Cerita Sukses Trader Forex Banjarmasin, Modal Rp 15 Juta Berangkatkan Umrah Keluarga 3 Jam Hujan Deras, Ratusan Rumah Warga Desa Miawa Tapin Kebanjiran Kisah Pilu Istri Korban Disambar Buaya di Kotabaru, Harus Rawat 4 Anak, 1 di Antaranya Berusia 6 Bulan Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah Produksi Migas Kalimantan-Sulawesi Lampaui Target, Kok Bisa?

Habib Salim Jindan; Berguru pada 200-an Ulama Nusantara dan Bangga Menjadi Warga Indonesia

- Apahabar.com Selasa, 2 April 2019 - 09:18 WIB

Habib Salim Jindan; Berguru pada 200-an Ulama Nusantara dan Bangga Menjadi Warga Indonesia

Habib Salim Jindan. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Habib Salim bin Ahmad bin Jindan seorang ulama yang diakui keilmuannya. Meski dari sisi nasab dia seorang ahlul bait keturunan dari Hadramaut (Yaman), namun dia termasuk habib yang mencintai tanah kelahirannya, Indonesia.

Seperti diberitakan nu.or.id, Habib Ahmad bin Novel bin Salim Jindan menyebutkan riwayat kakeknya (Habib Salim bin Jindan) yang merupakan ulama yang bangga dengan tanah kelahirannya.

Hal itu diungkapkan Habib Ahmad dalam kajian Islam Nusantara Center (INC) yang digelar di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, belum lama ini.

“Ini terlepas beliau kakek saya. Yang jelas, beliau sering mengungkapkan kebanggaannya terhadap Indonesia melalui karya-karyanya,” ujar Pengasuh Pesantren Al Fachriyah ini.

Habib Salim Jindan, sambung Habib Ahmad, adalah ulama yang produktif. Karya-karya beliau meliputi berbagai cabang ilmu, namun yang paling utama di bidang hadits.

Habib Salim lahir di Surabaya. Adapun ayahnya, Habib Ahmad bin Husein bin Jindan, lahir di Manado, Sulawesi Utara. Sementara kakeknya, Habib Husein bin Soleh bin Jindan merupakan orang pertama hijrah dari Hadramaut ke Nusantara yang berdakwah di Sulawesi Utara hingga Filipina.

Menurut Habib Ahmad, kebanggaan Habib Salim bin Jindan itu dapat dilihat dari berbagai karyanya yang selalu menambahkan Al Indunisiy di akhir namanya.

“Beliau selalu menyebutkan namanya dengan Al-Allamah Al-Muhaddits As-Sayyid Salim bin Ahmad bin Jindan Al-Alawiy Al-Husainiy Al-Indunisiy,” ungkapnya.

Habib Salim diketahui banyak berguru pada ulama Nusantara. Dalam berbagai karya beliau, banyak mengutip karya ulama Nusantara.

“Salah satu yang dikutip adalah karya ulama Tuban yang ditulis pada abad ke-14,” papar Habib Ahmad.

Baca Juga: Habib Ibrahim Al Habsyi Nagara (1), Kejadian Ganjil yang Menyingkap ‘Keilmuan’ Sang Ulama

Karya tersebut, lanjut Habib Ahmad, tidak hanya dikutip oleh sang kakek. Akan tetapi, ulama lain seperti Habib Ahmad bin Abdullah Assegaf yang pernah menulis kitab Fatat Garut juga mengutip karya ulama Tuban tersebut dalam karyanya mengenai Tarikh Kesultanan Banten.

“Artinya, karya tersebut merupakan referensi penting untuk melihat sejarah Islam di Indonesia,” jelas Habib.

Lebih jauh, Habib Ahmad menjelaskan, Indonesia sebenarnya kaya akan peninggalan sejarah. Namun, perlu usaha besar untuk mengumpulkan naskah-naskah tersebut. Selain itu, ulama dari Indonesia juga sangat hebat. Sayangnya, mereka tidak pernah disebutkan di Timur Tengah.

“Analisis saya, ini karena jaraknya yang jauh. Hampir di ujung dunia bagi orang Timteng. Selain itu, juga karena dari segi bahasa,” kata Habib.

Banyak ulama Nusantara, ungkap Habib Ahmad, jika keluar dari Indonesia justru menjadi rujukan di Timur Tengah. Sebut saja Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Yasin Al-Fadani, Syekh Yusuf Al-Makassari, dan lainnya.

Habib Salim Jindan, kata dia, banyak menulis biografi para guru. Terhitung lebih kurang ada 400 tokoh yang menjadi gurunya. Sekitar 200-an merupakan ulama Nusantara.

“Beliau menulis biografi tersebut secara detail mulai dari nasabnya, sanadnya, hingga pandangan-pandangannya,” terang Habib Ahmad.

Adapun penyusunannya, sambung Habib, disusun sesuai mu’jam (abjad). Sejauh ini, dari karya biografi tersebut yang disimpan keluarganya ada empat jilid yang tiap jilidnya lebih kurang terdiri dari 1000 halaman.

Dari empat jilid tersebut mulai huruf alif terputus pada huruf kha’ sisanya diperkirakan masih 20 huruf lagi yang belum ditemukan.

“Wallahu a’lam, mungkin dimakan rayap atau karena memang faktor usia. Semua itu merupakan PR bagi kita untuk mengkaji kitab-kitab tersebut agar mengetahui sejarah ulama terdahulu,” pungkas Habib Ahmad.

Baca Juga: Habib Ibrahim Al Habsyi Nagara (2), Tempuh Hadramaut-Kalimantan Hanya Karena Sebuah Pena

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Muhammad Syarwani Abdan (6), ‘Geram’ dengan Prilaku Ustaz-Ustaz Muda
apahabar.com

Tokoh

Habib Ibrahim Al Habsyi Nagara (2), Tempuh Hadramaut-Kalimantan Hanya Karena Sebuah Pena
apahabar.com

Tokoh

Mengenang Tuan Guru Nuzhan (2); Berada di Dua Tempat dalam Waktu Bersamaan
apahabar.com

Tokoh

Mengenang Abah Guru Sekumpul (4), Mengumpul “Dua Mutiara dari Tanah Banjar”
apahabar.com

Tokoh

Mengenal Sang Penemu Kamera Obscura

Religi

VIDEO: Mengenang Abah Guru Sekumpul (2), Berganti Nama Karena Sebuah Isyarat
apahabar.com

Tokoh

Datu Amin, Jadi Mufti di Saat Berkecamuknya Perang
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Husin Qaderi Al Banjari (1), Qadhi Santun yang Tak “Makan” Gaji
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com