Update Banjir Kalsel: Sudah 6 Kabupaten Terdampak! Parah, Empat Titik Longsor Sempat Tutup Akses Utama Loksado-Kandangan UPDATE Tinggi Air Jelang Puncak Banjir HST BREAKING! Bupati HST Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir Banjir di Pusat Kota HST Meluas, Ratusan Jiwa Mengungsi

Ini Dia Sejarah Nyepi

- Apahabar.com     Rabu, 6 Maret 2019 - 15:35 WITA

Ini Dia Sejarah Nyepi

Ilustrasi perayaan Nyepi umat Hindu. Foto-benhil.net

apahabar.com, BANJARMASIN – Nyepi berasal dari kata sepi yang artinya sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan. kemudian Hari Raya Nyepi adalah Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi.

Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi (tiap 1 januari), Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi dan melaksanakan catur brata penyepian. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Internasional Ngurah Rai pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Nah, bila tinggal di Bali atau pernah berliburan di Bali saat Nyepi, pasti akan merasakan bagaimana suasananya yang tidak akan pernah ditemukan di kota lain di Indonesia. Nyepi identik dengan suasana sepi dan gelap gulita di malam hari yang dirayakan secara serentak diseluruh daerah Bali setiap 1 tahun sekali ternyata ada sejarahnya.

Semua orang mungkin tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan.

Pertikaian antar suku-suku bangsa, (Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.

Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi.

Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda.

Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang.

Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampai ke Indonesia.

apahabar.com

Infografis-apahabar.com

Baca Juga: Sambut Nyepi, Bersuci Melalui Melasti di Pantai Madani

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Polsek Sugapa Papua

Nasional

KKB Tembaki Polsek Sugapa Papua, 5 Orang Terpantau Drone

Nasional

Tepis Hoaks, UAS: Yayasan Wakaf Bukan Kado Pernikahan
Dukung Gerakan Eliminasi TBC, Jokowi: Utamakan Tindakan Pencegahan

Nasional

Dukung Gerakan Eliminasi TBC, Jokowi: Utamakan Tindakan Pencegahan
apahabar.com

Nasional

IDI Catat Jumlah Tenaga Medis yang Gugur akibat Covid-19 Meningkat
Sri Purnomo

Nasional

Sempat Divaksin Sinovac, Bupati Sleman Positif Covid-19
apahabar.com

Nasional

Longsor Tambang Emas di Banjarbaru
Giant

Nasional

8 Fakta Gerai Giant Seluruh Indonesia Ditutup, Tangis Karyawan Pecah
apahabar.com

Nasional

Marah Mobilnya Disalip, Pria Berpisau Kaget Ternyata Jenderal Polisi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com