ga('send', 'pageview');
Mantan Anggota DPRD Tanbu Mahyudin alias Udin Kocak Tutup Usia Gejolak Harga Elpiji, Polisi Bongkar Aksi Curang 2 Pangkalan di Banjarmasin Menyelisik Ritual Pemakaman Adat Dayak Meratus: Hamburkan Beras Kuning Agar Keburukan Tak Menyertai Peserta Ritual Sederet Alasan Dua Konfederasi Buruh Dukung Sahbirin-Muhidin di Pilkada Kalsel 2020 Wawali Banjarbaru Dilaporkan ke Bawaslu, Simak Hasil Kajian Gakkumdu

Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi, Sifat Allah Terkandung dalam “Laailaahaillallaah”

- Apahabar.com Senin, 27 Mei 2019 - 09:25 WIB

Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi, Sifat Allah Terkandung dalam “Laailaahaillallaah”

Tuan Guru H Ahmad Zuhdiannoor. Foto-picgra

apahabar.com, BANJARMASIN – Malam ke-22 Ramadan, pengajian bersama Tuan Guru H Ahmad Zuhdiannoor kembali menyambung pembahasan tentang ilmu tauhid.

Seperti biasa, pelaksanaan kajian dilakukan usai tarawih di Masjid Jami Sungai Jingah, Banjarmasin.

Dalam bahasan, Minggu (26/05/2019) malam, Guru Zuhdi, begitu ulama kharismatik ini disapa, mengajarkan mengenai dzat Allah yang memiliki sifat-sifat.

“Dari awal kita telah membicarakan masalah mengenal Allah SWT dengan jalan tauhid (sifat 20), jadi kesimpulannya bahwa mengenal makhluk atau mengenal diri itu; Pertama, yang perlu kita ketahui bahwa diri kita ini baharu, alam semesta pun juga baharu, dan semua yang ada itu adalah baharu,” kata Guru Zuhdi.

Dijelaskan Guru Zuhdi, semua alam itu baharu (baru) artinya sesuatu yang semula tiada menjadi ada, itu dinamakan dengan baru. Berarti kita ini adalah baru, karena yang asalnya tidak ada kemudian menjadi ada.

Hal itu menjadi bukti bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa, karena yang mampu membuat kita menjadi ada itu jelas bukan kekuatan kita, ditambah lagi dengan i’tiqad (keyakinan) yang kedua, bahwa dzat kita yang baru ini tidak memberi bekas.

Baca Juga: Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi, Manusia Sebagai Hamba Tidak Punya Daya Upaya

Baca Juga: Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi, Setiap Perbuatan Makhluk Menunjuk Af’al Allah SWT

“Hal kedua, tubuh kita, dzat kita, tidak memberi bekas, bahkan tenaga kita pun tidak bisa memberi bekas. Itulah hakikat diri, baru dan tidak bisa memberi bekas. Kalau ini bukan pekerjaan kita (sesuatu yang semulanya tiada menjadi ada), berarti ini semua adalah pekerjaan ‘orang’. Orang yang membuat ini (yang mengadakan sesuatu yang semulanya tidak ada menjadi ada) bersifat Jaiz (harus) berbuatnya tergantung dengan kehendaknya, tidak bergantung dengan apa-apa dan tidak bergantung dengan siapa-siapa,” sambung Guru Zuhdi.

Baca juga :  Kalsel Catat 230 Orang Sembuh dari Covid-19, Terbanyak dari Banjarmasin

Guru Zuhdi menerangkan lebih rinci, bahwa apabila Allah SWT ingin membuat sesuatu, pasti jadi. Jika Allah tidak ingin membuat, sekuat apapun usaha dan rencana makhluk, pasti tidak akan terjadi. Itu artinya bahwa Allah itu bersifat jaiz (harus). Karena kehendak Allah itu bebas dari ketergantungan.

Kemudian, sambung Guru, semua yang diciptakan oleh Allah itu pasti mengandung hikmah dan mustahil mengambil faedah (manfaat), ini sudah pernah dibahas pada malam-malam sebelumnya. Artinya Allah SWT menciptakan nur Rasulullah itu pasti mengandung hikmah dan mustahil mengambil faedah, artinya Allah mustahil bergantung dengan nur Rasulullah, bahkan tanpa nur Rasulullah Allah akan tetap kuasa menciptakan sesuatu apapun. Tetapi Allah telah mengambil sebuah jalan yang mengharuskan menggunakan sebab yang nantinya akan melahirkan akibat.

Baca juga :  Cegah Covid-19, Petugas Gabungan Razia Cafe, Billiard hingga Rumah Makan

“Allah yang berbuat menggunakan sebab itu tadi, lalu dinamakanlah pekerjaan Allah itu memiliki hikmah, artinya Allah membuat nur Rasulullah itu hikmahnya karena Allah ingin membuat alam semesta beserta isi-isinya. Tetapi keyakinan kita harus tetap mantap bahwa Allah itu akan tetap kuasa menciptakan alam semesta tanpa nur Rasulullah,” terangnya .

Jadi, kesimpulan bahwa sifat Allah itu ada 20 kemudian pekerjaannya ada 2 ditambah dengan mengenal diri ada 3, maka totalnya menjadi 25 lalu ditambah dengan sifat mustahil dari masing-masing sifat, maka totalnya menjadi 50.

“Semua pembahasan itu terkandung didalam kalimat “laa ilahaa illalah” artinya tidak ada yang pantas menjadi Tuhan selain Allah. Maknanya itu “laa ma’buda bi haqqin illalah” (tiada sesembahan yang Haq kecuali Allah). Maka barang siapa di akhir dari hidupnya mampu mengucapkan kalimat “laailahaillallah” atau ia paham akan isi dari kandungan “laaillahaillallah”, maka itu adalah alamat orang yang dosanya telah di ampuni oleh Allah,” pungkas Guru Zuhdi.

Baca Juga: Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi: Memahami Pertolongan Allah

Baca Juga: Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi: Dzat Allah SWT Bersifat Qiyamuhu Taala Binafsihi

Reporter: Ahya Firmansyah
Editor: Muhammad Bulkini

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ceramah

Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi: Memahami Pertolongan Allah
apahabar.com

Ceramah

Salat Melihat Rasul, Bagaimana Praktiknya?
apahabar.com

Ceramah

Ini Golongan yang Tidak Dapat Keutamaan Nisfu Sya’ban
apahabar.com

Ceramah

Nasehat Gus Mus ‘Menyikapi’ Covid-19
apahabar.com

Ceramah

Ikhlas dan Kasih Sayang, Spirit Revolusi Mental Ala Rasulullah
apahabar.com

Ceramah

Jangan Khawatirkan Majelis Taklim
apahabar.com

Ceramah

Cara Mudah Meyakini Isra Mikraj, Begini Penjelasan Syekh Mutawalli Asy Sya’rawi
apahabar.com

Ceramah

Ibunda Rasulullah SAW Pernah Bermimpi akan Bahayanya Penyakit Hasad
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com