Pemilu Ulang di Banjarmasin Selatan, Cucu Habib Basirih Pinta Jauhi Politik Uang H-2 Ramadan, Distribusi Elpiji di Kalsel Macet Lagi Gara-Gara Jalan Rusak Terungkap! Alasan Oknum Pemuda LAS HST Hina Buser yang Tenggelam di Banjarmasin Sadarkan Diri, Dokter Ungkap Kondisi Terkini Echa Si Putri Tidur Banjarmasin POPULER SEPEKAN: Waspada Air Pasang, Ambruknya Pasar Ujung Murung, hingga Viral Putri Tidur

FK Unram Temukan Bayi Tanpa Anus Dampak Merkuri dari Peti di Sumbawa

- Apahabar.com Jumat, 24 Mei 2019 - 07:00 WIB

FK Unram Temukan Bayi Tanpa Anus Dampak Merkuri dari Peti di Sumbawa

Kawasan kebun sagu yang terkena limbah merkuri di Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku, Rabu (28/11/2018). Penambangan emas ilegal dengan menggunakan merkuri dan sianida di kawasan itu mengakibatkan kebun sagu seluas 40 hektare mengalami kerusakan. Foto – Antara/Rivan Awal Lingga/wsj

apahabar.com, MATARAM – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat (NTB), menemukan bayi tanpa anus sebagai dampak dari penggunaan merkuri di Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kawasan Sumbawa Barat.

Dampak PETI ini, kelainan bawaan misalnya ada bayi yang tidak ada jari-jarinya di tangan, tidak ada anusnya, bahkan ada yang tidak mendengar, kata Dr Hamsu Kadryan Dekan FK Unram di Mataram, seperti dilansir Antara, Kamis (23/5/2019) malam.

Baca Juga: Polri Tangkap 442 Perusuh Aksi Damai 22 Mei, 4 Orang Positif Narkoba

Hal itu, kata dia, akan menjadi masalah kelak ketika mereka sudah menjadi besar khususnya dalam bersosialisasi.

Dia yang spesialisasi Tenggorokan, Hidung Telinga (THT) itu juga menyatakan pihaknya menemukan para pelaku PETI usia muda, terganggu pendengarannya akibat bisingnya mesin penambangan tersebut.

Hal itu, disebutkan merupakan hasil penelitian secara sporadis alias belum dilakukan secara global.

Sementara itu, Wakil Ketua Nexus3 Foundation Yuyun Ismawati Drwiega, menyebutkan paling tidak terdapat 4 sentra pengolahan dari hasil PETI di Sumbawa Barat yang bebas menggunakan merkuri tersebut seperti di Barea dan Lamonga.

Itu menjadi ‘booming’, mereka bisa bebas membeli zat merkuri itu di pasaran, katanya.

“Home industri ini dampaknya fatal tapi dibiarkan, 1 botol kecil harga merkuri Rp 1,5 juta,” katanya.

Padahal, kata dia, dampak dari penggunaan zat itu tidak bisa hilang serta merta meski mereka telah beralih dalam penggunaannya.

Seperti peristiwa Minamata, Jepang saja membutuhkan waktu 14 tahun untuk bebas dari cairan tersebut.

“Kandungan itu ada di laut, di dapur rumah, bayangkan berapa investasi untuk membersihkannya,” katanya.

Karena itu, pihaknya berupaya terus untuk memerangi penggunaan merkuri di PETI.

Sebelumnya, Amman Mineral, Universitas Mataram & Nexus3 Foundation tandatangani MoU penanganan masalah di kawasan PETI NTB

Amman Mineral Nusa Tenggara (“Amman Mineral”) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Universitas Mataram dan Nexus3 Foundation (sebelumnya dikenal sebagai BaliFokus Foundation) untuk pemantauan dan penanganan dampak lingkungan, kesehatan, sosial, dan ekonomi di kawasan-kawasan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah NTB.

Baca Juga: Pasca Kerusuhan, Situasi Pontianak Kembali Normal

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Ketua KPK Firli Bahuri Dapat Sanksi Ringan, Berikut Penjelasan Dewas
apahabar.com

Nasional

Erupsi Gunung Merapi Masih Didominasi Gas
apahabar.com

Nasional

Hari Ini, Umat Muslim di Pesantren Mahfilud Dluror Jember Berlebaran
apahabar.com

Nasional

Istri Ifan Seventeen di Belakang Panggung Saat Tsunami Menerjang
Vaksinasi Covid-19

Nasional

Kemenkes Target Vaksinasi Covid-19 Selesai Akhir Tahun
apahabar.com

Nasional

Pesawat C-130 Hercules Jatuh di Papua, Cek Faktanya
Update Corona, Bintang Film hingga Pemain Juventus Terinfeksi

Nasional

Update Corona, Bintang Film hingga Pemain Juventus Terinfeksi
apahabar.com

Nasional

Aktif Ikut Kampanye, Kepala Sekolah Ini Divonis 4 Bulan Penjara
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com