Kontroversi Pencopotan Sekda Tanah Bumbu, Ombudsman: Jangan Lampaui Kewenangan Live Mola TV! MU vs Chelsea di Liga Inggris, Prediksi Skor, Line up dan Link Streaming Siaran Langsung Pembantai Tetangga di Kelumpang Kotabaru Diancam Penjara Seumur Hidup! ANEH, 3 Proyek Jembatan di Banjarmasin Jalan Terus Walau Tanpa IMB Seruan Tokoh Tanah Bumbu: Pendukung SHM-MAR Jangan Ikut Sebar Hoaks dan Fitnah

Sejarah Pulau Kembang (1); Masyarakat Percaya Kera di Sana Jelmaan Makhluk Gaib, Benarkah?

- Apahabar.com Senin, 15 April 2019 - 08:46 WIB

Sejarah Pulau Kembang (1); Masyarakat Percaya Kera di Sana Jelmaan Makhluk Gaib, Benarkah?

Kera di Pulau Kembang. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Sebagian masyarakat sekitar mempercayai bahwa kera yang terdapat di Pulau Kembang, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel) adalah jelmaan dari makhluk gaib. Benarkah?

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya Kalimantan (LKS2B), Mansyur mengutip pendapat Idwar Saleh (1981-1982) yang menyebutkan, terdapat dua versi terkait pandangan tersebut.

Pertama, disebutkan tanah yang baru muncul di permukaan air itu mengambang (meluap/meluap), sehingga Pulau Kembang juga dinamakan ‘Pulau Maluap’.

Versi kedua, lanjut Mansyur, setelah pulau ini muncul di permukaan air dan ditumbuhi hutan, pulau ini menjadi kediaman atau habitat kera.

“Masyarakat sekitar pun menganggap bahwa kera-kera tersebut merupakan jelmaan dari makhluk-makhluk gaib atau orang halus, yang memakai sarungan kera,” katanya.

Kelompok kera tersebut kala itu, lanjut Mansyur, dipimpin kera berukuran besar yang bernama (diberi nama, red) si Anggur. Pulau tersebut kemudian dijadikan sebagai tempat orang melakukan ritual semacam nazar.

“Tak jarang, orang yang datang ke pulau itu membawakan sesajen seperti pisang, telor, nasi ketan dan sebagainya,” tutur Mansyur.

Sesajen ini, lanjut Mansyur, biasanya disertai mayang pinang dan kembang-kembang. Mayang dan kembang tersebut kemudian diberikan kepada kawanan monyet. Karena itulah, menurut dia, pulau tempat orang berhajat dan menabur kembang ini akhirnya disebut penduduk sekitar dengan nama ‘Pulau Kembang’.

Pulau Kembang, tambah dia, bagi para meneer Belanda disebut Apeneiland. Pulaunya para kera. Bukan pulau monyet atau “monkeys”. Perbedaan kera dengan monyet dapat dilihat dari klasifikasi ilmiah ataupun dari perbedaan ciri-ciri tubuh.

Mansyur menyebutkan, berdasarkan klasifikasi ilmiah, kera (apes) dan monyet (monkeys) berasal dari sub-famili berbeda. Kera berasal dari superfamili Hominoidea. Sementara monyet (monkeys) termasuk superfamili Cercopithecidae dengan satu famili yakni Cercopithecidae.

“Secara fisik, perbedaan antara kera dan monyet paling kentara dan mudah dikenali adalah keberadaan ekor,” ujar dia.

Literatur sejarah hanya mencatat bagaimana terbentuknya ‘Pulau Kembang’, namun dari mana datangnya kera, belum dapat dipastikan.

Baca Juga: Sejarah Amerongen (1); Kampung di Banjarmasin yang Terinspirasi Eksotisme Negeri Tulip

Baca Juga: Masjid Raya Sabilal Muhtadin (1), Begini Sejarah Dibangunnya

Baca Juga: Sejarah Kampung Basirih; Asal Nama Hingga Suku Pertama yang Menghuni Wilayah Itu

Baca Juga: Catatan Sejarah dari Kampung Tua Banjar Sungai Jingah

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Muhammad Bulkini

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Pemprov Kalsel Bantu Logistik untuk Korban Banjir di Kotabaru
apahabar.com

Kalsel

Meski Dukung Sahbirin-Muhidin, Dua Konfederasi Buruh Kalsel Tetap Pressure Pemerintah

Borneo

Rencana Kartu Nikah, DPRD Kalsel Bakal Panggil Kemenag Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Sisir Pedagang Pasar, Kapolsek Berikan Sosialisasi dan Edukasi Protokol Kesehatan
apahabar.com

Kalsel

Unik! Sambut HUT RI ke-74, Kades Sungai Rangas Siapkan Lomba Tangkap Bebek
apahabar.com

Kalsel

Di Tanbu, Orang Meninggal Masih Diundang Nyoblos
apahabar.com

Kalsel

Upayakan Memutus mata rantai Covid-19, Nasdem HST Semprot Disinfektan dan Bagikan Masker
apahabar.com

Kalsel

Batal Maju di Pilkada, Guru Khalil Belum Putuskan Kembali ke Ponpes
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com