ga('send', 'pageview');
Jadi Gubernur Butuh Rp100 Miliar, Rosehan: Saya Tak Punya Uang Horeee, Temuan Vaksin Bikin Rupiah Berpeluang Menguat Sidak ke HBI, Petugas Sindir Pengelola Nashville Pub Salip Pekapuran, Teluk Dalam Tertinggi Kasus Covid-19 di Banjarmasin SE Terbit, Sejumlah Sekolah di Banjarmasin Belum PLS Daring




Home Politik

Selasa, 9 April 2019 - 07:38 WIB

Budaya Politik Uang dari Caleg Karbitan

Redaksi - Apahabar.com

Ilustrasi politik uang. Foto-Beritatagar.id

Ilustrasi politik uang. Foto-Beritatagar.id

apahabar.com, BANJARMSIN – Money Politics atau politik uang begitu khas terdengar jelang masa-masa pemilu.

Entah dari mana budaya politik uang itu berasal. Di masyarakat Indonesia politik uang sudah mulai terang-terangan sejak Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 silam.

Baca Juga: Tonjolkan Program JAMKESRI, Sri Nurnaningsih Siap Mengabdi Lima Tahun ke Depan

Kali ini apahabar.com mencoba membincangkannya dangan M Lutfi Saifuddin, politikus muda yang malang melintang di dunia politik. Lutfi juga tercatat sebagai wakil rakyat di DPRD Kalsel.

apahabar.com

M Lutfi Saifuddin. Foto-Istimewa

Menurutnya, politik uang berawal dari seleksi para kader ‘karbitan’ dalam konteks kontestasi politik praktis.

Istilah kader ‘karbitan’ adalah Caleg yang maju tanpa pengalaman politik, apalagi organisasi yang cukup. Atau mereka yang maju menjadi Caleg semata karena punya modal keuangan mapan.

Baca juga :  Ongkos Politik Mahal, Paman Birin-Muhidin Terancam Melawan Kotak Kosong

“Daerah rawan politik uang biasanya di daerah pinggiran, yang lokasinya padat penduduk dan di sana masif sekali budaya seperti itu,” kata Lutfi.

Minimnya pengetahuan politik menjadi alasan utama jika bicara politik uang.

Dari situ, para caleg ‘karbitan’ mendapat celah untuk mengumpulkan suara.

Masyarakat yang awalnya tak paham soal politik, lalu dicekoki oleh caleg ‘karbitan’ untuk kepentingan suara. Budaya politik uang pun berkembang.

Lantas, apa solusinya? Menurut Lufi, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mesti punya aturan untuk kader muda yang ingin maju menjadi Caleg.

Misalnya punya pengalaman politik minimal 1-2 tahun. Kemudian, juga pengalaman berorganisasi. “Dan dia mesti paham jika menjadi anggota DPRD apa saja tugasnya,” sebutnya.

Baca juga :  Jadi Gubernur Butuh Rp100 Miliar, Rosehan: Saya Tak Punya Uang

Jika demikian, dirinya optimistis para kader yang punya elektabilitas bisa maju menjadi anggota DPRD tanpa menyebarkan budaya politik uang.

“Kalau mau maju misalnya, jadi anggota DPRD tahun 2019, kader partai mestinya sudah mempersiapkan diri sejak 2 tahun atau minimal satu tahun,” begitu kata politikus Gerindra ini.

Lutfi yang tampil santai mengenakan kemeja lengan pendek berwarna biru lengkap dengan peci hitamnya menilai, partai mestinya punya kriteria ketat. Untuk maju menjadi anggota DPRD banyak persiapan yang mesti dipahami.

“Jangan sampai, nanti pas duduk jadi anggota DPRD baru belajar. Itu tidak tepat,” ujarnya mengakhiri.

Baca Juga: Puluhan Ribu Warga akan Hadiri Kampanye Jokowi di Kupang

Reporter: Rizal khalqi
Editor: Fariz Fadhillah

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Politik

Minus Paman Birin, Tiga Nama Kembalikan Berkas ke Gerindra
apahabar.com

Politik

Demokrat: Kami Tetap Bersama 02 Sampai Nanti 22 Mei
apahabar.com

Politik

SK Golkar Terbit, H Rusli-Guru Fadlan Sudah Kantongi 3 Parpol
apahabar.com

Politik

Gerindra: Dukungan ke Abidin Warisan Kemenangan Prabowo di Kalsel
Rencana Maju di Pilkada Kotabaru, Sudian Noor Akhirnya Buka Suara

Politik

Rencana Maju di Pilkada Kotabaru, Sudian Noor Akhirnya Buka Suara
apahabar.com

Politik

Breaking News: Bacalon Wali Kota Banjarbaru Resmi Mengundurkan Diri
apahabar.com

Politik

Membelot, Sanksi Tegas Menanti Pengurus DPW PAN Kalsel
apahabar.com

Politik

Merusak APK Bisa Dibui
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com