Catat, Banjarmasin Belum Akan Buka Sekolah Saat Ajaran Baru Nasib Pengemudi Bodong, Penabrak Mobil Ketua DPRD Kotabaru Motif Pembunuhan di Belitung Darat, Pelaku Tak Terima Istri Dimarahi Rutan Marabahan Terpapar Covid-19, Satu WBP dan Petugas Positif Kalsel Rentan Kecurangan, Bawaslu RI Wanti-Wanti Kepala Daerah




Home Politik

Sabtu, 27 April 2019 - 12:54 WIB

Mengupas Kegagalan Partai Baru di Kalsel

Redaksi - Apahabar.com

Ilustrasi partai politik. Foto-Net

Ilustrasi partai politik. Foto-Net

apahabar.com, BANJARMASIN – Partai baru bermunculan pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Namun sayang keberadaan partai politik baru tak banyak membawa pengaruh.

Buktinya deretan nama calon legislatif dari partai besar lah yang punya peluang besar lolos menjadi wakil rakyat. Fenomena ini mendapat perhatian pengamat politik, Varinia Pura Damaiyanti.

“Partai kecil kalah? Ya, namanya saja sudah partai kecil,” ujar Varinia kepada apahabar.com.

Baca Juga: Lagi, Anggota KPPS Meninggal Dunia Akibat Kelelahan

Varinia membeberkan, di Kalsel pun eksistensi partai besar masih cukup kuat. Kokohnya keberadaan partai besar, menurut Dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini, karena sudah lama menanam ‘investasi politik’.

Selain itu, partai besar juga menonjolkan figur yang kuat dan pastinya punya pengaruh di masyarakat. ”contohnya Golkar, punya tokoh berpengaruh, almarhum HA Sulaiman HB. Begitu juga PPP, sosok H Rudy Ariffin yang mantan Gubernur Kalsel 2 periode juga tak kalah berpengaruh,” ungkapnya.

Demikian pula keberadaan H Mardani H Maming mantan Bupati Tanah Bumbu yang juga pengusaha muda ini di PDIP, menurutnya, sebuah kekuatan yang tidak gampang untuk digeser.

Baca Juga: Lanjutan Situng KPU untuk Pilpres

Tidak demikian dengan partai baru. “Partai baru sulit diterima masyarakat Kalsel. Karena kecenderungan masyarakat yang tidak mudah menerima hal baru termasuk soal politik. Fanatisme masyarakat terhadap partai lama masih cukup kuat,” sambungnya.

Platform partai-partai baru, menurut Varinia, justru diragukan masyarakat Kalsel yang cenderung agamis. “Misalnya isu kebhinekaan yang diusung PSI sulit menembus pemikiran masyarakat daerah ini yang cenderung agamis. Juga isu bahwa PSI akan berupaya untuk menghapus perda syariah, hal ini semakin menguatkan masyarakat Kalsel untuk tidak memilih partai ini,” ungkap Varinia.

Selain itu Partai Perindo yang juga baru pertama kali mengikuti pemilu di 2019 ini, notabene digawangi Hary Tanoe juga sulit menembus pemikiran masyarakat Kalsel. Kendati sejumlah tokoh lokal sudah menduduki jabatan di partai ini hingga tingkat daerah.

Baca Juga: 14 Pejuang Demokrasi di Banjarmasin Selatan Cek Kesehatan

Partai kecil lainnya seperti PKPI sejak awal memang tidak punya basis massa yang kuat di Kalsel. Selain itu tawaran platform partainya juga tidak jauh berbeda dengan partai-partai besar, sehingga masyarakat lebih memilih partai besar, “toh ‘jualannya’ sama saja: Nasionalisme. Sehingga masyarakat tidak menemukan hal baru pada partai tersebut,” pungkasnya.

Reporter: Ahya Firmansyah
Editor: Syarif

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Politik

Materi Kampanye Tersebar, Sosok Pendamping Denny Indrayana Menguat
apahabar.com

Politik

Ratna Sarumpaet Diadili Hari Ini
apahabar.com

Politik

Pilkada Banjarbaru: Petahana Belum Dapat Lampu Hijau PKB
apahabar.com

Politik

PKS Hormati Pertemuan Jokowi dengan Prabowo dan SBY
apahabar.com

Politik

Pilgub Kalsel, Gerindra Menanti Rekomendasi Pusat
apahabar.com

Politik

Anak Muda Turut Warnai Dunia Politik Tanah Air
apahabar.com

Politik

Jadwal Lengkap Debat Capres-Cawapres 2019
apahabar.com

Politik

Sinyal Nasdem Untuk Saidi Mansyur di Pilkada Banjar
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com