Breaking News! Warga Tangkap Buaya Pemangsa di Pantai Kotabaru Siap-Siap, Ditlantas Polda Kalsel Bakal Uji Coba Tilang Elektronik Usai Banjir Siapkan Hunian Layak, Polda Kalteng Bangun Rusun Bagi Anggota BPPTKG: Volume Kubah Lava Merapi Masih Tergolong Kecil Sedikit Surut, Puluhan Rumah di Martapura Masih Terendam Banjir

Hukum Puasa Ramadan bagi Pekerja Berat

- Apahabar.com Selasa, 14 Mei 2019 - 06:30 WIB

Hukum Puasa Ramadan bagi Pekerja Berat

Pekerja berat. Foto-Antaranews.com

apahabar.com, JAKARTA – Setiap Muslim yang telah memenuhi syarat wajib menjalankan puasa Ramadan. Namun, bagaimana dengan seorang pekerja berat yang tidak bisa meninggalkan profesinya?

Menjawab hal itu, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Yunahar Ilyas memberikan penjelasan. Menurut dia, hukum berpuasa bagi para pekerja berat sudah tercantum di dalam kitab suci Alquran. Bagi seorang pekerja berat yang tidak bisa berpuasa Ramadan, maka wajib mengganti puasanya itu pada hari di luar Ramadan.

Baca Juga: Batalkah Puasa Orang yang Menyelam?

“Hukumnya boleh atau rukhsah. Artinya, dia tetap (wajib) puasa. Kalau kuat (berpuasa), bagus, tapi kalau enggak, ya diizinkan (mengganti di hari lain Ramadhan -Red),” kata Yunahar seperti ditulis Republika.

Apabila seorang pekerja berat tak bisa mengganti puasanya pada hari lain di luar Ramadhan, maka dia wajib membayar fidiah. Terkait ini, Yunahar mengutip uraian Syekh Muhammad Abdul.

Sang syekh memberi contoh pekerja berat, yakni buruh yang bekerja di tambang. Bila sang buruh tidak bisa mengganti puasa selama sebulan di hari-hari lain luar Ramadhan, maka dia boleh membayar fidiah. Untuk mengganti satu hari puasa, maka dia mesti memberi makan orang miskin satu hari porsi makan.

Baca Juga: Sudahkah Mencontoh Rasul dalam Berpuasa?

“Membayar fidiah sehari sekali bisa, sekali seminggu, atau sekali sebulan. Yang penting, satu hari puasa memberi makan satu orang miskin satu hari makan,” papar Yunahar.

Ulama kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, itu menyebut tidak ada kriteria pekerjaan berat yang diperbolehkan mengganti hanya dengan membayar fidiah. “Seorang Muslim harus jujur dengan kemampuannya masing-masing menjalankan ibadah puasa. Dinilai sendiri saja, tergantung kejujuran saja.Kan dia sendiri yang lebih tahu, berat atau tidak,” tutup Waketum MUI Pusat itu.

Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hikmah

Komunikasi Anak-Ayah dalam Alquran dan Pembuktian Psikologi
apahabar.com

Hikmah

Menelan Ingus Saat Puasa, Batalkah?
apahabar.com

Hikmah

6 Amaliyah di Awal Bulan Muharram

Hikmah

Mengapa Islam Melarang Nabi Dilukis?
apahabar.com

Hikmah

Benarkan Berhubungan Intim dengan Istri Masa Menyusui Itu Haram?
Pengobatan Ala Nabi Muhammad: Manfaat Henna

Hikmah

Pengobatan Ala Nabi Muhammad: Manfaat Henna
Ini Bukti Cinta Allah kepada Hamba-Nya

Hikmah

Ini Bukti Cinta Allah kepada Hamba-Nya
apahabar.com

Hikmah

Masuk Surga Karena Sepotong Roti
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com