3 Kali Diskor, Sidang Perdana Netralitas ASN Camat Aluh Aluh Berlangsung hingga Malam Sisa 85 Hari Jadi Bupati, Sudian Noor Doyan Bikin Kebijakan Kontroversial Diam-Diam, Adaro Kepincut Proyek Coal to Methanol di Kotabaru, Apa Kata Dewan? Kubah Datu Kelampaian Kembali Ditutup, Simak Penjelasan Zuriyat Gelapkan Penjualan Motor, Supervisor Marketing PT NSS Tabalong Diamankan Polisi

Puluhan Hektare Sawah di Tapin Terancam Gagal Panen

- Apahabar.com Minggu, 7 April 2019 - 07:00 WIB

Puluhan Hektare Sawah di Tapin Terancam Gagal Panen

Lahan pertanian di Desa Sabah Kecamatan Bungur Kabupaten Tapin. Foto-apahabar.com/Nasrullah

apahabar.com, RANTAU – Puluhan hektare (Ha) sawah di Kabupaten Tapin terancam gagal panen. Diduga aliran air yang mengairi sawah warga itu tercemar limbah tambang batu bara. Selain limbah, serangan hama wereng yang mematikan tanaman menjadi ancaman lain.

Pantauan apahabar.com, warna air yang mulanya cokelat kekuning-kuningan sejak beberapa hari terakhir ini menjadi hitam. Terlebih manakala hujan mengguyur.

Baca Juga: Namanya Disebut Masuk Kabinet Jokowi, Mardani H Maming: Banyak Tokoh Kalsel yang Lebih Pantas…

Padahal, warga di sana menggunakannya sebagi sumber penghidupan sehari-hari, juga untuk bertani dan berkebun.

Kondisi ini dibenarkan Amang Fahri, anggota Komunitas LSM Bestari Tapin. Dia agak sangsi jika hasil tanam padi warga bakal maksimal.

“Petugas penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian dan Hortikultura nyaris tak pernah turun mendampingi petani untuk menyingkapi permasalahan,” kata dia kepada apahabar.com.

Selain di areal persawahan, limbah tambang ini kerap mengeluarkan aroma menyengat. Karenanya, sebagian warga takut menggunakan air untuk mandi, cuci, kakus atau MCK.

“Tak bisa lagi digunakan untuk proses MCK karena sudah tercemar,” ujar Amang.

Soal Hama Wereng, Sekretaris Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tapin Aji Budiono angkat bicara. Pihaknya dalam waktu dekat akan memberikan pestisida ke para kelompok tani.

“Nanti kita berikan kepada kelompok tani mereka,” ujarnya didampingi Kasi Perlindungan Tanaman Pangan, Deden kepada apahabar.com.

Setiap kelompok tani akan diberikan masing-masing 5 liter. Yang takarannya dalam 1 liter diperuntukan untuk lahan padi seluas 1 hektar.

Namun karena pestisida sifatnya barang hibah, kata dia, perlu dibuatkan surat permohonan lebih dulu oleh kelompok tani setempat.

“Dan ini tergantung peran aktif kepala desa untuk mendorong kelompok desa dalam mengelola potensi hasil pertaniannya,” katanya.

Bagi wereng yang menempel di batang tanaman padi, penanganannya perlu teknik khusus. Saat penyemprotan pestisida mesti dengan pola melingkar, seperti obat nyamuk, untuk setiap petakan sawah.

“Jika menyemprotnya dengan teknik yang umum pastinya tidak merata dalam satu petak sawah hingga tak maksimal mengusir wereng tanaman,” jelasnya.

Menurut pendataan pihaknya, luasan tanaman padi di Desa Sabah itu tidak sampai ratusan hektar. Di daerah itu, kata dia, mayoritas warganya menanam pohon karet.

Selain itu, sawah di Desa Sabah tergolong lambat dalam memasuki masa panen. Sementara di daerah lain di Tapin pada umumnya sudah panen.

Terkait dugaan pencemaran limbanh batu bara, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Tapin, Zain Arifin mengaku sudah menerima laporan.

Mengacu nota kesepahaman atau MoU, mestinya perusahaan terkait sudah melaksanakan clear and clean lebih dulu sebelum menjalankan aktifitas pertambangan.

“Sudah menjadi ketetapan perusahaan tambang di daerah sebelum mereka melakukan aktifitas pertambangannya di areal Hak Guna Usaha agar menyelesaikan lahan areal tambangnya yang berada di tengah masyarakat dan tidak ada sengketa,” katanya kepada apahabar.com.

Menambahkan pernyataan kepala BLH, Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas LH Hermansyah mengaku akan menindaklanjutinya dengan bersurat ke kementerian terkait.

“Selain itu kami akan melakukan konfirmasi ke perusahaan PT. EBL,” katanya kepada apahabar.com.

Hasil konfirmasi sementara ke PT Energi Bestari Lestari bahwa perusahaan itu masih dalam tahap clear and clean dan mengaku belum melakukan aktifitas pertambangan di lokasi sekitar Desa Sabah.

“Mereka sudah melakukan MoU dengan perusahaan lainnya sesuai prosedur administrasi bahkan mendapat dukungan warga masyarakat setempat,” tuturnya.

BLH menduga limbah yang mencemari aliran air persawahan warga berasal dari areal eks tambang batu bara yang sudah ditutup.

“Atau dari resapan jalan khusus batu bara yang kerap dilintasi angkutan bermuatan melebihi tonase sehingga banyak serpihannya berguguran di jalan dan terlindas hingga menyatu dengan jalan, selanjutnya turun hujan hingga membasahi badan jalan dan airnya mengalir ke bawah,” katanya kepada apahabar.com.

Baca Juga: Beralih ke Umbi-umbian, Pemprov Kalsel: Itu Bagus

Reporter: Nasrullah
Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Polisi Tegur Keras Pengunjung dan Pedagang Pasar Kindai Limpuar yang Tak Pakai Masker
apahabar.com

Kalsel

KNPI Banjarmasin Peduli, Salurkan 5.000 Paket Sembako
Waspada Hujan Lebat, Muncul Petir dan Angin Kencang

Kalsel

Waspada Hujan Lebat, Muncul Petir dan Angin Kencang
apahabar.com

Kalsel

Terkendala Dana, Restoran Apung Milik Pemkot Banjarmasin Terancam Gagal
apahabar.com

Kalsel

ABK Trans Power Lenyap di Sungai Barito, Relawan Temukan Alat Selam
apahabar.com

Kalsel

Polda Kalsel Bagikan 5.544 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Corona

Kalsel

VIDEO: Intip Kemeriahan Konser Pasha Ungu di Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

WBK, Solusi Minimalisir Peredaran Narkoba dari Balik Bapas
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com