itu menjadi pusat Kerajaan Banjar, untuk berdakwah di daerah Hulu Sungai Selatan, tepatnya di daerah Wasah (sekarang Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan).

Baca Juga: Pendulang Emas Terkejut Mendengar Penjelasan Guru Ramli Terkait Lokasi Galian

Di daerah tersebut, Tunji Abbas tidak disambut layaknya pendakwah sekarang, dengan senyuman dengan tangan terbuka.

Di antara mereka ada yang lebih dulu mengetes kesaktian ulama yang akan berdakwah di daerah mereka. Jika tidak lulus, jangan berharap punya pengikut.

Diceritakan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari atau Abah Guru Sekumpul, ada seorang lelaki datang ke kediaman Tunji Abbas. Orang itu rupanya sudah mengetahui maksud kedatangan Tunji Abbas ke kampung mereka, yakni ingin berdakwah.

Karenanya, dia datang untuk menguji seberapa “sakti” Tunji Abbas hingga berani datang ke tempat mereka.

Lelaki itu mencabut sepohon bambu dan dibawa ke hadapan Tunji Abbas yang berada di beranda rumahnya.

Sambil menanyakan kampung asal Tunji Abbas, orang itu membersihkan ranting, daun, bahkan memotong bambu hanya dengan tangannya. Dia memperlakukan tangannya layaknya sebilah parang.

Melihat prilaku orang itu, Tunji Abbas mengetahui bahwa beliau sedang diuji. Maka, beliau pun kemudian memanggil khadam (pembantu) beliau yang bernama Durahman (Abdurrahman).

Baca Juga: Penghina Guru Sekumpul Via Medsos Akhirnya Jalani Sidang Perdana

“Ambilkan tongkatku yang di bawah ranjang,” ujar Tunji Abbas.

Abdurrahman pun dengan tertatih-tatih membawa tongkat besi seukuran pergelangan orang dewasa ke hadapan Tunji Abbas. Setelah berada di hadapan Tunji Abbas, tongkat itu digunting beliau dengan dua jari.

“Nang kaya bubur gunting (bentuk potongan itu seperti bubur gunting, red),” ujar Abah Guru Sekumpul ketika menceritakan keramat Tunji Abbas di Majelis Ar Raudhah Sekumpul.

Setelah kejadian itu, baru orang-orang di sana mau menjadi murid Tunji Abbas.

Tunji Abbas sendiri adalah ulama keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Yakni, ayah beliau yang bernama Syekh Abdul Jalil merupakan anak dari Khalifah (Mufti merangkap qadhi) Syekh Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Baca Juga: Pendulang Emas Terkejut Mendengar Penjelasan Guru Ramli Terkait Lokasi Galian

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Religi

Cara Rasulullah Mengokohkan Barisan Umat Saat Hijrah
apahabar.com

Sirah

Mengenal Tiga Bangunan Peninggalan Dinasti Al-Ayyubiyah yang Tersohor
apahabar.com

Religi

Begini Anjuran Nabi untuk Mengikat ‘Keharmonisan’

Religi

Roti Menjadi Makanan Favorit di Era Abbasiyah
apahabar.com

Sirah

Mengenang Dinasti Abbasiyah pada Masa Gemilang
apahabar.com

Sirah

Kisah Penghulu Rasyid, Pejuang yang Makamnya Menjadi Destinasi Wisata
apahabar.com

Sirah

Ulama ini Dianugerahi Keistimewaan Layaknya Mukjizat Nabi Sulaiman AS
apahabar.com

Sirah

Tak Semua Air Sah untuk Bersuci, Simak Uraian dari Madzhab Syafii
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com