Resmi, Palangka Raya Belum Mau Berlakukan New Normal Susul Tanbu, Giliran 3 Pasien Tapin Sembuh dari Covid-19 Cerita Tukang Cukur Banjarmasin Keluhkan Protokol Covid-19 Pemuda Mandastana Genapi 4 Pasien Sembuh Covid-19 di Batola Kebakaran Jalan Manggis, Los Bedakan Diduga Sengaja Dibakar




Home Tokoh

Selasa, 26 Maret 2019 - 12:39 WIB

Datu Landak (1), Pada Dirinya Mengalir Darah Dua Ulama Besar Nusantara

rifad - Apahabar.com

Syekh Muhammad Afif yang juga dikenal dengan julukan ‘Datu Landak’. Foto-net

Syekh Muhammad Afif yang juga dikenal dengan julukan ‘Datu Landak’. Foto-net

apahabar.com, BANJARMASIN – Syekh Muhammad Afif yang bergelar Datu Landak merupakan ulama Banjar yang memiliki garis keturunan dua ulama besar di Nusantara. Yakni Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di pihak ibu, dan Pangeran Diponegoro dari garis ayah.

Menurut buku “Riwayat Datu Landak, Surgi H M Afif” disebutkan, Syekh Muhammad Afif adalah anak dari wanita bernama Sari putra Khalifah Zainuddin putra Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Sedangkan di gari ayah, Syekh Muhammad Afif adalah putra dari Anang Mahmud putra Haji Jamaluddin putra Kiai Dipasunda putra Pardi (Pangeran Diponegoro).

Dari perkawinan Anang Mahmud dengan Sari mendapatkan 6 orang anak; Bulkis, Haji Abdullah (Manteri cacar Kalua), Aisyah, Syekh Muhammad Afif, Maimunah, dan Haji Ahmad.

Syekh Muhammad Afif menikah dengan Shafura binti Mufti H Muhammad Arsyad (Keramat Pagatan, Tanah Bumbu). Dari perkawinan tersebut, beliau mendapatkan dua orang anak bernama Mufti H Abdurrahman Shiddiq (Datu Sapat, Riau) dan seorang wanita bernama Muhibbah.

Baca juga :  Tuan Guru H M Sya’rani Arif Al Banjari (1), Khalifah Syekh Umar Hamdan

Baca Juga: Habib Ibrahim Al Habsyi Nagara (1), Kejadian Ganjil yang Menyingkap ‘Keilmuan’ Sang Ulama

Baca Juga: Habib Ibrahim Al Habsyi Nagara (2), Tempuh Hadramaut-Kalimantan Hanya Karena Sebuah Pena

Kemudian, Syekh Muhammad Afif kembali menikah dengan seorang wanita bernama Shofiyyah binti Al Alimul Allamah Haji Muhammad Qasim. Dari pernikahan ini, beliau mendapatkan tiga orang anak; Latifah, Ibrahim (Abdurrahim), dan Mariyam.

Tidak tercatat dengan jelas pada siapa Syekh Muhammad Afif berguru dan apakah beliau juga menggelar majelis layaknya banyak ulama Martapura kala itu.

Namun dapat dipastikan, Syekh Muhammad Afif banyak berguru pada ulama di kampung halamannya, Dalam Pagar Martapura.

Baca juga :  Awal Mula Persahabatan Datu Kelampayan dan Datu Sanggul yang Melegenda

Dalam Pagar adalah sebuah kampung yang dibangun Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Di sana-lah beliau menggembleng anak muridnya yang pada awalnya hanya dari kalangan keluarga pada sebuah halaqoh. Halaqoh (majelis) itu lestari hingga sekarang dengan nama Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Selain itu, seperti ditulis dalam “Datu-datu Terkenal Kalimantan Selatan”, Syekh Muhammad Afif juga menimba ilmu di banyak tempat, dan dimungkinkan juga menimba ilmu di Tanah Suci, mengingat gelar Syekh atau Haji di depan nama beliau.

Sementara dalam kehidupan sehari-hari, Syekh Muhammad Afif menjalani hidup dengan bertani dan berdagang majum, dupa, dan garu.

Baca Juga: Syekh Abdusshamad Bakumpai (1), Jasadnya Menghilang Ketika Shalat

Baca Juga: Syekh Abdussamad Bakumpai (2), Jasanya Besar pada Suku Dayak

Editor: Muhammad Bulkini

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Zainal Ilmi Al Banjari (2) dan Rahasia yang Terbongkar Setelah Kewafatannya
apahabar.com

Tokoh

Mengenang Guru Nuzhan (1) dan ‘Kekeramatan’ Beliau yang Tak Biasa
apahabar.com

Tokoh

Begini Ceritanya Guru Khaliq Menjadi Qari di Sekumpul
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Muhammad Syarwani Abdan (3), Awal Mula Para Kiai Berguru dengan Beliau
apahabar.com

Tokoh

Mengenang Tuan Guru Nuzhan (2); Berada di Dua Tempat dalam Waktu Bersamaan
apahabar.com

Tokoh

Habib Ibrahim Al Habsyi Nagara (1), Kejadian Ganjil yang Menyingkap ‘Keilmuan’ Sang Ulama
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H M Sya’rani Arif Al Banjari (2), Sakit Tetap Mengajar
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Zainal Ilmi Al Banjari (1), Lahir di Desa “Gudang Ulama”