Pengungsi Sempat Reaktif, BBPPKS Kalimantan Sediakan Ruang Isolasi Pria Paruh Baya di Balikpapan Ditemukan Tewas Tergantung Pascabanjir HST, Tumpukan Sampah di Kota Barabai Capai 2.000 Rit Gunung Sinabung Erupsi, Semburkan Debu Vulkanik Setinggi 500 Meter Update Covid-19 di Tanbu: Positif 18 Orang, Sembuh 12

Dikira Pemalas, Ternyata Seorang Waliyullah

- Apahabar.com Senin, 29 April 2019 - 17:13 WIB

Dikira Pemalas, Ternyata Seorang Waliyullah

Makam Wali Katum. Foto-jaljuan.wordpress.com

apahabar.com, BARABAI – Ratusan jemaah dari berbagai daerah memenuhi kubah makam Wali Katum di Desa Tabu Darat, Kecamatan Labuan Amas Selatan (LAS), Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada Minggu (28/4/2019). Kedatangan mereka di malam itu untuk mengenang kewafatan Wali Katum di 28 Sya’ban pada 38 tahun lalu (1402 H).

Menurut pantauan apahabar.com, kendaraan roda dua hingga roda empat masih memadati halaman makam hingga Senin (29/4) pagi, sementara sebagian jemaah masih berada di pemakaman.

Mengapa Wali Katum begitu dimuliakan, hingga 38 tahun kewafatannya, makamnya masih dikunjungi dan didoakan?

Penulis Manakib Wali Katum, M Isa Ansari mengungkapkan, Wali Katum yang bernama asli Muhammad Ramli bin Anang Katutut adalah seorang yang suka berkhalwat, menyendiri di sebuah gubuk yang tidak berpintu.

Itulah sebabnya beliau di kemudian hari bergelar Wali Katum. Kata “Katum” diambil dari bahasa Arab yang berarti “Sembunyi.

”Diceritakan, Isa Ansari, Wali Katum yang nama kecilnya Artum Ali itu sejak kecil dikenal ganjil. Orang mengira dia seorang pemalas, meski fisiknya tidak lemah.

“Di mata masyarakat, beliau dikenal pemalas. (padahal sebenarnya, red) Beliau menghabiskan waktu untuk Allah SWT,” ujarnya pada apahabar.com, Senin (29/4).

Sementara itu, salah satu keturunan Wali Katum bernama M Khulaifi menceritakan, Wali Katum adalah sosok penuntut ilmu yang suka membantu hal-hal yang terkait keagamaan. Meskipun, beliau tinggal menyendiri jauh dari pemukiman warga.

“Seperti membersihkan masjid, pesantren, menuntut ilmu agama, Wali Katum ikut serta,” ujar Khulaifi.

Selain itu, Wali Katum dikenal sebagai seorang yang hidup sederhana dan tidak mengeluh. Kehidupannya yang sederhana tidak membuatnya menjadi peminta-minta, beliau tidak ingin menyusahkan orang.

“Yang susah ditiru dari kebiasaan beliau adalah ke manapun selalu membawa Alquran untuk dibaca,” ujarnya.

Dari peninggalan Wali Katum yang tersisa, adalah tajau tempat minum serta Alquran dan kitab-kitab yang dipelajari beliau.

“Bentuknya (kitab) lonjong karena sisinya sudah aus,” katanya sambil menunjukan tempat penyimpanan kitab-kita Wali Katum.

Wali Katum dipercayai memiliki banyak karomah (keramat) yang disaksikan banyak orang. Di antaranya; terlihat di Makkah saat musim haji padahal beliau tidak punya harta dan tinggal di gubuk, gubuk reotnya mampu menampung sebanyak apa pun murid yang datang, minyak tanah yang tak habis dijadikan bahan bakar, kasyaf, dan banyak lagi yang lainnya.

Baca Juga: Ini ‘Kesaktian’ Tuan Guru Bangil yang Dikagumi Guru Tuha

Baca Juga: Begini Tanggapan Guru Cantung Ketika Mendengar Nama Habib Luthfi bin Yahya

Reporter: AHC11
Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Religi

Dijuluki Syaithan, Pembunuh Bayaran Ini Akhirnya Memeluk Islam di Hadapan Rasulullah SAW
apahabar.com

Sirah

Tidak Mudah Menjadi Pendakwah di Zaman Dulu, Tunji Abbas Mengalaminya
apahabar.com

Sirah

Ternyata Tradisi “Bagarakan Sahur” Sudah Ada di Zaman Rasulullah SAW
apahabar.com

Sirah

Keramat Guru Rosyad, Vespa yang Tak Bisa Dipindah

Religi

Roti Menjadi Makanan Favorit di Era Abbasiyah
Awal Munculnya Istilah Tarawih

Sirah

Awal Munculnya Istilah Tarawih
apahabar.com

Sirah

Kesultanan Banjar Menjadi ‘Bagian’ Khilafah Islamiyah di Turki
apahabar.com

Religi

Cara Rasulullah Mengokohkan Barisan Umat Saat Hijrah
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com