Indef: Setahun Jokowi-Ma’ruf Amin ULN Melonjak, Setiap Penduduk Warisi Utang Rp 20,5 juta Demo di Pelaihari Berbuntut Laporan Polisi, Sekda Tala Minta Maaf Harga Tiket Bioskop XXI Duta Mall Banjarmasin Turun, Simak Daftar Lengkapnya Kedai Terapung, Unggulan Wisata Baru di Barito Kuala Alasan FM, Oknum ASN Banjarbaru Tuduh Polisi Provokator Demo Omnibus Law

Gus Mus Angkat Bicara Soal Doa Perang Badar Neno Warisman

- Apahabar.com Rabu, 6 Maret 2019 - 11:55 WIB

Gus Mus Angkat Bicara Soal Doa Perang Badar Neno Warisman

KH Mustofa Bisri. Foto-ngopibareng.id

apahabar.com, JAKARTA – KH Mustofa Bisri (Gus Mus) angkat bicara terkait doa Perang Badar yang dipanjatkan Neno Warisman pada 2 Februari lalu.

Neno Warisman dalam doanya memohon agar calon yang didukungnya dimenangkan sebagai presiden. Jika kalah, dia khawatir tidak akan ada lagi yang menyembah Tuhan.

Doa tersebut pun mendapat tanggapan dari Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, KH Mustofa Bisri atau Gus Mus. Menurut Gus Mus, suasana pemilu di Indonesia saat ini jauh berbeda dengan Perang Badar. Pemilu adalah hajatan rutin lima tahunan yang sudah digelar di Indonesia sejak 1955. Tujuannya adalah memilih pemimpin, bukan bermusuhan seperti terjadi dalam Perang Badar.

“Yang menyembah Allah itu tidak hanya di Indonesia, di Pakistan, Malaysia, Mesir, Arab Saudi, dan lainnya banyak yang menyembah Tuhan,” kata Gus Mus seperti dilansir dari detik.com, Rabu (6/3/2019).

Selain doa Neno, Gus Mus sering menanggapi isu-isu politik yang ramai diperbincangkan.

Baca Juga: 5 Survei Terakhir Pilpres, Baca Faktanya

Salah satu cuitannya di Twitter dan Instagram, Gus Mus mengajak semua pihak untuk sesekali berhenti dan berpikir mengenai politik praktis, mengenai pilpres dan pileg.

“Lalu rasakan betapa lapangnya dadamu.”

Tulisan itu diunggah pada 25 Agustus 2018, sebelum dua pasangan calon presiden dan wakil presiden mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Gus Mus mencuit seperti itu bukan tanpa alasan. Suasana politik di Tanah Air saat itu sudah mulai memanas. Hal itu diperparah dengan adanya istilah ‘cebong’ dan ‘kampret’ untuk menyebutkan pendukung ke dua capres tersebut.

Sayangnya, para elite partai politik tidak berupaya untuk mengendalikan pendukung mereka. Bahkan sebaliknya, mereka juga ikut dalam persaingan tak sehat itu.

Baca Juga: KPU Larang Kampanye Fitnah

Editor: Muhammad Bulkini

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Politik

Sosialisasi Pilkada Banjar, Panwascam Singgung Kades yang Ikut Kampanye
apahabar.com

Politik

Dilema Golkar di Perang Bintang Pilwali Banjarmasin
apahabar.com

Politik

Jokowi Sebut Elektabilitas Turun Terkait Harga Komoditas
apahabar.com

Politik

Iskandar-Irwansyah Terima Surat Dukungan PSI Maju di Pilwali Banjarbaru
apahabar.com

Politik

LIPI: Isu Tenaga Asing Tak Akan Dibahas Mendalam
apahabar.com

Politik

Cuncung–Alpiya Jamin Seni Budaya di Tanah Bumbu Bakal Lebih Keren
apahabar.com

Politik

Panwas Kecamatan di Banjarmasin Kini Dibekali LHP Online
apahabar.com

Politik

Andin-Guru Oton Siapkan Program Khusus untuk UMKM dan Kualitas Santri
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com