Update Covid-19 Tanbu: Sembuh 1 Orang, Positif Nihil 6 Preman Kampung Pemeras Warga di Jalan Nasional Kalsel-Kaltim Disikat Polisi Pasangannya Meninggal, Rahmad Masud: Saya Masih Nggak Nyangka, Ini Seperti Mimpi Wawali Terpilih Meninggal, Begini Penjelasan RSP Balikpapan Respons Pemprov, Gubernur Sahbirin Mau Digugat karena Banjir Kalsel

PGI : Istilah ‘Kafir’ Ganggu Persaudaraan

- Apahabar.com Selasa, 5 Maret 2019 - 16:04 WIB

PGI : Istilah ‘Kafir’ Ganggu Persaudaraan

Ilustrasi kerukunan umat beragama. Foto-net

apahabar.com, JAKARTA – Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama NU yang melarang penyebutan ‘kafir’ disambut baik Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). Menurut mereka, sebutan bagi non muslim itu merusak persaudaraan antar umat beragama.

“Kami menghargai keputusan itu, sebab penyebutan istilah kafir terhadap seseorang atau sekelompok orang itu dapat mengganggu persaudaraan kita,” ujar Ketua Umum PGI, Pendeta Henriette T Hutabarat-Lebang, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/3/2019).

Seperti dilansir detikcom, Henriette mengungkapkan, selama ini ada kecenderugan melabelkan non muslim dengan sebutan kafir. Padahal itu bentuk diskriminasi hingga menciptakan stigma negatif.

Baca Juga: Jalan Rusak di Kabupaten OKU yang Viral Mulai Diperbaiki

Dalam kesempatan yang sama, Sekum PGI, Pendeta Gomar Gultom menilai NU selama ini memang selalu mengedepankan persaudaraan antar umat beragama. Dia pun menyebut rekomendasi ulama NU itu murni lahir dari keputusan musyawarah ulama NU.

“Buat saya tidak aneh, bukan hal baru untuk NU, karena NU selama ini sudah melihat bahwa yang harus dikedepankan adalah persaudaraan insaniyah. Jadi apa yang NU lakukan adalah penegasan saja terhadap sikap mereka selama ini,” ungkap Gomar.

“Penggunaan kata kafir, di setiap agama ada. Di Kristen juga ada. Tapi istilah kafir ini cukup internal agama. Tidak dibawa-bawa ke ruang publik. Jadi ketika menyangkut ruang publik, baiklah kita pakai warga negara,” imbuhnya.

Sebelumnya, dalam penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Ponpes Miftahul Huda Al Azhar, Banjar, Jawa Barat, Jumat (1/3), ditetapkan 5 rekomendasi dimana salah satunya, soal istilah kafir.

Istilah kafir menurut Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj tidak dikenal dalam sistem kewarganegaraan pada suatu negara dan bangsa. Maka setiap warga negara memiliki hak yang sama di mata konstitusi. Maka yang ada adalah nonmuslim bukan kafir.

Said Aqil, mengisahkan istilah kafir berlaku ketika Nabi Muhammad SAW di Makkah untuk menyebut orang yang menyembah berhala, tidak memiliki kitab suci dan agama yang benar.

“Tapi ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Tidak ada istilah kafir bagi warga Madinah. Ada tiga suku non muslim di Madinah, di sana disebut nonmuslim tidak disebut kafir,” kata Said Aqil.

Baca Juga: Viral Emak Ngamuk karena Motornya Diangkut, Nah Dishub Sudah Benar atau Malah Bikin Salah?

Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Kewenangan Fatwa Halal oleh Banyak Lembaga akan Rancu
apahabar.com

Nasional

Hadiri Pertemuan ‘Menhan’ se-ASEAN, Prabowo Tegaskan Komitmen Indonesia untuk Perdamaian
apahabar.com

Nasional

Penasaran, Anjing Makan Sekantung Heroin yang Dikubur di Taman
BMKG

Nasional

BMKG: Waspadai Potensi Hujan Lebat di Sebagian Wilayah Indonesia
apahabar.com

Nasional

Jubir Pemerintah: Covid-19 Berakhir Jika Masyarakat Patuh dan Disiplin
apahabar.com

Nasional

KPK: 2 Pegawai Positif Covid-19 Masih Jalani Isolasi di Rumah Sakit
apahabar.com

Nasional

Presiden Jokowi Bubarkan 10 Lembaga Negara Non-Kementerian, Berikut Daftarnya
apahabar.com

Nasional

Ikuti Tes Perpanjangan Kontrak, Honorer K2 Disuruh Masuk Got
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com