Misteri 2 Bocah Dibunuh Ibu Depresi di Benawa HST, Saksi Kunci Buka Suara! Ketuanya Buron, Joko Pitoyo Ambil Alih Nasdem Tanah Laut Laporan Denny Rontok di Bawaslu Pusat, Tim BirinMu Endus Motif Lain Inalillahi, 2 Bocah di Batu Benawa HST Tewas Diduga Dibunuh Ibu Depresi Alasan Mencengangkan Disdik Mengapa Anak SMP di Banjarmasin Harus Sekolah Tatap Muka

Beralih ke Umbi-umbian, Pemprov Kalsel: Itu Bagus

- Apahabar.com Sabtu, 6 April 2019 - 20:52 WIB

Beralih ke Umbi-umbian, Pemprov Kalsel: Itu Bagus

ILUSTRASI: Petugas menunjukan stok beras di Gudang Bulog Baru Cisaranten Kidul Sub Divre Bandung, Jawa Barat, Senin (16/10/2018). Perum Bulog menyatakan Indonesia tahun ini mengalami surplus beras hingga mencapai 4,2 juta ton, 1,8 juta ton di antaranya beras impor yang diperkirakan akan cukup hingga 2019 mendatang. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/wsj.

apahabar.com, BANJARMASIN – Sebagai pengganti beras, Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Kalsel menilai umbi-umbian baik bagi kesehatan.

Umbi-umbian umumnya merupakan sumber karbohidrat pengganti beras saat musim paceklik tiba.

“Untuk sehari tanpa mengonsumsi nasi atau diversifikasi itu juga bagus,” kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalsel Syamsir Rahman sembari mengatakan Kalsel tak memiliki permasalahan pada stok ketersediaan beras. Dinas Ketahanan Pangan Kalsel sudah mengklaim stok beras sampai setahun ke depan aman. Stok yang ada mencapai 200 ton beras.

Namun, Pemprov Kalsel merasa sudah saatnya mengurangi ketergantungan masyarakat akan beras melalui program keanekaragaman atau diversifikasi pangan.

Diversifikasi dimaksud, yakni program penanaman tanaman pangan selain beras, berupa jagung dan ubi.

Selain diversifikasi, Gubernur Kalsel Sahbirin Noor, kata Syamsir turut mengampanyekan program satu hari tanpa nasi.

“Apa yang dikampanyekan gubernur Kalsel untuk keanekaragam pangan selain beras, berupa jagung, ubi, dan pisang cukup baik untuk kesehatan,” jelas dia.

Syamsir menilai program diversifikasi nasi akan sangat baik untuk menunjang kesehatan masyarakat.

Seperti diketahui, nasi memiliki kandungan gula yang cukup tinggi. Yang memiliki masalah dengan kandungan gula tentu akan baik mengonsumsi jagung, ubi, dan pisang, ketimbang beras.

Sesuai fakta di lapangan konsumsi beras atau nasi masyarakat Kalsel terus menurun. Faktor gaya hidup modern dan gencarnya kampanye pangan non-beras ikut memengaruhi.

Berdasarkan hasil survei 2005, tercatat tingkat konsumsi beras per kapita masyarakat 139 kilogram (Kg) per tahun.

Kemudian mengalami penurunan pada 2010 menjadi 124 Kg/tahun, dan terakhir menjadi 108 Kg/tahun.

Pada 2018, Dinas Ketahanan Pangan mencatat konsumsi beras per kapita mencapai 97 Kg/tahun. Makanya, pada 2019 ini konsumsi beras ditarget turun menjadi 96 Kg/kapita.

Reporter: Rizal Khalqi
Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

BRT Banjarbakula Didukung Aplikasi Online
apahabar.com

Kalsel

Heboh, Penyusup Bersajam di Demo Anti-Omnibus Law Banjarmasin Diamankan
apahabar.com

Kalsel

Agen Tour dan Travel Mesti Putar Otak, Apa Penyebabnya? 
apahabar.com

Kalsel

Zulfan Noor Ingatkan PPDP Harus Tahu Data Pasien
apahabar.com

Kalsel

Rumah Tetangga Terbakar, Untung Modin Kepala BPKAD Tabalong Tak Hangus
apahabar.com

Kalsel

Cuaca Bersahabat, Warga Kalsel Bisa Bebas Liburan
apahabar.com

Kalsel

Baliho Jagoannya Ditutupi Paslon Lain, Relawan Cuncung-Alpi Tunjukkan Sikap Santun
apahabar.com

Kalsel

Meresahkan, Ular Piton Besar Berhasil Ditangkap 3 Pemuda di Tabalong
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com