Malu-maluin! Pemuda di Kotabaru Jambret Wanita demi Komix Terungkap, Korban Tewas Kecelakaan di Tapin Warga Wildan Banjarmasin INALILAHI Hujan Lebat, Pengendara Vario di Tapin Tewas 7 POPULER KALSEL: Ibu Bunuh Anak di Benawa HST hingga Ketua Nasdem Tala Buron Banjir Masih Merendam Rumah Warga, Dinsos Tabalong Bagikan Sembako

Tingkatkan Mutu Karet, Begini yang Dilakukan Petani Tabalong

- Apahabar.com Kamis, 21 Maret 2019 - 20:38 WIB

Tingkatkan Mutu Karet, Begini yang Dilakukan Petani Tabalong

Ilustrasi aktivitas menyadap karet. Foto-net.

apahabar.com, TANJUNG – Sudah lama, karet jadi salah satu komoditas utama masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya di Kabupaten Tabalong. Sayang di antara sejumlah faktor, petani karet sulit berkembang.

Salah satunya mengenai mutu karet. Luas kebun karet berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Antara, Kamis (21/3), mencapai 49.116 hektar. Namun rendahnya standar mutu karet itu, ditenggarai membuat harga jual rendah. Sehingga mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani.

Baca Juga: LKPJ 2018, Produksi Karet Kalsel Lampaui Target

Tak ingin terjebak di sana, Muhammad Zaini (60), petani karet asal Desa Muara Uya, Kabupaten Tabalong berusaha mengubah nasibnya bersama para petani karet di sana. Bersama, mereka membentuk Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) dengan nama Fajar Menyingsing.

Berbekal pengetahuan dan keterampilan hasil studi banding di Palembang 2015, Zaini mulai eksis meningkatkan mutu karet melalui penggunaan bahan pembeku asap cair.

“Hasil studi banding di Palembang penggunaan asap cair bisa meningkatkan mutu karet,” jelas Zaini dikutip dari Antara, Kamis (21/3).

Sebagai pelaksana umum di UPPB Fajar Menyingsing, Zaini kini sudah membina sejumlah desa di Kabupaten Tabalong dalam penggunaan asap cair.

Baca Juga: Ini Upaya Pemerintah Mendongkrak Harga Karet di Indonesia

Lelaki yang memiliki sembilan cucu ini mengajak para petani karet menerapkan penggunaan asap cair sebagai pengental karet yang sebelumnya terbiasa dengan pupuk urea ataupun tawas.

Perlahan tapi pasti, ia terus-menerus mengajak masyarakat untuk menggunakan bahan serupa sebagai pengental karet di lingkungannya

Semula, ia mengajak kerabat dan tetangganya untuk memproduksi karet berkualitas, tentunya dengan kadar karet kering yang lebih baik.

Sejumlah bantuan kemudian banyak diterima oleh kelompok tersebut, mulai dari peningkatan kapasitas hingga alat pembuat asap cair dari Yayasan Adaro Bangun Negeri pada 2017.

Baca Juga: Petani Karet Doakan Jokowi Terpilih Lagi

“Bantuan alat ini sangat membantu kami dalam memprodusi asap cair,” tutur dia.

Bahan baku kayu alaban pun cukup mudah diperoleh Zaini dan petani karet guna memproduksi asap cair sehingga biaya lebih ringan dibandingkan dengan harus membeli di pasaran.

Alat pembuat asap cair ini mampu memproduksi 5 liter dengan bahan baku kayu Alaban sekitar 70 kilogram.

Dengan menggunakan asap cair, selain kualitas karet meningkat, para petani mengakui bahwa bahan olahan karet yang disimpan tidak lengket dan berbau seperti sebelumnya, sehingga tidak mengganggu penciuman.

Baca Juga: Percepatan Pembangunan Pabrik Karet Kalsel Terus Dinanti

Dengan anggota mencapai 400 petani karet yang berasal dari 11 kelompok tani UPPB Fajar Menyingsing memproduksi 10 sampai 15 ton karet per minggu.

Karet olahan UPPB ini dijual langsung ke pabrik, tanpa perantara tengkulak, sehingga keuntungan dan hasil jual karet yang didapat oleh masyarakat lebih tinggi.

“Harganya bisa mencapai Rp11.550 per kilogramnya karena langsung kita jual ke pabrik,” jelas Zaini.

Sementara itu, karet mangkokan (lump) dengan kualitas rendah saat ini harga jualnya Rp7.700 per kilogram karena tingkat kadar keringnya masih tinggi.

Provinsi Kalsel sendiri jadi satu di antara tiga provinsi yang menjadi percontohan kenaikan harga karet nasional melalui berbagai program yang akan digelontorkan oleh pemerintah pusat.

Baca Juga: Terlalu Lama Direndam, Pengusaha: Jual Karet atau Air?

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel, drh Suparmi mengatakan sebagai upaya meningkatkan harga dan kualitas karet nasional, pemerintah pusat menunjuk tiga provinsi, yaitu Kalsel, Sumatera Selatan, dan Jambi.

Program percepatan peningkatan kualitas dan harga karet tersebut, antara lain melalui intensifikasi dan penguatan UPPB.

“Intensifikasi diarahkan kepada perkebunan karet yang sudah menghasilkan dan sudah tergabung di UPPB,” katanya.

Beberapa intensifikasi tersebut, berupa bantuan pupuk, herbisida, fungisida, dan bantuan asam semut yang selama ini membebani masyarakat.

Upaya penguatan UPPB tersebut, untuk meningkatkan mutu dan harga jual bokar serta penguatan kelembagaannya.

“Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor meminta kepada saya, untuk mengawal program tersebut agar benar-benar berdampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Baca Juga: Harga Turun, Petani Kalsel Malas Sadap Karet

Di Kalsel, selama ini telah terbentuk 109 UPPB. Dari jumlah tersebut, 46 UPPB telah bermitra dengan pabrik “crumb rubber”, sehingga mendapatkan harga lebih baik.

Harga karet di tingkat petani masih cukup rendah dibandingkan dengna harga karet di UPPB.

Hal itu dikarenakan masih banyak petani karet yang belum bermitra dengan pabrikan, serta pengolahan bokar yang masih belum sesuai prosedur seperti belum menggunakan pembeku yang dianjurkan.

Keuntungan dengan bergabungnya petani karet di UPPB adalah selisih harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan petani karet yang menjual langsung ke pengepul.

Selain itu, selisih harga yang bisa didapat petani mencapai Rp3.000-Rp4.000. Oleh karena itu, pihaknya meminta para pekebun untuk bisa bermitra dengan UPBB.

Selain intensifikasi, ucap dia, pemerintah juga akan melakukan peremajaan karet di lahan seluas 1.600 hektare.

Baca Juga: Petani Karet di Kalimantan Selatan Masih Enggan Gabung ke UPPB

Luasan peremajaan tersebut meningkat, jika dibandingkan dengan pada 2018 yang hanya 680 hektare dan 2017 menjadi 1.500 hektare.

Luas areal tanaman karet mencapai 270.345 hektare dengan produksi per tahun sebesar 197.699 ton karet kering.

Pabrik pengolahan karet yang ada di Kalsel tercatat 12 unit dengan kapasitas terpasang 274.900 ton per tahun, terdiri atas pabrik “crumb rubber” 10 unit dengan produksi SIR10 dan SIR20, serta pabrik RSS dua unit.

Upaya mendongkrak mutu produksi karet memang tidak lepas dari inovasi dan kreativitas petani dengan dukungan, antara lain dari pemerintah dan pabrikan. Produk karet bermutu, meningkatkan penghasilan petaninya.

Baca Juga: Pemuda Tapin Tertangkap Tangan Transaksi di Kebun Karet

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Puncak Pandemi

Kalsel

Puncak Pandemi, Berapa Limbah Infeksius Covid-19 di Kalsel?
apahabar.com

Kalsel

Covid-19 Rambah Perkantoran di Batola, Bupati Tekankan Protokol Kesehatan
apahabar.com

Kalsel

Relawan Emergency Triple 4 Banjarmasin Bagikan Ratusan Masker  
apahabar.com

Kalsel

Peduli Tempat Ibadah, Polisi Sumbangkan 4 Kaleng Cat Ukuran 20 Kg ke Masjid Al Barokatul Jami
apahabar.com

Kalsel

Resmi, Banjarmasin Perpanjang PSBB hingga 21 Mei
apahabar.com

Kalsel

Seorang Pemancing di Swarangan Tala Jatuh Tenggelam

Kalsel

VIDEO: Jenazah Nenek Tenggelam di Sungai Amandit Ditemukan, 3 Kilometer dari Tempat Kejadian
apahabar.com

Kalsel

Mengapa Kode Plat Kendaraan di Kalsel, DA? Begini Sejarahnya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com