Malam Lebaran, Kebakaran Gegerkan Warga Kuin Banjarmasin! Ngenes! Mau Tutup, Pengunjung Duta Mall Banjarmasin Malah Menurun H-1 Lebaran, Puluhan Pemudik Diputarbalik di Pos Penyekatan Tabalong! Buat Jalur Khusus Jemaah, Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin Gelar Salat Ied Hore! Remisi Lebaran Warga Binaan di Kalsel Diusulkan Bertambah, Segini Jumlahnya

Dua Solusi Wapres JK untuk Perbaiki Pemilu Indonesia

- Apahabar.com Senin, 13 Mei 2019 - 14:59 WIB

Dua Solusi Wapres JK untuk Perbaiki Pemilu Indonesia

Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan pernyataan pers di Kantor Wapres Jakarta, Senin (13/4/2019). Foto – Antara/Fransiska Ninditya

apahabar.com, JAKARTA – Ratusan petugas penyelenggara Pemilu 2019 meninggal dunia menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk melaksanakan pesta demokrasi berikutnya yang lebih baik. Ada dua solusi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kelemahan sistem Pemilu 2019.

Dua hal itu disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Evaluasi pertama yang harus dilakukan kata JK, adalah pemisahan jenis pemilu dan sistem pileg proporsional tertutup.

“Evaluasinya dua itu, bahwa jangan disatukan, kemudian jangan lagi (proporsional) terbuka supaya yang dihitung hanya partainya. Supaya partai juga memilih orang yang baik, karena banyak isu tentang biaya yang besar,” kata Wapres JK kepada wartawan di Kantor Wapres Jakarta, seperti dilansir Antara, Senin (13/5/2019).

Menurut JK, salah satu penyebab banyaknya penyelenggara dan petugas pemilu meninggal dunia adalah rumitnya penghitungan perolehan suara pileg DPR, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten.

Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) harus mencatat perolehan suara dari setiap caleg di setiap entitas pileg, apakah itu tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten.

“Yang paling berat sebenarnya tiga sistem yang tergabung itu, sehingga makin banyak. Kedua, sistemnya terbuka, sehingga nama pun harus dicatat, sehingga butuh waktu bagi mereka bekerja lama sekali,” jelasnya.

Selain itu, lanjut politikus senior Partai Golkar itu, jumlah partai politik yang menjadi peserta di Pemilu 2019 bertambah dibandingkan Pemilu 2014. Akibatnya, waktu yang diperlukan petugas KPPS untuk menghitung perolehan suara caleg juga lebih lama.

“Jadi yang terberat sebenarnya bukan pilpresnya, yang terberat justru pileg itu karena sistemnya terbuka. Jadi (sekarang) 16 partai, dulu cuma 10 partai, jadi bertambah lebih 60 persen,” katanya.

Oleh karena itu, evaluasi terhadap penyelenggaraan Pemilu 2019 perlu dilakukan untuk memperoleh sistem terbaik di pemilu berikutnya yang sesuai dengan kondisi Indonesia.

Baca Juga: CSIS : Kepuasan Kinerja Jokowi-JK Masih Tinggi

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Dewan Pers: Kode Etik Jurnalistik “Mahkota” Bagi Wartawan
Video Syur

Nasional

Polisi: Gisel dan Nobu Berhubungan Intim karena Suka Sama Suka
Awal Ramadhan, NU Masih Menunggu Hasil Pengamatan Hilal

Nasional

Awal Ramadhan, NU Masih Menunggu Hasil Pengamatan Hilal
apahabar.com

Nasional

Jokowi: Indonesia Butuh Pahlawan Pemberantas Kemiskinan
apahabar.com

Nasional

Jayapura Diguncang Gempa Bumi 4,6 SR
apahabar.com

Nasional

Api Diduga dari Ruang Kebugaran
apahabar.com

Nasional

Jokowi Minta Rencana Detail Vaksinasi Covid-19 Siap dalam 2 Pekan
apahabar.com

Nasional

Ilmuwan Universitas Utrecht Temukan Antibodi Penghambat Virus Corona
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com